[Catatan Diskusi Tematik Bencana Ekologis dan Membangun Gerakan Rakyat, Kongres Rakyat Indonesia, Jakarta 2 Juli 2007]Baik dalam pengelolaan sumber daya alam, maupun dalam mengupayakan agar ruang hidupnya selamat, posisi rakyat Indonesia selalu terpinggirkan. Tetapi, cita-cita rakyat untuk berdaulat atas kedua hal di atas bukan sebuah hal yang mustahil.Dalam Diskusi Tematik Bencana Ekologis dan Membangun Gerakan Rakyat di hari kedua Konferensi Rakyat Indonesia, Kusnadi (Yayasan Padi) menegaskan bahwa kunci untuk mencapai cita-cita tersebut berada pada organisasi rakyat (OR). Hanya saja ditambahkan Kusnadi, masing-masing OR perlu bekerja lebih keras dan mensinergikan perjuangannya satu sama lain. Untuk OR yang bergerak di bidang sosial-politik perlu lebih aktif melaksanakan kegiatan-kegiatan pembelaan (advokasi) terkait kasus ketidakadilan pengelolaan sumber daya alam dan penangangan bencana, pengambil-alihan lahan yang dirampas perusahaan (re-claiming), kontrol kebijakan, pendidikan politik, dan lain sebagainya.Di bidang ekonomi, OR-OR ada banyak hal yang harus diperjuangkan terus-menerus. Di antaranya, membangun usaha ekonomi produktif, tata-niaga, transparansi anggaran, dan membangun lembaga keuangan. “Organisasi rakyat, misalnya organisasi tani, jangan hanya sibuk mengurus soal bercocok tanam. Tetapi juga harus menyentuh soal tata niaga. Jika tidak, petani akan terus menerus miskin. Karena hanya memperkaya pihak-pihak yang bermain di rantai tata-niaga,” tegas Kusnadi.Gerakan OR di bidang sosial-politik dan bidang ekonomi yang berjalan ajeg dan sinergis inilah yang akan menjadi sebuah kekuatan atau kunci perubahan politik bangsa ini. Baik dalam pengelolaan sumber daya alam dan pencegahan bencana, bahkan juga di bidang ekonomi kerakyatan.Senada dengan Kusnadi, Budi Aryanto (JKMA Aceh), selama ini ketergantungan rakyat terhadap negara teramat tinggi. Keadaan itu disebabkan oleh penyelenggaraan negara yang cenderung represif yang dipicu oleh 3 hal. Yaitu, penatabatasan ruang publik dilakukan secara sepihak (oleh negara), kedudukan dan peran parlemen tidak representatif, serta struktur dan mentalitas birokrasi yang cenderung korup.Dalam kondisi seperti di atas, ketika terjadi bencana ekologis, keberadaan rakyat semakin terpuruk, tak berdaya. Bantuan-bantuan yang datang tidak jarang justru makin memperlemah kemandirian rakyat.Untuk itu, OR-OR perlu meningkatkan kapasitasnya, baik kapasitas sumber daya masyarakat maupun kapasitas di tingkat keorganisasian. Di sisi lain, perlu dibangun gerakan bersama, menggalang solidaritas antar sektor, dimanapun OR berada. Misalnya, memberikan bantuan, dukungan, dalam bentuk apapun ketika salah satu wilayah di Indonesia terkena bencana alam.“Selama ini gerakan rakyat di Indonesia berujung pada kegagalan. Penyebab utamanya adalah karena bergerak sendiri-sendiri. Buruh hanya berjuang untuk buruh, petani hanya berjuang untuk petani, nelayan hanya berjuang untuk nelayan,” lanjut Budi. []

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/anthropology/1646156-bencana-ekologis-dan-gerakan-rakyat