tuhoe 14 mahe guide n tourist (flickr.com_photos_esthet) the touristIlustrasi (Flickr.com/photos/esthet)

Pada suatu hari terdengar kabar tentang keelokan alam Tapaktuan. Di tambah lagi telapak kaki Tuanku Tapa. Kabar tersebut terdengar di telinga bule-bule dari Belanda, Micheal, Fordies, dan Lolita. Mereka baru saja pulang dari Sabang beberapa hari yang lalu. Sekarang mereka hendak kembali ke kampung halamannya di Belanda. Tetapi mereka hendak bermalam lagi di Banda Aceh. setelah itu baru mereka kembali Belanda.

Sampai di Banda, malam itu juga mereka memesan tiket pesawat. Waktu pagi tiba, niat untuk pulang kampung tidak jadi juga, Fordies berbicara pada kawan-kawannya, “ada sebuah tempat legendaris di Aceh yang harus kita kunjungi. Tempat tersebut di Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Tempat ini harus kita kunjungi, kalau tidak rugi sekali kita. Sebab kita sudah sampai di Aceh”.

“iyalah kalau begitu”, jawab kawannya.

Bule-bule tersebut akhirnya pergi ketempat yang telah membuat mereka penasaran. Mereka pergi juga dengan menumpang mobil L-300. “bang ke Tapaktuan ya!!!”, ucap Lolita, bule perempuan yang cantik sekali.

Mendengar kata “Tapaktuan”, bapak supir itupun langsung bercerita panjang lebar tentang keindahan dan keelokan Tapaktuan. Dia bercerita bangga karena dia juga berasal dari Tapaktuan. Mendengar cerita dari bapak supir itu, bule-bule dari Belanda sudah tidak sabar lagi, sudah kepengen sekali melihat seperti apa bentuk tapak kaki Tuan Tapa tersebut.

Bule Belanda itu akhirnya sampai juga di Tapaktuan, karena sudah sangat lapar, singgahlah mereka di sebuah warung nasi di tepi jalan. Setelah selesai makan, Lolita langsung bertanya kepada ibu penjual warung, “Apa ada orang yang bisa membawa kami ke tempat jejak Tuan Tapa?

“Si Samin, keponakan saya yang kelas dua SMA itu sering memandu (menjadi guide) orang ke tempat telapak Tuan Tapa. Coba kalian ajak saja, Samin pun pandai berbahasa Inggris,“ ucap ibu pemilik warung itu.

Dipanggilnya lah si Samin. Akhirnya Samin bersama bule Belanda itu langsung ke tempat yang hendak dituju, ke Bukit Gunung Lampu. Semula, Samin membawa bule-bule tersebut ke sekolah TK (Taman Kanak-Kanak-red) bule-bule tersebut hendak bertanya mengapa dibawa kesitu. Mereka berpikir tapak (jejak-red) Tuan Tapa itu ada di TK.

Masuklah bule itu dengan Samin ke TK tersebut. Sesampainya di dalam, nampaklah sebuah telapak kaki seseorang. Tetapi ukurannya kecil. Samin menjelaskan kepada bule itu tentang telapak kaki yang ada di depan itu. “ inilah dia mister, telapak kaki Tuan Tapa yang legendaris itu. Sebenarnya ada dua telapak kaki Tuan Tapa itu”, ujar Samin.

Tetapi saya baca di sebuah buku, telapak kaki Tuan Tapa itu cuma satu buah, yang ukurannya besar, mengapa pula sekarang ada dua? Tanya Micheal.

“O… itu informasi salah mungkin. Yang benarnya, telapak kaki Tuan Tapa ada dua, yang sebelah kanan dan yang sebelah kiri. Yang sebelah kanan ukurannya besar sekali. Telapak kaki yang sebelah kiri ukurannya kecil. Telapak kaki yang sebelah kanan sudah dibawa sama naga, tinggal lah yang sebelah kiri di sini, “ ucap Samin serius.

Bule-bule itu mengangguk-angguk. “kamu memang luar biasa, orang-orang seperti kamulah yang harus diselamatkan dan diberi penghargaan sebab sudah menjaga sejarah,“ ucap bule yang berpostur tinggi, Micheal.

“Pasti, mister. Di daerah ini, cuma saya yang tahu banyak tentang legenda itu. Yang lain tahu legenda itu lewat buku-buku yang sudah ditulis orang,“ jawab Samin sombong.

Hebat benar kamu Samin, ucap Fordies. Dia langsung mengeluarkan uang dua ratus ribu rupiah. Uang itu diberikannya kepada Samin. Micheal dan Lolita seperti itu juga. Samin tertawa dalam hati, setelah mendapat uang enam ratus ribu rupiah dari bule-bule lugu itu. Samin pun tidak menghiraukan bule-bule itu. Bule-bule itu sudah keasyikan berfoto-foto di telapak kaki palsu itu.

Tidak lama berselang, masuklah Pakcik Uman ke TK. Dilihatnya bule-bule tersebut sedang ke asyikan berfoto-foto. “Hai mister, lagi ngapain tuh?“ Tanya Pakcik Uman.

“Inilah sedang berfoto-foto dengan telapak kaki Tuan Tapa”, sahut bule itu.

“Apa? bukan itu telapak kaki Tuan Tapa, siapa yang menyatakan bahwa itu telapak kaki nya? Iyalah sudah tertipu mister ini. Telapak kaki Tuan Tapa itu bukan di sini tempatnya tetapi di Gunung Lampu. Ini telapak kaki yang dibuat manusia untuk anak-anak TK. Siapa yang sudah menipu mister?” tanya Pakcik Uman.

Mendengar itu, geramlah bule-bule Belanda tersebut. “Kurang ajar Samin, kita sudah ditipunya, anak kurang ajar!!!” Micheal menggerutu.

Hoii, kesini kau Samin! Kembalikan uang kami, saya tidak suka sama kamu penipu, kalau kamu tidak mengembalikan uang kami, saya tampar kamu!” ujar bule-bule itu dengan marahnya.

“Ah… Kamu ini Min, orang luar pergi ke kampung kita kamu tipu-tipu, tidak boleh begitu. Nanti tidak mau lagi orang-orang luar yang datang ke tempat kita. Aduh kamu ini. Kembalikan uang bule-bule itu!” ucap Pakcik Uman pula.

Akhirnya uang yang sudah diambil oleh Samin tadi dikembalikan kepada bule-bule itu. Termangulah Samin, menyesal sekali dia telah menipu bule-bule, padahal kalo dia tidak menipunya dia sudah mendapat uang banyak. Bule-bule tersebut langsung menuju Gunung Lampu dipandu Pakcik Uman melihat telapak kaki yang asli.

Diterjemahkan oleh Amrisaldin, Kepala Divisi Advokasi JKMA Aceh
Artikel terkait:


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XIV, Desember 2011