tuhoe xx17 Tameh Pinto Aceh

Pinto Khop atau lebih dikenal dengan Pinto Aceh merupakan salah satu motif yang sangat terkenal di Aceh. Motif Pinto Khop tidak hanya diciptakan pada kain atau batik, tetapi juga dalam bentuk benda-benda souvenir lainnya. Motif ini dianggap sebagai seni yang menunjukkan ikon Kerajaan Aceh Darussalam. Dengan motif Pinto Khop, orang Aceh hendak mengatakan bahwa Aceh dulunya adalah sebuah kerajaan hebat yang dikenal seluruh dunia.

Motif Pinto Aceh kini sering kita jumpa pada kain, tas, pin atau bros, liontin, dan pada buah tangan dalam bentuk lain. Jika motif Pinto Aceh melekat pada kain, acap kain tersebut disebut dengan batik Aceh. Jika motif tersebut diukir pada tas, orang akan menyebut tas tersebut dengan “Tas Aceh”. Motifnya bisa berupa ukiran biasa, ukiran timbul, dan bordir. Semua tergantung pada proses kreativitas tukang.

Pinto Khop sebagai sebuah karya seni bisa dibuat dalam beragam warna. Umumnya, warna motif Pinto Khop adalah warna kuning atau disebut dengan warna emas. Untuk liontin, Pinto Aceh bisa terbuat langsung dari emas, perak, kuningan, atau perunggu. Demikian pula untuk bros atau pin, selain bisa dari emas, juga dapat dibuat dengan kawat putih. Banyak pedagang souvenir sengaja menjual tas, baju, sarung, kopiah, dan lain-lain dengan ukiran Pinto Aceh demi menarik pangsa pasar.

Pin berbentuk Pinto Aceh yang terbuat dari perak atau kuningan sering dijajakan di toko souvenir. Pin dengan motif Pinto Aceh sangat mudah ditemukan di Aceh. Dipastikan pada semua toko souvenir ada dijual pin Pinto Aceh sehingga motif ini benar-benar menjadi ikon buah tangan dari negeri Aceh. Pada toko-toko souvenir di luar Aceh pun sering dijajakan pin bermotif Pinto Aceh. Singkatnya, motif Pinto Aceh atau Pinto Khop benar-benar dijadikan sebagai ikon souvenir Aceh, selain rincong.

Sejarah Motif Pinto Khop

Motif Pinto Aceh mulanya ditemukan pada tahun 1939. Namun, ada juga catatan yang menyebutkan bahwa karya seni ini sudah ada sejak tahun 1926. Corak ini ditemukan oleh Mahmud Ibrahim, seorang pengrajin emas dari Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Kepiawaian lelaki yang disapa Utoh Mud dalam menciptakan karya seni ini mendapatkan lisensi resmi langsung dari Pemerintah Belanda di Kutaraja kala itu.

Awalnya, Utoh Mud membuat satu perhiasan berupa pin berbentuk Pinto Aceh. Pemerintah Belanda takjub dan langsung memberikan apresiasi terhadap karya seni yang diciptakan oleh Utoh Mud tersebut. Bukan hanya indah, pin berbentuk Pinto Aceh tersebut dianggap sebagai karya seni simbolis yang luar biasa.

Ketika itu, pin yang diciptakan Utoh Mud berbentuk ramping dengan jeruji-jeruji yang dihiasi motif kembang. Pada setiap ujungnya ada gulungan-gulungan kecil. Desain ini diciptakan Utoh Mud berdasarkan amatannya terhadap peninggalan sejarah Kerajaan Aceh, yakni pinto khop. Pinto khop merupakan pintu istana Kerajaan Aceh bagian belakang, jalan menuju Taman Ghairah atau Bustanussalatin. Pintu itu tempat keluar-masuk permaisuri dan dayang-dayang.

Sekarang, motif Pinto Aceh semakin dikenal luas dan bukan hanya dibuat berbentuk pin, tetapi juga terdapat pada sejumlah souvenir lain khas Aceh, seperti tusuk sanggul, gelang, cincin, subang, dan peniti kebaya. Bahkan, corak Pinto Aceh kini sudah mengalami pengembangan. Jika dulu ujung setiap ukiran Pinto Aceh ada gulungan kecil-kecil, sekarang ada yang tidak bergulung lagi. Namun, pola dasarnya tetap sama, ramping dan mengembang.

Kini, souvenir berbentuk Pinto Aceh bukan hanya bisa dinikmati para wanita, tetapi juga tersedia untuk pakaian pria, mulai dari baju bermotif Pinto Aceh sampai jepitan dasi. Souvenir berbentuk Pinto Aceh semakin familiar mendampingi souvenir khas lainnya seperti rincong dan kopiah meukeutop.[Herman RN]

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XX, Desember 2017