tuhoe 14 seumeuloh kerajaan acehSecara historis disebutkan bahwa Aceh dulunya berbentuk kerajaan, berdaulat, dan tidak tun­duk apalagi takluk di bawah kekuasaan asing. Beda dengan kini, Aceh hanya menjadi bagian dari se­buah wilayah yang disebut provinsi. Aceh kini adalah Aceh yang takluk pada pemerintahan sentralistik, mes­ki dulu ia sebagai daerah yang berdaulat dengan send­irinya.

Mencermati hasil penelitian Denys Lombard, membu­ka kembali cakrawala masyarakat pembaca terhadap Aceh masa lalu sembari menikmati Aceh masa kini. Buku setebal 408 halaman itu merupakan disertasi ilmiah Lombard terhadap sejarah Aceh sepanjang za­man Sultan Iskandar Muda. Asumsi awal bahwa Aceh masa Iskandar Muda adalah sebuah kuasa berdaulat dan makmur menjadikan Lombard tertarik mengada­kan penelitian tentang Aceh.

Penelitian yang sudah dibukukan oleh Penerbit KPG ini dipilah dalam beberapa bagian. Bagian awal menceri­takan tentang muasal nama “Aceh” itu sendiri, kemu­dian sejarahnya, hingga persoalan kebudayaan. Pada bagian penutup, Lombard memaparkan juga perihal kerja sama Aceh dengan beberapa negara luar. Sangat fantastis!

Sebagai sebuah penelitian ilmiah, tentu saja buku ini memuat berbagai referensi tentang Aceh, terutama masa-masa Kerajaan Iskandar Muda. Di antara sumber yang diambil berupa hikayat-hikayat yang ditulis dalam bahasa Melayu seperti Bustan us-Salatin, Taj us-Sala­tin, Hikayat Aceh, Adat Aceh. Selain itu, tercatat pula sejumlah sumber dari Eropa, Cina, dan lain-lain.

Karena buku ini menceritakan Aceh masa Iskandar Muda, Lombard membongkar habis kehidupan Raja Aceh itu, mulai masa kanak-kanak, remaja, hingga be­rakhirnya masa berkuasa. Tak ketinggalan watak Iskan­dar Muda yang tidak stabil.

“Iskandar Muda boleh disangka kadang kala bahkan menuruti keinginannya untuk melampaui batas,” be­gitu sekilas ungkapan Lombard yang dikutipnya dari Beaulieu (hlm.241). Pada halaman ini pula dibeberkan watak Iskandar Muda yang mengalami gangguan saraf oleh sebab patologis.

Soal sistem pemerintahan masa Iskandar Muda, ter­masuk pengelolaan sistem dagang, juga diungkapkan dalam buku terbitan tahun Januari 2007 ini. Di sana dinyatakan bahwa Aceh masa lalu memiliki kekayaan rempah-rempah yang aneka ragam. Pajak perdagan­gan kala itu dikenakan sebesar 10 persen. Tentu saja sistem seperti ini mempengaruhi kemakmuran dan ke­sejahteraan rakyat.

Semakin menarik buku ini untuk dibaca karena diser­tai sejumlah gambar dan keterangan. Selain gambar peta, terdapat pula gambar-gambar mata uang masa lalu, batu-batu, prasasti, gunongan, dan sebagainya. Ditambah lagi dengan naskah kuno yang masih bertu­liskan arab jawoe.

Dalam buku bersampul coklat muda ini juga dipaparkan sumber-sumber pendapatan pemerintahan. Sumber pendapatan kala itu di antaranya dari tanah, laut, dan lingkungan sekitar. Hasil sumber daya alam itu digu­nakan untuk kemakmuran rakyat. Andai sistem seperti ini tetap diterapkan hingga sekarang, bukanlah mimpi kemakmuran itu menjadi keniscayaan?[RN]

Judul Buku: Kerajaan Aceh, Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)
Penulis: Denys Lombard
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia-Ecole fracais d’Extreme-Orient Jakarta
Tebal: 408 hlm., 16 x 24cm
Cetakan II: Januari 2007.


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XIV, Desember 2011