Tuhoe XXI24 Tameh - khanduri jeurat WhatsApp Image 2018-06-29 at 4.16.03 PM

Ziarah ke kubur lalu berdoa kepada orang yang dimakamkan di sana sudah menjadi sebuah kebiasaan di Aceh. Meski masih ada perdebatan antara golongan tertentu bahwa perbuatan tersebut tergolong bidah, bagi ureueng Aceh, mendatangi makam dan mendoakan orang yang sudah menghadap Allah Swt. adalah sebuah reusam yang sudah hidup secara turun temurun.

Sudah sejak lama, ziarah kubur dilakukan orang Aceh. Bahkan, di daerah tertentu di Aceh, masyarakatnya melakukan kenduri di kuburan, terutama kuburan umum atau kuburan gampông. Kebiasaan ini dipandang sebagai sebuah iktibar bagi yang masih hidup, bahwa semua yang bernyawa akan mati.

Kenduri di kuburan atau disebut dengan khanduri jeurat ada hampir di setiap daerah di Aceh. Dalam bentuk tradisi, ia dilakukan pada hari-hari tertentu, misal menjelang puasa Ramadan dan tatkala tiba hari raya, baik Idulfitri maupun Iduladha. Dalam bentuk reusam, kegiatan tersebut memiliki perbedaan antara satu daerah dengan daerah lain. Akan tetapi, semua sepakat menyebutnya dengan istilah khanduri jeurat atau jak u jeurat.

Kebiasaan khanduri jeurat tampak semarak pada hari raya Idulfitri. Daerah tertentu sudah memulai khanduri jeurat sejak hari raya kedua, tetapi ada juga yang baru melakukan khanduri jeurat di hari ketiga Syawal. Inilah salah satu bentuk reusam yang disebut lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya.

Tidak diketahui secara pasti kapan tradisi ini dimulai di Aceh. Intinya, kebiasaan berdoa bersama dan khanduri jeurat ini sudah berlangsung sejak lama dan berlaku saban tahun.

“Tradisi ini sudah ada turun temurun sejak dulu. Momennya juga dimanfaatkan untuk berkumpul dan silaturrahmi sesama,” kata Teungku Ishak, warga Nagan Raya, beberapa waktu lalu.

Tuhoe XXI24 Tameh - khanduri jeurat WhatsApp Image 2018-06-29 at 4.03.23 PM

Di Nagan Raya, khanduri jeurat dilakukan antara minggu pertama sampai minggu kedua hari raya. Sekilas, khanduri jeurat hampir sama dengan tradisi ziarah kubur. Hanya saja, khanduri jeurat berlangsung di pemakaman umum. Khanduri diikuti oleh warga yang anggota keluarganya dimakamkan di komplek pemakaman umum tersebut. adapun ziarah kubur hanya dilakukan oleh anggota keluarga, baik di pemakaman umum maupun di pemakaman keluarga.

Terkadang kegiatan khanduri jeurat ini tidak tersusun dengan baik. Pasalnya, tidak ada panitia khusus. Aparatur gampông dan pemangku agama di gampông hanya menyepakati jadwal pelaksanaannya saja. Lalu, warga diberikan informasi tentang jadwal khanduri jeurat tersebut sehingga semua akan mempersiapkan sesuatu seperti makan dan minum untuk dibawa ke pemakaman pada hari yang sudah disepakati.

Dalam khanduri jeurat, doa dipimpin oleh teungku gampông. Selesai doa bersama, warga melakukan makan bersama. Inilah yang disebut dengan kenduri di pemakaman atau khanduri jeurat. Sebelum kegiatan kenduri dilakukan, pihak keluarga biasanya terlebih dahulu membersihkan kuburan sanak keluarganya yang dimakamkan di kompleks pemakaman tersebut.

Hampir di seluruh kecamatan di Nagan Raya ada reusam khanduri jeurat. Hanya saja, beberapa kecamatan seperti Beutong, Seunagan Timur, dan Seunagan, melaksanakan khanduri jeurat pada saat Iduladha, bukan Idulfitri.

Tuhoe XXI24 Tameh - khanduri jeurat WhatsApp Image 2018-06-29 at 4.16.04 PM

Di Aceh Utara

Jika di Nagan Raya, kenduri jeurat tidak ada panitia khusus, sedikit berbeda dengan Aceh Utara. Sebelum khanduri jeurat, terlebih dahulu dilaksanakan musyawarah gampông. Musyawarah itu bertujuan membentuk panitia khanduri.

Biasanya, khanduri jeurat di sana dilaksanakan pada hari kedua atau ketiga hari raya. Di hari khanduri, warga membawa peralatan memasak yang berdekatan dengan Tempat Pemakaman Umum (TPU). Ada kebiasaan menyembelih anak kambing juga saat khanduri berlangsung. Namun, beberapa warga juga masih tetap membawa makanan dari rumah masing-masing.

Dalam kegiatan tersebut, bukan hanya dihadiri warga yang sanak familinya dimakamkan di komplek kuburan tersebut, tetapi seluruh warga diperkenankan hadir, baik yatim maupun jompo. Di kompleks pemakaman, warga berdoa bersama yang dipimpin oleh seorang teungku, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama.

Di Aceh Utara juga terdapat tradisi yang sama. Hanya saja, beberapa gampông, seperti Matang Ben, Mukim Matang Pangkat, Kecamatan Tanah Luas, khanduri jeurat berlangsung dua kali setahun, Idulfitri dan Iduladha.

Menurut beberapa orang tua di Aceh, dari sisi agama, khanduri jeurat bertujuan memuliakan anggota keluarga yang sanak saudaranya sudah berpulang ke Rahmatullah. Secara hukum adat, khanduri jeurat dipandang sebagai tradisi turun temurun sejak nenek moyang.

Proses khanduri jeurat di sana umumnya diawali dengan doa, dilanjutkan gotong royong membersihkan kuburan, kemudian baru makan bersama. Kegiatan makan bersama tersebut sama sekali bukan pesta, melainkan rasa syukur.

Meskipun khanduri jeurat ini sudah hidup secara turun temurun, masih ada beberapa daerah yang sudah meniadakan kegiatan ini. Gampông Singgah Mata,  Mukim Sampoinet, Kecamatan Baktiya Barat, misalnya. Khanduri jeurat sudah tidak ada lagi di sana. Pasalnya, saat dilaksanakan, banyak pantangan yang harus dihindari penziarah. Ada pantangan seperti tujuh hari tujuh malam tidak boleh membawa pulang makanan yang berdarah ke rumah, tidak boleh menoleh ke belakang, dan lain-lain. Hal inilah yang membuat reusam khanduri jeurat mulai ditinggalkan di beberapa gampông.

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XXI, Juni 2018