BANDA ACEH – Wakil Bupati Aceh Barat, Provinsi Aceh, Rachmad Fitri mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat adat istiadat dengan mengabadikan sejarah dalam bentuk narasi dan dibukukan, sehingga tidak terlupa di masa mendatang.

“Generasi Aceh ke depan harus kita pupuk dengan nilai-nilai adat, jangan sampai sejarah terputus sampai pada generasi saat ini, karena tidak ada yang mengabadikan,” katanya di Meulaboh, Jumat.

Saat membuka kongres Jaringan Komunitas Masyarakat Adat Bumoe Teuku Umar (JKMA-BTU) pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Aceh Barat, Rachmad menyebutkan, pentingnya sejarah lokal didokumentasi agar generasi ke depan tidak buram dengan sejarah Aceh Barat masa lalu.

Dalam upaya itu, kata dia, peran serta tokoh adat seperti “Panglima Laot” (lembaga adat laut), “Pang Uteun” (lembaga adat hutan), “Keujreun Blang” (pengatur sawah) dan mukim (yang membawahi beberapa desa) yang sudah terbentuk dapat bekerja aktif tidak hanya sebatas memangku jabatan. “Peran tokoh adat Aceh Barat kurang berjalan, sehingga bukan tidak mungkin apa yang menjadi adat dan budaya wilayah “Bumoe Teuku Umar” (bumi Teuku Umar) nantinya akan menghilang dan terlupakan,” tegasnya.

Acara yang diikuti oleh sejumlah pemangku adat di Kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya itu, Rachmad berharap akan ada upaya menuliskan buku, narasi kehidupan adat, sehingga dapat diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi saat ini serta generasi Aceh di masa mendatang. Selain itu, Rachmad yang akrab disapa H Nanda ini meminta, dalam mewujudkan visi misi pelestarian adat dan budaya di Aceh Barat itu, keikutsertaan perempuan perlu ditingkatkan, sehingga apapun bentuk aturan adat tidak berbenturan dengan hak perempuan.

“Reusam (aturan desa) perlu dilahirkan jika ada yang belum tepat sebagai wadah silaturrahmi dan mencari jalan keluar setiap menemukan persoalan di gampong-gampong atau desa-desa,” katanya menambahkan. (dat03/antara)

Sumber: Waspada.co.id