“Lidah lebih tajam daripada pedang.”

tuhoe 1 h.maja-lidahDemikian kata orang bijak. Secara rasional hal ini mungkin agak aneh, tetapi ketika kita coba logika berpikir, kata-kata itu benar adanya. Kata ‘tajam’ konotasinya tentu dapat melukai. Bagaimana mungkin lidah dapat melukai melebihi pedang? Bukankah lidah hanya digunakan untuk menghancurkan makanan dalam mulut manusia agar mudah dicerna oleh usus?

Pedang adalah sebuah benda tajam. Jika ingin lebih tajam, asahlah pedang tersebut. Pedang hanya melukai bagian luar tubuh makhluk hidup, dalam konteks ini kita ambil sampel manusia. Ketika kulit manusia dilukai pedang, ia akan mengeluarkan darah. Semakin dalam bacokan atau sayatan pedang, semakin dalam sakit yang dirasakan.

Demikian halnya lidah, lidah juga dapat melukai. Ketika lidah yang melukai, luka tersebut tak nampak layaknya luka disayat pedang, akan tetapi sakit yang ditimbulkan karena lidah melebihi sakitnya sayatan pedang. Sakit dan luka yang diakibatkan oleh lidah langsung ke hati manusia. Sakit yang langsung ke hati tentunya sulit sembuhnya. Oleh karena itu lidah dikonotasikan melebihi tajamnya pedang.

Dalam masyarakat Aceh, acap kali orang tua menasihati yang muda agar menjaga lidah. Hal ini dapat dilihat dari hadih maja, sabab babah bulee basah, sabab lidah badan binasa ‘sebab mulut bulu basah, sebab lidah badan binasa’.

Hadih maja di atas mengandung makna, bahwa lidah dapat mencelakai diri kita. Sakit yang ditimbulkan oleh lidah bukan hanya berdampak kepada yang mendengar, tetapi juga orang yang mengatakannya. Sebab itu pula orang sering berkata, “mulut kamu harimau kamu.”

Dalam masyarakat Aceh, menjaga lidah dapat diartikan menjaga kesopanan. Orang yang menjaga kesopanan, di mana pun dia berada, akan selamat. Oleh karenanya, dalam masyarakat Aceh ada hadih maja, jak löt tapak, duek löt punggông.

Orang yang selalu menggunakan prinsip hadih maja tersebut, diyakini masyarakat Aceh akan selamat ke mana pun dia pergi. Maka, jaga babah yoh goh binasa, jaga lidah yoh goh ceulaka.

Oleh Herman RN

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi Perdana, April 2007