mahe - clip-art-cartoon-tsunami-wave (www.clipartkid.com)

“Anga linon ne mali, uwek suruik sahuli // Maheya mihawali, fano me singa tenggi // Ede smong kahanne…”

Satu jam sebelum tsunami menghantam Aceh, seorang penyelam asal Jepang mengaku sedang menyelam di dekat Pulau Weh, antara Banda Aceh dan Sabang. Saat itu ia mendengar gemuruh luar biasa dari kedalaman air dan melihat ikan-ikan besar sudah bersembunyi di gua-gua. Bukan hanya ikan di kedalaman laut, juga burung di Cina, dan gajah di Sri Lanka dapat mencium lebih awal gejala tsunami yang menciptakan bencana kemanusiaan di beberapa negara (Surya, 31 Desember 2004).

Masyarakat di Pulau Simeulue yang hanya beberapa kilometer dari hiposentrum gempa juga memiliki talenta setajam ikan-ikan, burung dan gajah dalam mengantisipasi gelombang tsunami. Sesaat setelah gempa terjadi, segera penduduk di pulau itu bergegas mengungsi ke gunung-gunung dan dataran tinggi. Terbukti, dari data terakhir tentang korban gempa di Simeulue, hanya empat orang penduduk tewas akibat smong walau sebagian besar infrastruktur di pulau tersebut luluh lantak, tetapi mereka berhasil mencegah tragedi kemanusiaan sejak dini.

Pengalaman penulis, beberapa saat seusai gempa, menginstruksikan istri dan anak-anak agar mempersiapkan segala yang diperlukan untuk dibawa lalu pergi mencari tempat yang lebih tinggi. Tujuan kami ke Blang Bintang.

Tekad berlari ke gunung mengingat wasiat almarhumah Mak ketika masih SD– dalam bahasa Simulue semacam petitih. “Mali linon, fesang smong.”  (kalau ada gempa disusul air bah). Ingatan ini diperkuat telepon seorang kawan yang juga sama-sama berasal Pulau Simeulue, bahwa akan terjadi smong (air menggulung, dalam bahasa Devayan).

Wasiat yang dituturkan secara turun temurun tentang Smong dalam masyarakat Simeulue, sering diceritakan dalam bentuk nafi-nafi (cerita bertutur) oleh nenek atau mak kepada anak-anak. Dalam bentuk nanga-nanga semacam pantun yang umumnya anak-anak menghafalnya, yaitu //Kilek, suluh-suluhmo/ Lai’ (bubuk) kedang-kedangmo/Linon uak-uakmu/Smong dumek-dumekmo// (Kilat sebagai suluh (penerang) mu/Petir jadi gendang-gendangmu/Gempa jadi ayunanmu/Tsunami jadi permandianmu//).

Adagium tersebut menjadi wasiat dan konvensi (kesepakatan tak tertulis) bagi masyarakat Pulau Simeulue dan terus berkembang sejak terjadinya smong tahun 1907 silam. Peristiwa itu ditulis dalam sebuah ensiklopedia dari Hindia Belanda di bawah redaksi D.G. Stibbe yang terbit tahun 1909, mengemukakan bahwa di Simeulue sering terjadi gempa bumi yang bersifat ringan. Pada tahun 1907 seluruh daerah pantai barat dilanda ombak pasang yang cukup dahsyat yang menelan banyak korban. Pada saat itu sejumlah besar kampung benar-benar hilang ditelan ombak besar tersebut. Masyarakat Simeulue kemudian menyebut ombak besar itu dengan nama ‘smong’.

Peristiwa smong 1907, masih berbekas sampai sekarang. Seperti diungkap seorang saksi hidup, di antaranya oleh Nurisah (107 tahun) dan Iskandar (103 tahun). dua orang kakak beradik penduduk Salur, Mukim Bakudo Batu, Kecamatan Teupah Barat itu mengaku masing-masing mereka berusia sembilan dan lima tahun ketika terjadi smong 1907.

“Masa itu kami di gunung. Rumah kami di situ. Waktu itu musim padi. Waktu itu air laut dikabarkan surut, lalu orang-orang  mengambil ikan semua,” kenang Iskandar.

Peristiwa juga menurut Benu Hatar (65) diceritakan langsung ayahnya. Saat itu ayahnya yang sehari-hari menjadi pedagang, Jumat, 14 Januari 1907 pukul 14.00 (setelah salat Jumat), sedang berada Sinabang. Dia tahu persis tanggal dan waktu smong datang. Menurut cerita, smong tahun 1907 pusatnya di Salur, Mukim Bakudo Batu, Teupah Barat.

Nafi-nafi (cerita tutur) mengenai smong diingatkan secara turun-temurun hingga sekarang. Bukan saja cerita tentang akibat yang ditimbulkan, tetapi juga gejala-gejala alam yang mendahaluluinya. Seperti gejala-gejala alam yang menandakan akan datang smong bilamana terjadi gempa yang disusul dengan surutnya air laut. Tanda lain jika usai gempa, hewan berlarian ke arah dataran yang lebih tinggi, semisal gunung atau perbukitan. Gempa yang perlu diwaspadai jika kekuatannya melebihi dari yang biasa atau di atas 3 atau 4 SR seperti yang terjadi 26 Desember 2004 lalu.

Cerita  akan bahaya gelombang dahsyat yang mungkin saja terjadi lagi telah menjadi wasiat turun temurun yang terus diulang-ulang lewat syair nandong. Penggalan syair nandong dalam bahasa Devayan dituturkan secara oral, diwariskan turun menurun untuk kemudiannya menjadi local wisdom di lingkungan anak Simeulue. 

Kearifan Tradisional
Sosialisasi mengenai ancaman gelombang dahsyat yang kapan saja dapat memborbardir daerah rawan tidak populer sama sekali di tengah penduduk. Makanya ketika air laut tiba-tiba surut sekitar 1 kilometer dari bibir pantai, anak-anak malah berhamburan ke laut bersuka cita memunguti ikan yang terdampar.

Di sinilah keberutungan warga Simeulue melalui “nafi-nafi smong” yang menumbuhkan suatu kearifan tradisional, yang tidak dimiliki daerah lain.Warga Pulau Simeulue, jauh sebelum mengenal istilah tsunami, sudah mampu mengantisipasi bencana yang kelak ditimbulkan gelombang maut itu.

Warga Simeulue  tidak ada yang memiliki kapabilitas seperti para ahli gempa, astronomi, dan bencana alam yang bekerja di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Badan Meteorologi dan Geofisika, dan lainnya. Namun, secara tradisional warga Simeulue sangat konsisten menelaah tanda-tanda alam.

Kearifan tradisonal yang selalu diwasiatkan para orang tua di Simeulue adalah membangun persahabatan dengan alam agar beroleh pengalaman untuk bisa membaca tanda-tanda alam.

Pengetahuan tentang gejala-gejala alam beragam bentuk. Masyarakat Aceh, misalnya, memiliki pengetahuan tentang gejala alam jika melihat pelangi melingkari bulan menandakan musim kemarau akan menjelang. Sebaliknya, bila pelangi melingkari matahari itu berarti musim hujan akan tiba. Begitu pula kalau burung-burung laut beterbangan secara koloni, bahkan tidak terarah menuju daratan, sebagai pertanda ada sesuatu yang akan terjadi di laut.

Mungkin dalam masyarakat modern, gejala alam tersebut tidak terlalu dihiraukan, bahkan ada yang menganggap sebagai takhayul belaka, karena semuanya sudah diatur Sang Maha Pemilik semesta. Namun, bukankah sebenarnya kita disuruh-Nya untuk “membaca sunnatullah” agar memahami Kemahakuasaan Allah. “Penciptaan langit dan bumi dan dengan segala isinya, sebagai tanda  kekuasaan Allah bagi mereka yang berpikir”.

Alam adalah guru yang melahirkan pengetahuan tradisional. “Takambang alam jadilah guru” (terbentang alam menjadi guru). Maka manusia harus bersahabat dengan alam, termasuk tidak menzalimi alam itu.

Mahe - Ampuh DevayanOleh Ampuh Devayan
—Kepala Sekolah Menulis “Panteue”, warga Banda Aceh asal Simeulue—
Sumber: panteue.blogspot.co.id

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XVIII, Desember 2016

Ilustrasi: www.clipartkid.com