Abad ke 17, kekuasaan Aceh telah meluas sampai ke Sumatra Barat. Daerah ini sangat penting artinya bagi Aceh, baik dalam bidang politik, maupun bidang ekonomi. Bidang politik berarti Aceh telah menanamkan kekuasaannya sehingga daerah ini merupakan “vazal”. Bidang ekonomi, daerah ini merupakan pengahasil lada yang sangat penting dalam pasaran dunia. Dengan menguasi daerah tersebut berarti menarik keuntungan yang banyak bagi Aceh. Karena perkembangan ini, Ratu Tajjul Alam mengangkat Ulee Balang Panglima Nanta untuk mengatur dan mengawasi daerah vazal, salah seorang keturunannya bernama Makhdun Sati. Dalam tubuh Makhdun Sati mengalir darah Aceh dan darah Minangkabau.

Dalam pemerintahan Sultan Jamalul Alam (1703- 1726), Makhdun Sati beserta rombongan yang terdiri 12 perahu, berlayar menuju arah utara melalui pantai barat Pulau Sumatra. Pelayaran ini terdorong adanya berita yang menarik hati mereka bahwa di ujung Pulau Sumatra banyak terdapat kekayaan alam yang terpendam berupa emas. Dengan menempuh perjalanan panjang dan lama, rombongan Makhdun Sati sampai di Pasir Karam. Daerah itu terletak di pantai barat Aceh dekat Meulaboh. Kemu-dian rombongan ini tinggal dan menetap untuk membuat perkampungan dan memulai hidup baru di sana.

Pembangkangan Suku Mantir

Ketika rombongan Makdun Sati mendarat di Pasir Karam, sepasukan tentara Aceh sedang bertempur menghadapi pengacau Suku Mantir yang belum memeluk agama Islam. Pasukan Aceh yang sedikit jumlahnya ini hampir terdesak oleh pengacau Mantir yang jumlahnya lebih banyak. Melihat tekanan yang di berikan Suku Mantir, Makhdun dengan rombongannnya yang merasa berkewajiban menolong sesama Islam memberikan bantuan. Kerja sama yang rapi menyebabkan gerombolan pengacau Mantir dapat dikalahkan dan mereka yang tinggal melarikan diri ke arah hulu pegunungan. Dengan kekalahan Suku Mantir, daerah ini menjadi aman.

Sebagai rasa terima kasih kepada bantuan Makhdun Sati, pimpinan pasukan Aceh dengan ikhlas mem-berikan daerah Pasir Karam untuk dibagi-bagikan kepada rombongan Makhdun Sati untuk tempat tinggal mereka. Rombongan Makhdun pun akhirnya membuka persawahan dan perladangan. Pemukiman dibangun dengan bergotong-royong, sesuai dengan adat mereka. Kemudian, Makhdun Sati beserta rakyatnya menyatakan kesetiaannya kepada Sultan Aceh.

Masa Keemasan

Karena tidak dijumpai biji emas, Makhdun Sati membawa rakyatnya bergerak ke utara, ke muara Sun-gai Woyla. Daerah ini lebih subur daripada daerah Pasir Karani. Daerah ini terletak antara Pidie dan Geumpang. Kemudian mereka membuka persawahan dan ladang untuk menanam lada. Di sana mereka menemukan biji emas yang dibawa arus sungai Woyla. Karena itu, rakyat Makhdun Sati setiap hari dengan tekun mengumpulkan biji-biji emas pada tempat ini. Dengan susah payah mereka dapat mengumpulkan emas yang banyak. Karena kemakmuran yang diperoleh rakyat, Makhdun Sati membangun sebuah kota di Kuala Bie, sebelah utara Pasir Aceh lengkap dengan rumah adatnya. Kota ini menjadi kota dagang yang ramai oleh pedagang yang ramai datang. Perkembangan kota ini menjadi kota dagang turut mengangkat nama Makhdun Sati. Rakyatnya makin makmur, karena dapat mengambil keuntungan dari perdagangan tersebut.

Pembangkangan Makhdun Sati

Berita kemakmuran daerah kuasa Makhdun Sati terdengar oleh Sultan Aceh yang berkuasa. Daerah ini merupakan wilayah aceh yang harus tunduk pada peraturan Sultan Aceh. Setiap daerah harus menyerahkan pajak kepada Kerajaan Aceh sebagai tanda setia. Karena itu, sultan mengirim utusan kepada Makhdun Sati sebagai penguasa daerah untuk memungut pajak. Namun, Makhdun dengan keras menolak apa yang dikehendaki Sultan Aceh. Sebagai rasa tidak senang, ia menyerahkan upeti kepada sultan berupa besi tua yang berkarat sebagai persembahan. Sultan menjadi berang. Ia merasa dihina oleh Makhdun Sati. Sultan mengirim sepasukan tentara di bawah pimpinan Panglima Penghulu Penaru, dari Keumangan untuk mengambil tindakan. Pasukan Penghulu Penaru dapat menghancurkan kekuatan Makhdun Sati. Makhdun Sati ditawan dan dibawa menghadap Sultan Aceh. Karena kesalahannya yang melawan kekuasaan yang sah dengan menggerakkan rakyatnya, majelis pengadilan kerajaan menjatuhkan hukuman mati buat Makhdun Sati. Namun, dengan beberapa pertimbangan sultan mengambil kebijaksanaan untuk memberikan ampunan atas kesalahan yang diperbuat Makhdun Sati. Makhdun menginsafi tindakannya yang salah; karena itu, setelah diberi ampunan, ia mengabdi kepada Sultan Aceh.

Dia akhirnya diangkat oleh sultan menjadi barisan pengawal istana kesultanan dan mendapat tempat di wilayah VI Mukim, dekat Bitay.

Pemberontakan Panglima Sagi XXII Mukim

Pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Muhammad Syah (1787-1795) timbul sedikit kegoncangan politik dalam pemerintahan Aceh, walaupun sultan telah berusaha menjalankan pemerintahan dengan baik. Ia berusaha menempatkan diri dengan adil dan terus mengadakan hubungan baik dengan Panglima Sagi XXII Mukim yang masih mempunyai hubungan darah dengan Sultan Iskandar Muda. Namun, karena suatu hal kecil saja, Panglima Sagi XXII Mukim merasa sakit hati pada sultan. Panglima Sagi XXII mengerahkan kekuatannya menyerang keraton, hendak menjatuhkan sultan. Serangan dilakukan dari berbagai jurusan. Hubungan istana keluar diputuskan; suplai makanan ke istana diawasi dengan ketat, sehingga istana hampir kehabisan bahan makanan. Panglima istana yang mengatur pertahanan tak dapat berbuat banyak. Mereka hanya bertahan dalam benteng menunggu kehancuran. Sedangkan serangan yang dilancarkan pasukan Panglima Sagi XXII Mukim semakin rapat dan sangat mencemaskan isi keraton.

Bantuan dari VI Mukim

Dalam kemelut yang menentukan ini, kalah atau menang, Makhdun Sati dan pengikutnya yang datang dari VI Mukim secara diam-diam di waktu malam memberikan bantuan kepada sultan. Pasukannya bergerak cepat memotong pasukan Panglima Sagi XXII Mukim dan berusaha terus mendesak keluar. Sebentar fajar menyingsing pasukan tersebut telah dapat memukul mundur pasukan Panglima Sagi XXII Mukim dan pasukan penyelamat secara diam-diam pula menghilang ke VI Mukim. Bantuan ini dapat menyelamatkan kedudukan Sultan.

Mendapat Pangkat Kehormatan

Atas jasa Makhdun Sati kepada Sultan Alaidin Muhammad Syah, sultan menganugerahkan pangkat kehormatan menjadi Panglima Sagi dan dengan nama tambahan “Nanta”, seperti nama neneknya. Oleh karena kesetiaannya kepada sultan, namanya menjadi Seutia Raja, kemudian ditambahkan pula nama kebesaran, Uleebalang Poteo, yang artinya hulubalang sultan dan bebas dari Panglima Sagi. Keputusan sultan tersebut dicantumkan sebagai tambahan dalam Undang-Undang Mahkota Alam (Adat Meukuta Alam). Dengan demikian namanya secara lengkap menjadi Panglima Nanta Cik Seutia Raja.

Setelah kedudukannya dikukuhkan Sultan Aceh, daerah kekuasan Nanta Cik diperluas dengan menambah pulau-pulau yang terletak dipantai wilayah VI Mukim. Kepadanya diberikan kekuasaan penuh untuk mengatur daerah tersebut seperti pengaturan kapal dan perahu keluar-masuk dan memungut bea cukai dan lainnya.

Oleh: Zulfadli Kawom, Mantan Ketua BEM Universitas Malikussaleh dan Koordinator Jaringan Komunitas Masyarakat Adat Pasee (JKMA Pasee).


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi V, Maret 2008