tuhoe 10 saweue gampong foto bersama (Zulfikar Akbar)

(http://fickar.multiply.com)

Ternyata senyum masyarakat di gampông pedalaman masih lebih hangat, lebih jujur, dan lebih menyejukkan hati, dari yang saya bayangkan sebelumnya. Potret itu kami temukan juga saat menyambangi empat gampông di Kecamatan Pantee Ceureumen, Aceh Barat.

Bersama Fauna Flora International, JKMA Bumoe Teuku Umar (BTU) yang dikomandani Khalidin Alba’ melakukan serangkaian kegiatan berkisar tentang Perencanaan dan Pemetaan Mukim di Kemukiman Langoe. Pemetaan meliputi empat gampông, yakni Sikundoe, Langoe, Lawet, dan Cangge.

Kegiatan itu berawal dari survei yang telah kami jajaki sejak 11 Mei lalu. Kendati di satu sisi perjalanan menuju gampông-gampông tersebut lumayan melelahkan, semua terlewati dengan penuh semangat. Jalan menuju ke sana memang masih sangat ‘alami’, masih berkerikil dan hanya bisa dilalui dengan roda dua. Selain itu, juga harus menggunakan jasa penyeberangan tradisional, rakit.

Tak pelak, menjadi sebuah kesan pula saat kami dan tim mengalami sebuah musibah kecil–dialami oleh rekan Khalidin Alba dan Herman. Rakit yang membawa mobil dan juga kami hanyut terbawa arus, karena memang rakit tersebut hanya diikat pada seutas tali. Sedangkan arus air saat itu sedang deras. Beruntung, rakit tersebut tidak sempat terbalik atau tenggelam sehingga masih bisa untuk ditarik kembali ke ‘dermaganya’.

Menariknya, yang menolong untuk menarik kembali rakit tersebut adalah perempuan-perempuan yang ada di gampông tersebut. Kala itu, para perempuan tersebut baru pulang dari sawah dan ladang mereka. Melihat ada rakit hanyut dan membutuhkan pertolongan, mereka segera menolong dengan menarik utas tali pengikat rakit. Sejenak terpikir oleh saya, para perempuan gampông sangat luar biasa. Dalam kelembutan yang mereka miliki, tersimpan kekuatan. Bagaimana tidak, sebuah rakit dengan sebuah mobil di atasnya berhasil didorong dan ditarik kembali ke tempat rakit tersebut biasa ditambat.

Selanjutnya, terdapat beberapa kesimpulan positif menyimak masyarakat di pedalaman tersebut. Semangat ingin membangun terlihat dari minat belajar dan berdiskusi dalam beberapa pelatihan yang kami adakan. JKMA Bumoe Teuku Umar dan Fauna Flora International memfasilitasi pelatihan tersebut dengan harapan memang agar masyarakat di sana memiliki sumberdaya manusia yang andal.

Selama pelatihan, saya saksikan mereka ramah dan menunjukkan semangat serta antusiasme cukup tinggi. Muhammad Irwan dari JKMA Aceh yang kebetulan jadi salah seorang fasilitator juga kala itu, turut berdecak kagum dengan spirit juang masyarakat Langoe. Pasalnya, disebutkan sebelumnya wilayah pedalaman itu sudah puluhan tahun tertinggal dari gampông di sekitarnya.

Persoalan ketertinggalan juga diakui oleh salah seorang tokoh pemuda Gampông Lawet, Hasan Basri, 25. Ia bahkan pernah mengira gampôngnya takkan maju-maju lagi. “Dulu kami membayangkan gampông kami tidak akan pernah bisa dilalui sepeda motor, tetapi syukurnya sekarang sudah merangkak maju perlahan menjadi lebih baik,” tuturnya.

Sedangkan Idrus, Sekretaris Mukim Langoe, menyebutkan, masyarakat di sana sangat bangga melihat gampông mereka yang sekarang telah mulai terbuka dan sudi dimasuki oleh orang luar. “Paling tidak bisa mengekspose kondisi masyarakat kami yang walaupun sudah menunjukkan beberapa kemajuan, tapi dari banyak segi masih jelas tertinggal dari kecamatan lain. Untuk Aceh Barat, Kecamatan Pante Ceureumen ini menempati urutan nomor 3 sebagai kecamatan termiskin,” ungkapnya sembari berharap suatu saat posisi tersebut bergeser ke arah yang lebih baik.

Dari amatan tim yang mendatangi gampông-gampông tersebut, nilai-nilai keacehan memang masih sangat kental di sana. Masih bisa dilihat dari anak-anak gampông yang saat siangnya membantu orang tua di sawah atau di ladang. Itu mereka lakoni sepulang dari sekolah, sedangkan saat malam mereka menyempatkan untuk mengaji di dayah gampông.

Nilai-nilai kekerabatan masih sangat baik juga. Jika ada warga yang musibah meninggal dunia, sakit, atau musibah lainnya, tradisi seumaweue masih dipertahankan–sebutan untuk kebiasaan saling mengunjungi di tengah masyarakat Aceh. Terlihat masyarakat disini pun sangat antusias untuk belajar tentang bagaimana menggali dan mengkaji potensi yang dimiliki oleh gampông.

Saat acara pertama diadakan di Gampông Lawet, acara-acara demi acara dimanfaatkan masyarakat sebagai modal penting agar gampông-gampông di Kecamatan Pante Ceureumen bisa bangkit dari ketertinggalan. Hanya saja, sepertinya masih perlu kontribusi lebih dari berbagai pihak untuk turut serta memberikan sosialisasi dalam bentuk apa pun kepada masyarakat Langoe.

Bagi JKMA BTU sendiri, dalam berbagai kesempatan menyempatkan untuk terus memberikan perbandingan sekaligus motivasi agar mereka mau lepas dari kondisi stagnan yang telah begitu lama memenjarakan masyarakat di sana. Keseriusan dan kepedulian ekstra dari pihak pemerintah juga diminta. Jika pemerintah tidak cermat dan masih mempertahankan keangkuhan untuk hanya melihat yang dekat mereka saja, maka gampông yang ada di pedalaman tersebut akan terus tertinggal. Sebaiknya, pemerintah Kabupaten Aceh Barat patut malu daerahnya masih banyak yang tertinggal dibanding daerah lain.

Laporan Zulfikar Akbar —Fasilitator dan Aktivis JKMA Bumo Teuku Umar—


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi X, Oktober 2009