peutimang - w_lls_drawing_intu_2_2164 Agni Boedhihartono - www.IUCN.org

Harus diakui, sistem pengelolaan sumber daya alam di Aceh sebenarnya sangat arif dan bersahabat dengan alam. Dalam adat laot, misalnya, diatur tatacara penangkapan ikan dan batas wilayah sehingga tidak sampai berimbas pada lingkungan. Dalam adat mublang, diatur tatacara berkebun, bertanam, hingga memanen sehingga hasil yang diperoleh para petani serentak dan memuaskan.

Demikian pula dalam adat mengelola dan menjaga hutan. Tradisi pengelolaan hutan yang arif bijaksana telah dipraktikkan turun temurun dalam masyarakat Aceh. Hal ini diselenggarakan melalui lembaga adat uteun yang dipimpin langsung oleh panglima uteun.

Dalam beberapa literatur lama, disebutkan sejumlah tugas utama yang harus dilakukan oleh panglima uteun dan kejruen gle. Pertama, lembaga keujruen gle menyelenggarakan adat gle. Panglima uteun merupakan pihak yang memiliki otoritas menegakkan norma-norma adat yang berkaitan dengan memasukkan dan mengelola hutan adat (meugle).

Panglima uteun atau pawang gle memberi nasihat dalam mengelola hutan. Nasihat tersebut berisikan tatanan normatif apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam kaitannya dengan pengurusan hutan adat. Selain itu, disampaikan pula petunjuk perjalanan dalam hutan sehingga orang tidak sampai tersesat, mendapat bahaya gangguan dari jin dan binatang-binatang buas.

Kedua, mengawasi dan menerapkan larangan adat gle, yakni melarang memotong pohon tualang, kemuning, keutapang, glumpang, beringin, dan kayu besar dalam rimba yang dirasa akan jadi tempat bersarang lebah. Ini merupakan pantangan umum, yang apabila dilanggar dapat merugikan orang banyak, karena siapa saja boleh mengambil hasil madu yang bersarang di pohon-pohon besar itu.

Selanjutnya, ada larangan memotong kayu-kayu meudang ara, bunga merbau, dan lain-lain kayu besar-besar yang dapat dibuat perahu atau tongkang, kecuali atas seizin dari keujruen atau raja. Dilarang juga memotong sebatang kayu dalam rimba/hutan yang sudah ditetak sedikit kulitnya dan di atasnya dililit akar kayu yang disangkut dengan daun-daun. Juga pantang orang mengambil kayu yang sudah ditumpuk-tumpuk oleh seseorang yang di atasnya diletakkan sebuah batu. Batu itu berarti sebagai suatu tanda (kode) bahwa kayu yang bertumpuk itu telah ada yang punya.

Ketiga, panglima uteun berwenang memungut wase gle. Wase gle adalah segala hasil hutan seperti madu, getah rambong (perca), sarang burung, rotan, damar, dan sebagainya. Besarnya wase (cukai) sekitar 10%.

Keempat, lembaga ini menjadi hakim dalam menyelesaikan sesuatu perselisihan dalam pelanggaran hukum adat gle. Dalam suatu perundingan (musapat), kejruen terlebih dahulu meminta dan mendengar keterangan dari pawang gle, kemudian barulah keujruen gle memberi hukum atau keputusan. Penyelesaian sengketa ini didasari pada nilai perdamaian yang diselenggarakan secara musyawarah.

Panglima uteun berhak melarang setiap orang agar tidak memasuki hutan pada hari tertentu yang sudah ditentukan oleh panglima uteun berdasarkan ileumee-nya. Hal ini dilakukan bukan karena suka-suka, tetapi lebih pada memelihara kesinambungan manusia, binatang, dan hutan.

 

PANTANG-LARANG DALAM TATAKELOLA HUTAN

SISTEM pengelolaan hutan adat berkaitan erat dengan fungsi dan peran petua sineubok. Sineubok adalah wilayah baru di luar gampông yang pada mulanya berupa hutan kemudian dijadikan kebun (ladang). Pembukaan sineubok harus selalu memperhatikan aspek lingkungan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi manusia dan lingkungan hidup. Ada sejumlah aturan yang dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat Aceh sejak tempoe doeloe.

Nama Pantang-Larang Uraian
Larangan menebang pohon Kira-kira 500 meter dari tepi danau atau waduk.Kira-kira 200 meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai pada daerah rawa.Kira-kira 100 meter dari kiri kanan tepi sungai.Kira-kira 50 meter dari kiri kanan tepi anak sungai (alue).Kira-kira dua kali kedalaman jurang dari tepi sungai.
Pantangan jambo Jambo/pondok tidak boleh dibuat di lintasan binatang buas dan makhluk halus penghuni rimba.Bahan jambo tidak boleh menggunakan kayu bekas lilitan uroet, dipercayai akan mengundang ular.
Pantangan darut  Anggota sineubok pantang menggantung kain pada pohon, meneutak parang pada tunggul pohon, karena dipercaya dapat mendatangkan hama darut/belalang.
Pantang meu’uk-uk Pantang memanggil-manggil sambil menjerit dalam hutan atau ladang, dipercaya dapat mendatangkan hama tikus, rusa, kijang, monyet, dan landak.
Teumeubang wate pade mirah Pantang menebang pohon kayu ketika padi akan dipanen, akan mendatangkan hama geusong (wereng).
Pantang ceumecah lam ujeun tunjai Pantang menebang semak belukar saat hujan atau sedang roh pade (padi mau berisi) karena bisa mendatangkan petaka hama belalang, jutaan belalang akan memakan batang padi yang masih muda sehingga gagal panen. 

Dalam memilih lahan lokasi pembukaan kebun, menurut adat sineubok, perlu mempertimbangkan posisi letak kemiringan utara-selatan sesuai dengan siklus edar cahaya matahari. Dalam hal ini dikenal hadih maja: Tanoh sihèt u timu pusaka jeurat/ Sihèt u barat pusaka papa/Sihèt u tunong geulantan/Sihèt u seulatan pusaka kaya// ’tanah miring ke timur pusaka kubur/ miring ke barat pusaka papa/ miring ke utara tanah yang menang/ miring ke selatan pusaka kaya.(dbs)

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XVII, Mei 2016