Asoe Nanggroe - Peumamanan

SEGEROMBOLAN orang berpakaian adat Alas melintas di jalan raya, mulai anak-anak hingga orang tua, laki-laki dan perempuan. Mereka membentuk iring-iringan. Sebagian ada yang menunggang kuda. Sebagian lainnya mengiringi dari samping dan belakang. Mereka pawai dari ujung jalan yang satu ke ujung jalan satunya lagi, melintasi jalan umum, melewati rumah-rumah penduduk.

“Mereka yang menunggang kuda itu satu keluarga. Yang kecil itu anaknya, yang tua di belakang itu orang tua si anak,” kata seorang guru sekolah menengah.

Pemandangan sekelompok orang menunggang kuda dengan baju adat Alas itu saya amati setahun silam, saat berkunjung ke Aceh Tenggara, Kutacane. Menurut orang setempat, itu bagian dari perhelatan adat. Mereka menyebutnya pemamanan, sebuah tradisi di Kutacane yang mayoritas penduduknya bersuku Alas.

Istilah pemamanan tidak lepas dari kata “paman” yakni laki-laki dari garis ibu—adik atau kakak ibu. Artinya, masyarakat Alas mempercayai paman sebagai penanggung jawab atas perhelatan pesta sunat rasul dan pesta nikah setiap keponakan mereka. Marwah setiap paman dipertaruhkan untuk kesuksesan pesta tersebut.

Memberikan tunggangan kuda kepada anggota keluarga keponakan merupakan bagian dari tradisi pemamanan. Paman-lah yang mencari/menyewa kuda tunggangan untuk dipakai oleh keponakan sekeluarga. Selain memberikan tunggangan kuda, si paman juga bertangung jawab atas segala yang diminta dari pihak ibu keponakannya.

Sebagai contoh, Bu Seulanga memiliki anak bernama Jeumpa. Tatkala Jeumpa akan menikah, Bu Seulanga menjumpai paman Jeumpa. Kepada paman Jeumpa disampaikan rencana pesta nikah Jeumpa. Tidak lama kemudian, di rumah paman dilangsungkan kenduri sederhana untuk memanggil masyarakat kampung. Paman yang menyampaikan hajat dari keluarga keponakannya kepada masyarakat kampung. Dalam tradisi ini ada proses pengumpulan uang dari masyarakat kampung sebagai tanda gotong royong dan hidup saling berdampingan.

Pengumpulan dana ikhlas dari masyarakat kampung dilakukan oleh paman dalam sebuah hajatan kecil di rumah si paman. Si paman mengundang orang kampung bermusyawarah di rumahnya, lalu disampaikan tentang keponakannya yang akan melangsungkan pesta nikah. Di saat inilah orang kampung akan memberikan dana ikhlas alakadar. Sumbangan orang kampung bisa membantu—paling tidak—meringankan sedikit beban si paman.

Tanggung Jawab

Paman harus bertanggung jawab memenuhi segala keperluan pesta di rumah keponakannya. Adakalanya, beban yang diberikan kepada seorang paman dilihat dari status pekerjaan si paman. Namun, seorang paman juga harus memahami status keluarga keponakannya. Jika keponakannya anak kepala dinas atau pejabat, acara pesta harus dibuat meriah. Di saat seperti ini, peran paman agak berat. Bisa jadi paman akan dimintai kulkas bahkan sepeda motor oleh ibu keponakannya.

Terkadang pula, pihak keluarga langsung melengkapi kebutuhan pesta dan alat rumah tangga si anak. Pihak keluarga langsung membeli kulkas, kompor, dan alat dapur lainnya. Selepas pesta, catatan pengeluaran selama pesta nikah dan alat dapur yang sudah dibeli tadi diserahkan kepada paman. Paman bertanggung jawab melakukan “ganti-rugi” semua barang yang sudah dibeli pihak keluarga.

Berapa pun besarnya keuangan yang sudah dikeluarkan pihak keluarga akan menjadi tanggung jawab si paman. Jika ada dua orang paman, berbagilah mereka berdua. Jika si paman hanya seorang, beban si paman tentu akan terasa berat. Namun, inilah tradisi yang sudah hidup dan berkembang di negeri Seribu Satu Bukit.

Beban dan Moral

Sekilas, tanggung jawab yang dinisbatkan kepada paman akan menjadi beban, baik beban ekonomi maupun beban moral. Beban bagi paman yang ekonominya menengah ke bawah, tidak tertutup kemungkinan ia akan berutang ke selingkar demi mengabulkan permintaan ibu keponakan. Di sinilah martabat paman sangat disanjung-saji.

Beban ekonomi sejalan dengan beban moral. Seorang paman yang tidak turut membantu tidak akan ditulis namanya di “buku keluarga” yang menggelar pesta. Berapa pun atau apa pun bentuk sumbangan si paman akan dicatat dalam “buku keluarga”. Di sini moral seorang paman dipertaruhkan. Biasanya, tidak ada paman yang tidak mau menyumbang, mengingat namanya akan dicatat di “buku keluarga” dan dibacakan dalam musyawarah keluarga.

Menurut orang setempat, perkara utang-piutang para paman selepas acara pemamanan sudah menjadi lumrah sejak dulu kala, sejak tradisi pemamanan mulai ada dalam masyarakat Alas. Hanya saja, bentuk pemberian paman berubah disesuaikan tuntutan zaman. Zaman dulu belum ada yang minta kulkas. Seorang paman hanya menyediakan kambing atau lembu. Sekarang, si paman kadang juga harus memberikan kulkas bahkan sepeda motor, tergantung apa yang diminta oleh ibu yang menikah. Singkatnya, paman adalah tulang punggung setiap keponakan.

 Ada ubi ada talas, ada bagi ada balas, begitulah tradisi Alas mengatur semua. Dalam kearifan suku Alas, paman paling dimuliakan. Jika terdengar kabar paman akan berkunjung ke rumah keponakannya, keluarga keponakan sibuk mempersiapkan segala hal sambutan bagi si paman. Semua isi dapur, segala isi karung, segenap isi rumah akan ‘dikeluarkan’ untuk penyambutan paman. Paman lebih dimuliakan daripada pakcik (adik ayah). Tentu saja hal ini bentuk berbalasan dari pemamanan.

Tradisi Alas juga mengenal peninian, yakni pelimpahan tanggung jawab kepada saudara mamak dari ibu yang anaknya akan melangsukan pesta. Artinya, kakek/nenek si anak dari sebelah ibu. Jika seorang anak tidak memiliki paman, tanggung jawab pesta dibebankan dalam peninian. Jika paman masih ada, acara pemamanan akan berlangsung beriringan dengan peninian.

Kendati tugas paman terkesan berat, hal ini sudah menjadi tradisi yang dipegang erat oleh suku Alas. Timbang rasa berlaku bagi paman yang bukan suku Alas. Misalnya, seorang perempuan suku Aceh menikah dengan lelaki suku Alas. Si perempuan punya saudara laki-laki, tentu si lelaki menjadi paman. Paman yang seperti ini tidak dituntut pemamanan selayaknya paman yang benar-benar suku Alas.

Pemamanan hanya diutamakan kepada paman yang suku Alas. Ada garis keturunan yang dicermati, apakah dia turunan asli Alas atau pendatang. Artinya, paman yang bukan suku Alas asli, masih ada keringanan. Di sinilah kearifan pemamanan berlaku. Wallahualam.

Asoe Nanggroe - aceh tenggara

Laporan Herman RN

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XVIII, Desember 2016