Rumoh Aceh

Rumoh Aceh

Beragam corak bangunan di Nanggroe Aceh Darussalam menampakkan kekhasan budaya Aceh. Kendati beragam, corak rumah di Aceh tidak terlepas dari sendi Islamiah. Hal ini dapat kita lihat pada perabung atapnya yang selalu didirikan menghadap kiblat. Napas Islami yang lain dapat kita lihat pada rumah adat Aceh yang terdapat di kampung pedalaman atau di meusium. Rumah Aceh bertiang genap dan beratapkan daun rumbia. Sebatang balok yang dipajang melintang di depan pintu adalah sebuah kesengajaan untuk menjadikan adab dalam bertamu. Dengan adanya sebatang balok itu, tamu yang ingin masuk ke rumah Aceh pastilah menundukkan kepala. Secara adab, ini telah menunjukkan kesopanan. Demikian halnya dengan tuan rumah, ketika menyambut tamu di luar, dia akan melangkah seraya menundukkan kepala agar tidak terantuk dengan balok di atas pintu. Menundukkan kepala saat bertemu merupakan anjuran kesopanan. Betapa Aceh sangat menjungjung tinggi adab bertamu. tuhoe akan mengajak Anda melintas sekilas di rumah kebanggaan ureueng Aceh itu.

Mengenal Bagian Rumah Aceh

Secara umum rumah Aceh dibagi atas tiga bagian:

Pertama; ruang depan atau disebut seuramo reunyeun (serambi depan). Ruangan ini tidak berkamar-kamar dan pintu masuk biasanya terdapat di ujung lantai di sebelah kanan. Namun, ada yang membuat pintu menghadap ke halaman dan tangganya di pinggir lantai. Dalam kehidupan sehari-hari ruangan ini berfungsi untuk menerima tamu, tempat tidur-tiduran anak laki-laki, dan tempat anak-anak belajar mengaji. Pada saat-saat tertentu semisal ada upacara perkawinan atau kenduri lainnya, ruangan ini dipergunakan untuk makan bersama.

Kedua; ruang tengah atau disebut rumoh inong. Ruangan ini memiliki lantai lebih tinggi dari seuramoe. Rumoh inong dianggap suci dan sifatnya sangat pribadi. Di ruangan ini terdapat dua buah bilik atau kamar tidur yang terletak di kanan kiri, biasanya menghadap Utara atau Selatan dengan pintu menghadap ke belakang. Di tengahnya terdapat gang yang disebut rambut. Fungsi rumoh inong untuk tidur kepala keluarga dan tempat tidur anak gadis. Jika anak perempuan kawin, dia akan menempati rumoh inong, sedangkan orang tuanya pindah ke anjong. Apabila anak permpuan yang kawin dua orang, orang tua akan pindah ke seuramo likot. Ini akan tetap berlangsung selama belum dapat membuat rumah baru atau menambah/ memperlebar rumahnya. Rumoh inong juga digunakan untuk tempat bersanding. Begitu pula jika ada kematian, rumoh inong di pergunakan sebagai tempat untuk memandikan mayat.

Ketiga; ruang belakang atau disebut seuramo likot. Lantai seuramoe likot sama tinggi dengan seuramo reunyeun serta pula tidak berbilik (kamar). Fungsi ruangan ini sebagian dipergunakan untuk dapur dan tempat makan, ini biasanya terletak di bagian Timur. Selain itu dipergunakan untuk berbincangbincang parawanita serta melakukan kegiatan sehari-hari seperti menenun, menyulam dan sebagainya.

Balai Museum

Balai Museum

Balai Meusium
Balai pertemuan yang terdapat di samping kanan rumah meusium didirikan membentuk kerucut serupa “bu kulah” (nasi bungkus). Corak bangunan ini memang diambil dari cara orang Aceh membungkus nasi untuk acara kenduri adat. Adapun nasi bungkus (bu kulah) biasanya dibuat orang dalam acara kenduri adat seperti kenduri laot, kenduri blang, kenduri meulod, jok bu aneuk yatim, dan sejenisnya.

Lonceng besar “Cakra Donya”

Lonceng besar “Cakra Donya”

Lonceng Besar “Cakra Donya”
Lonceng tersebut merupakan bukti peninggalan sejarah, hadiah kerajaan China untuk Aceh pada tahun 1414.

Rumah Cut Nyak Dien

Rumah Cut Nyak Dien

Rumah Cut Nyak Dien
Rumah Cut Nyak Dien adalah salah satu contoh corak rumah adat Aceh pada masa lalu. Situs sejarah yang satu ini terletak di desa Lampisang, kecamatan Pekan Bada, Aceh Besar. Di rumah itu dahulu, Cut Nyak Dien berlindung dan menyusun strategi perang, di rumah itu pula orang-orang berlindung saat gelombang tsunami menerjang.


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi II, Juli 2007

Foto: Dok. JKMA Aceh