Siswa sekolah dasar belajar di kantor Geusyik, tidak ada meja dan bangku. Duduk menulis dan membaca di lantai. Dibangun dari dana kutipan pajak gampong. Bagi yang menjual dan mengeluarkan kekayaan alam gampong ke luar kampung diminta membayar pajak digunakan untuk kebutuhan umum.

Banyak sumber daya alam di Gampong ini, seperti kandungan besi di gunung Cumok, batu gunung, kayu, pasir, nilam, sayur-sayuran. Di jual ke luar, penjual membayar distribusi sedikit uang bagi kepentingan gampong, ucap Zainuddin, Geusyik Lapeng Pulo Aceh, Aceh Besar, Sabtu (19/7).

“Kami sangat membutuhkan fasilitas umum yang belum ada, seperti rumah sekolah, pukesmas pembantu, tanggul, dermaga, bale nelayan,” ucapnya kepada Tuho saat berkunjung ke gampongnya.

Ada anak muda di sini tidak bisa baca tulis, gampong kami tidak tersentuh oleh pembangunan sumber daya manusia. Terpencil dan masih terisolir, kehidupan malam warga gelap gulita. Jika sakit mendadak, tidak ada perawat dan pukesmas pembantu yang siap membantu kesehatan warga. “Sering warga sakit, hanya berharap pada Allah supaya dipanjangkan umurnya”, ucap Zainuddin.

Dana itu akan digunakan untuk kebutuhan pendidikan anak-anak, dengan membeli baju, buku, alat tulis dan tas oleh masyarakat. Tahun 2005-2006 lalu ada bantuan sekolah dari JKMA Aceh mendirikan sekolah bagi anak-anak di sini. Sekolah darurat yang dibangun JKMA tidak berfungsi lagi. Sekarang inisiatif warga menyekolahkan anak-anaknya dengan memakai ruang kantor gampong. “Program JKMA itu hanya berlangsung selama setahun,” tambah Zainuddin.

Waktu kami minta dua lokal sekolah dasar pada Camat, dia mengangguk akan membangun. Berapa lama kami tunggu, tidak kunjung juga dibangun gedung sekolah.

Hal senada juga dikatakan oleh Zakaria, gampong kami tidak ada dalam kamus dan peta. Saya berasal dari Pasi Lhong, sekitar 64 tahun lalu kawin dengan warga Lapeng. Setelah tsunami penduduk tinggal 130 jiwa, banyak pindah ke jantho mengungsi. Warga tidak mau pulang lagi, disana mereka menyekolahkan anak-anaknya, karena disini tidak ada rumah sekolah. Lapeng menjadi sangat terpencil ucapnya.

Seperti hari-hari yang sering dilalui saat bulan puasa, semua gampong melaksanakan shalat taraweh, disini tidak ada taraweh, karena tidak Imam taraweh. Tolong dicari Ustad dan Teungku untuk menjadi Imam taraweh bulan puasa tahun ini pesannya. “Tidak ada orang yang berpendidikan di sini,” ucap Zakaria, Ketua Tuha Peut gampong Lapeng dengan sangat berharap.

Lain lagi cerita Fadilla, ibu guru yang menjadi relawan mengajar anak-anak seusia SD di gampong Lapeng mengatakan, ada 18 orang siswa lagi belajar di Kantor Geusyik.

Dibayar gaji bulanannya oleh masyarakat sebesar Rp700 ribu/bulan. Tidak ada orang yang melihat nasib pendidikan anak gampong, pejabat sibuk mempertahankan dan menumpuk kekayaannya. Disini anak-anak umur sekolah tidak bersekolah lagi, mereka jak kawe being (mencari kepiting) ucap ibu muda ini.

“Saya mengajar di sini sendiri, kasihan melihat pendidikan anak-anak Lapeng, tidak seperti anak-anak di Aceh”, ungkap Fadilla.

Ibu guru tamatan SMA ini, berasal dari Aceh Selatan bekerja menjadi relawan atas dasar kesedihan melihat pendidikan anak-anak gampong yang tidak mendapatkan pendidikan dari Negara.

Fadilla menambahkan, seandainya ada rumah sekolah di kampung terpencil ini, ada sekitar 40-an orang siswa.
Sementara itu Drs. Sulaimi, camat Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar mengatakan benar di Lapeng belum rumah sekolah. Saat ditanya gampong belum masuk listrik. Sulaimi menjawab ada empat wilayah di Pulo tidak ada PLN negara, yaitu Deudap, Alue Raya, Lapeng dan Meulingge, ucap Sulaimi, Minggu (10/8) di sekretariatan Pulo Aceh, Punge Banda Aceh.

Sulaimi mencontohkan seperti pembangunan rumah sekolah di Deudap. Ada enam belas ruangan, delapan belas orang murid dan delapan orang guru pengajar. Guru dengan murid lebih banyak gurunya. Satu hal lagi banyak guru menetap di Banda Aceh, karena pemerintah tidak memperhatikan nasib mereka. Pulang pergi mengajar ke Pulo, membutuhkan dua kali lipat biaya, ucap Drs. Sulaimi.

Pulo Aceh dikelilingi oleh laut, dua jam perjalanan dari Banda Aceh. Sebanyak 17 gampong, dibagi tiga kemukiman yaitu mukim pulo nasi, mukim pulo breah utara dan mukim pulo breah selatan. Saat ini jumlah penduduknya sekitar 5.600 jiwa. Bermukim di dua pulau yaitu pulau nasi dan pulau breah, kata Sulaimi.[]

Laporan Bahagia Ishak [Publikasi Majalah Tuho]

Sumber: http://bahagia-ishak.blogspot.com/2009/12/siswa-hana-sikula-jak-kawe-being.html