tuhoe-xx-web.pdf (31 downloads)

Adat Kuat, Wilayah Selamat, Masyarakat Bermartabat

Delapan belas tahun silam, tepatnya pada 31 Januari 1999, di Ujong Batee, Aceh Besar, telah berkumpul para perwakilan masyarakat adat dari 50 gampông di Aceh. Mereka adalah kelompok masyarakat yang hendak membangun kedaulatan adat di Aceh. Hal ini karena ada gejolak yang muncul dalam kehidupan masyarakat akibat pembangunan yang merambah hutan adat.

Atas dasar gejolak tersebut, sekelompok masyarakat adat sepakat berkumpul, mencari solusi. Pertemuan yang digagas di Ujong Batee itu merekomendasikan dan mendeklarasikan berdirinya organisasi JKMA yang awalnya dikenal dengan Jaringan Kerja Masyarakat Adat. Lembaga ini merupakan payung pergerakan untuk menyatukan perjuangan masyarakat adat di Aceh. Dalam perjalanan waktu, JKMA diubah namanya menjadi Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh. Perubahan nama dilakukan dalam Kongres I JKMA di Asrama Haji Banda Aceh tahun 2003.

Dalam perjalanannya, nama kongres sempat berubah jadi Mubes atau Musyawarah Besar. Mubes JKMA Aceh kali ini menggali dan menetapkan agenda advokasi lanjutan serta menentukan strategi baru JKMA Aceh dalam mewujudkan, mengantarkan cita-cita masyarakat adat yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, serta bermartabat secara sosial dan budaya.

Sudah 18 tahun lebih JKMA Aceh berdiri. Layaknya anak baru baligh, belum banyak yang bisa dilakukan JKMA Aceh dalam pendampingan hak-hak lembaga dan instansi pemerintahan adat. Namun, cita-cita untuk mempertahankan, mengembangkan, dan memperjuangkan modal sosial dan nilai luhur komunitas masyarakat adat di Aceh akan terus dilakukan. Untuk itulah, Mubes tempo hari mengusung tema “Adat Kuat, Wilayah Selamat, Masyarakat Bermartabat”.

Buletin tuhoe edisi XX memberikan informasi tentang perjalanan panjang JKMA Aceh bersama dengan masyarakat adat dalam mewujudkan adat kuat, wilayah selamat, masyarakat bermartabat. Dalam edisi kali ini juga disajikan informasi tentang komunitas masyarakat adat di Aceh yang sedang memperjuangkan dan mempertahankan wilayah adatnya. Semua dilakukan agar kita benar-benar tuhoe; mengerti, memahami, dan bertindak sesuai porsi dan tupoksi masing-masing.