Rumah Aceh, rumah panggung berbahan kayu, salah satu rumah tradisional di Nusantara yang mampu tetap berdiri saat gempa dan tsunami melanda wilayah Aceh 26 Desember 2004 lalu. Satu benang merah yang dapat dirunut dari beberapa peristiwa bencana di daerah yang lain yaitu ketahanan terhadap bencana alam. Contohnya Oma Hada di Nias dan joglo di Yogyakarta dan Jawa Tengah (saat gempa 27 Mei 2006).

Rumoh Aceh masih banyak ditinggali di daerah pesisir maupun pedalaman. Namun saat ini semakin jarang bisa ditemui karena dinamika kehidupan masyarakat dan bencana besar 26 Desember 2004 lalu. Padahal tipologi rumoh Aceh ini banyak sepadan dengan banyaknya suku bangsa di daerah Aceh yaitu suku bangsa Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Singkil, dan Simeulu. Suku bangsa Aceh yang paling banyak jumlahnya yaitu di daerah Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat, serta sebagian Aceh Timur dan Aceh Selatan. Sedangkan suku bangsa Gayo hanya mendiami Aceh Tengah saja. Oleh karena itu ada kemiripan pada rumoh Aceh di beberapa wilayah yang didiami sesama suku bangsa Aceh.

Filosofi Rumoh Aceh

Rumoh Aceh berkembang berdasar konsep kehidupan masyarakat Islam yaitu suci. Konsep suci ini menyebabkan rumoh Aceh berdiri di atas panggung. Dari segi nilai-nilai agama, berbagai sumber menyebutkan bentuk panggung ini untuk menghindari binatang yang najis seperti anjing. Selanjutnya mengenai peletakan ruang kotor seperti toilet atau area basah seperti sumur. Berdasar cerita nenek moyang masyarakat Aceh, toilet dsn sumur harus dibuat jauh dari rumah.

Konsep selanjutnya adalah penyesuaian terhadap tata cara beribadah dalam agama Islam. Kebiasaan Shalat menyebabkan peletakan rumoh Aceh memanjang mengikuti arah kiblat (ke barat) sehingga rumoh Aceh dapat menampung banyak orang bersholat. Kemudian peletakan tangga (reunyeun atau alat untuk naik ke bangunan rumah) juga tidak boleh di depan orang sholat sehingga tangga ditempatkan di ujung timur atau dibawah kolong rumah. Reunyeun ini juga berfungsi sebagai titik batas yang boleh didatangi oleh tamu yang bukan anggota keluarga. Apabila di rumah tidak ada anggota keluarga yang laki-laki, maka ‘pantang dan tabu’ bagi tamu yang bukan keluarga dekat (muhrim) untuk naik ke rumah.

Konsep ukhuwah Islamiah atau hubungan antar warga yang dekat dan terbuka menyebabkan jarak rumoh Aceh yang relatif rapat dan tidak adanya pagar permanen atau pun tidak ada pagar sama sekali di sekitar area rumoh Aceh. Selain konsep filosofi Islam, pada dasanya berbagai bentukan di dalam rumoh Aceh merupakan hasil respon penghuni terhadap kondisi geografis. Rumoh Aceh yang memiliki tipe berbentuk panggung memberikan kenyamanan thermal kepada penghuninya. Tipe rumah ini juga membuat pandangan tidak terhalang dan memudahkan sesama warga saling menjaga rumah serta ketertiban gampong. Sehingga rumah panggung dapat dimanfaatkan sebagai sistem kontrol yang praktis untuk menjamin keamanan, ketertiban dan keselamatan penghuni dari banjir, binatang buas, dan orang asing.

Berbagai konsep tersebut akhirnya dapat membentuk beragam bentuk rumoh Aceh. Dari jenisnya, rumoh Aceh sebenarnya memiliki dua jenis rumah, yaitu rumoh Aceh dan rumoh santeut (datar) atau tampong limong atau rumah panggung. Memang kebiasaan penyebutan rumoh Aceh dalam masyarakat Aceh hanya untuk rumah yang sangat tinggi seperti yang terdapat di Museum Aceh. Perbedaan penyebutan rumoh aceh dan rumah panggung yang sangat kontras karena ketinggian lantai panggung ini menyebabkan salah pemahaman dari definisi pada masa lalu dan mendorong pengeklusifan rumoh aceh hanya sekedar miniatur yang dipajang di Museum Aceh.

Untuk meluruskan kembali istilah rumoh Aceh perlulah kiranya ditegaskan kembali bahwa pengertian rumoh Aceh adalah bangunan tempat tempat tinggal (Hadjah:1985), yang dibangun di wilayah Aceh, berbentuk panggung (1-5 meter), berbahan kayu, dan berornamen maupun tidak. Berawal dari pekarangan (leun rumoh) yang seperti menjadi milik bersama (konsep ukhuwah Islamiah), setiap bangunan rumah biasanya terdiri dari ruang seuramo likeu (serambi depan), jure (ruang keluarga), seuramo likot (serambi belakang), dan dapue (dapur). Di bagian bawah rumah (lantai satu atau kadang disebut kolong rumah) dibiarkan kosong dan terbuka atau diberi panteu (sebuah tempat duduk menyerupai meja berbahan bambu atau kayu) atau digunakan untuk meletakkan alat-alat yang terkait dengan mata pencaharian sehari-hari atau dipakai untuk melakukan mata pencaharian seperti membuat kain tenun atau digunakan untuk tempat lumbung padi (krong) atau digunakan untuk kandang hewan peliharaan. Ruang utama atau rambat diisi dengan hamparan tikar ngom lapis tikar pandan. Kondisi ini memberikan keleluasaan ruang sehingga bisa multifungsi dan memberi sirkulasi udara yang baik. Secara kualitas ruang, ruang utama seperti ini juga mampu menghadirkan suasana kehangatan persaudaraan.

Demikianlah, bagi masyarakat Aceh baik nenek moyang maupun warga yang masih menempati rumoh Aceh hingga saat ini, membangun rumah bagaikan membangun kehidupan itu sendiri. Hal itulah yang menyebabkan pendirian rumah harus melalui beberapa tata cara tertentu, seperti pemilihan hari baik yang ditentukan oleh teungku (ulama setempat) dan pelaksanaan kenduri dengan upacara peusijuk.

Rumoh Aceh mampu bertahan hingga ratusan tahun tentunya didukung oleh konstruksi yang kokoh dan mutu bahan bangunan yang berkualitas. Dari segi konstruksi, penempatan tiang rumah menyebabkan pembagian ruang rumoh Aceh pada umumnya terdiri tiga ruang bertiang 16 atau lima ruang bertiang 24.

Apresiasi seni penghuni rumoh Aceh sangat tampak pada berbagai motif seni rupa yang tampak pada elemen-elemen rumoh Aceh. Contohnya pintoe (pintu) rumoh Aceh yang didesain hanya setinggi 120-150 cm seperti menyadarkan sikap yang baik untuk saling menghormati terutama kepada pemilik rumah. Pintu sebagai salah satu elemen rumah yang dipercayai memiliki nilai filosofi yang tinggi ini mendorong terbentuknya seni rupa unik. Hal ini membentuk ungkapan yang sangat terkenal di masyarakat Aceh yaitu “Pintoe rumoh Aceh ibarat hati orang Aceh, sulit untuk memasukinya namun begitu masuk akan diterima dengan penuh lapang dada serta kehangatan”. Bahkan motif ini tidak hanya digunakan pada elemen bangunan, namun pada pakaian hingga ke perhiasan.

MEMPERTAHANKAN RUMOH ACEH PASCA GEMPA DAN TSUNAMI

Secara analisisi struktur, rumoh Aceh pernah diuji secara laboratorium melalui miniatur kecil dan perhitungan program SAP 2000. Hasilnya adalah rumoh Aceh terbukti mampu bertahan dari gempa karena struktur utama yang ko koh dan elastis. Kunci kekokohan dan keelastisan iniadalah pada hubungan antar struktur utama yang saling mengunci, hanya dengan pasak dan bajoe, tanpa paku, serta membentuk kotak tiga dimensional yang utuh (rigid). Keelastisan ini menyebabkan struktur bangunan tidak mudah patah, namun hanya terombang-ambing ke kanan kiri yang kemudian kembali tegak atau pun bangunan terlikuifaksi (terangkat ke atas) yang kemudian mampu jatuh kembali ke tempat semula. Jika bangunan bergeser pun hanya beberapa centimeter saja dan dalam keadaan utuh. Sebuah pondasi batu utuh yang hanya ditanam sedikit (lima centimeter) juga memperlentur pergerakan keseluruhan bangunan sesuai dengan pergerakan tanah.

Demikianlah, tiga komponen struktur utama yang menjadi pusat kekokohan bangunan meliputi pondasi (komponen kaki) sebagai pusat beban bangunan terbesar, kemudian tiang dan balok antar tiang (komponen badan) sebagai penyalur beban dari atas dan dari samping, serta rangka atap (komponen kepala) sebagai penyangga beban elemen paling atas bangunan dan dari samping atas.

Kemudian terkait dengan iklim topis, penghawaan ruang dalam rumoh Aceh sangat baik karena udara dapat mengalir dengan baik melalui tingkap (jendela), sela-sela antara lantai yang terbuat dari papan kayu atau bilah bambu, maupun sela-sela antara atap dan dinding. Selain itu, sela-sela antara lantai jugamempermudah pembuangan kotoran di dalam ruang. Elemen teratas bangunan yaitu atap rumoh Aceh yang berbahan rumbia juga memiliki andil besar dalam memperingan beban bangunan sehingga saat gempa tidak mudah roboh. Fungsi yang lain pun rumbia juga menambah kesejukan ruangan. Keburukan sifat rumbia yang mudah terbakar pun juga sudah ada solusinya dalam rumoh Aceh. Ketika rumbia terbakar, pemotongan tali ijuk di dekat balok memanjang (bara linteueng) pada bagian atas dinding mempercepat runtuhnya seluruh kap rumbia ke samping bawah sehingga tidak merembet ke elemen bangunan lainnya. Multi fungsi rumoh Aceh pada seuramoe keue (serambi depan) dari ruang tamu, ruang makan, hingga ruang tidur kaum lelaki juga hal lain yang menarik dari rumoh Aceh. Perabot yang sedikit memudahkan perubahan fungsi ini dan juga menambah kelancaran aliran udara.

Keselarasan nilai-nilai kearifan lokal rumoh Aceh yang merespon kondisi geografis setempat perlu dilestarikan karena memiliki banyak kelebihan. Dari analisa struktural rumoh Aceh terbukti masih fleksibel, kokoh, dan aman dari banjir. Demikian pula analisa arsitektural juga tetap tak meninggalkan roh/jiwa rumoh Aceh. Kelemahan yang ada bukan pula suatu penghalang bagi warga untuk tetap bertempat tinggal di rumoh Aceh karena banyak cara untuk menyesuaikan kehidupan sosial dan budaya penghuni.

Peralatan saniter, dapur, pemipaan, dan elektronika dapat desain selaras dengan ruang-ruang yang tersedia. Sifat-sifat alami kayu yang mudah keropos dapat diatasi dengan beberapa cara tanpa mengurangi makna ruang sesungguhnya. Persepsi masyarakat yang buruk bahwa rumoh Aceh pada masa kini karena lebih tertarik pada rumah modern adalah suatu fenomena yang biasa terjadi di kota-kota besar Indonesia karena hal ini sangat tergantung pada latar belakang kehidupan dan perkembangan wawasan warga. Namun kearifan lokal rumoh Aceh di daerah rawan bencana seperti Indonesia ini tetap lebih utama untuk memberi ketenangan penghuni disamping melestarikan nilai-nilai budaya yang melekat pada rumoh Aceh.

Muttaqin : Penulis adalah pemerhati sosial dan kebencanaan

Sumber: atjehlink.com