Seribuan kepala keluarga (KK) yang berprofesi sebagai petani mereboisasi kawasan kaki Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) sejak 1997. Kawasan kilang kayu yang telah ditinggalkan pemiliknya seiring ada operasi pemberantasan ilegal logging telah ditanami berbagai jenis tanaman, baik tanaman muda maupun keras.

Diperkirakan, dari 66.000 hektare area kaki TNGL, 46.000 hektare di antaranya telah dimanfaatkan sebagai pemukiman penduduk bagi sekitar 20.000 jiwa, juga area pertanian dan perkebunan. Sebagian kawasan ini, sebelumnya sempat gundul akibat maraknya penebangan hutan, tetapi saat ini, sebagian di antaranya telah kembali hijau.

Dilaporkan, para petani menanam tanaman produktif untuk menghidupi keluarganya, terutama yang digalakkan Pemkab Agara, seperti jagung, coklat, karet, sawit, pisang dan lainnya, termasuk tanaman keras. Tetapi, 20.000 hektare lainnya masih ditumbuh semak-belukar, yang sebelumnya menjadi area penebangan hutan secara ilegal.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Petani Kawasan Kaki Gunung Leuser (PPKK-GL), Aceh Tenggara, Muslim, kepada Serambi, Rabu (21/10) mengatakan area garapan petani tersebar di empat kecamatan. Disebutkan, 27.000 hektare tersebar di Kecamatan Lawe Alas, Tanoh Alas, Babul Rahmah dan Leuser 39.000 hektare dan telah digarap petani sejak 1997 sampai saat ini.

Muslim mengungkapkan Mabes Polri menggelar operasi besar-besaran pada 2006 untuk menutup puluhan kilang kayu yang menggunakan mesin sawmil. “Pemerintah tidak mereboisasi kawasan gundul akibat ilegal logging, sehingga warga memanfaatkannya, sekaligus melakukan penghijauan,” jelasnya.

Menurut dia, saat lahan ditinggalkan pemilik kilang kayu, masyarakat tidak mengetahui tapal batas dan tidak larangan dari Balai Besar TNGL untuk bercocok tanam. Tetapi, pada 2014, eksekusi lahan milik petani terjadi, yang berujung terjadinya konflik antara petani dengan BBTNGL hingga kini dan belum ada titik temu.

Dia yang mewakili seribuan petani di kaki TNGL berharap agar Gubernur Zainil Abdullah dan Wagub Muzakir Manaf menerbitkan Qanun Hutan Adat untuk TNGL. Tetapi, seperti diketahui, usulan awal tetap dari DPRK Agara, kemudian diteruskan ke DPRA sebelum diusulkan untuk disetujui oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Konflik antara petani dengan Balai Besar TNGL harus segera diselesaikan, sebelum jatuh korban jiwa,” ujarnya. Dia menegaskan masyarakat siap mempertahankan haknya dengan cara apapun, apalagi kawasan itu telah menjadi satu-satunya harapan hidup masyarakat, bukan hanya untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga biaya pendidikan bagi anak-anak mereka.

“Rakyat siap melakukan apapun untuk mempertahankan sejengkal perut,” ujar Muslim. Menurut dia, jumlah petani di kakiTNGL mencapai 20 ribu orang, sehingga harus ada perhatian dari pemerintah, agar rakyat di kaki TNGL juga sejahtera, seperti kawasan lainnya di Aceh.

Sebelumnya dilaporkan, para petani di kawasan terisolir kawasan Kompas, Kecamatan Leuser, Agara pada November 2014 lalu yakni pada Selasa, Rabu, dan Kamis (11,12,13) berupaya melakukan dialog dengan petugas TNGL yang mengeksekusi lahan mereka. Petugas beralasan lahan itu dieksekusi karena masuk dalam kawasan konservasi TNGL.

Salah seorang petani di kawasan itu, Mawardi menyampaikan hal ini kepada Serambi, Minggu (16/11/2014) dan Sabtu (22/11). Menurutnya, sejak 2004 pihaknya telah membuka lahan di Kompas untuk menanami kakao, cabai, jagung, dan lain-lain sehingga sudah menghasilkan. Namun, dalam tiga hari itu datang petugas sekitar 10 orang dari TNGL bersama polisi bersenjata mengeksekusi karena mengklaim tanaman itu masuk dalam areal konservasi TNGL.

DPRK Aceh Tenggara (Agara) mendukung petani di kaki Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) untuk tetap bermukim secara permanen. Dewan Negeri Sepakat Segenap ini akan memperjuangkan kawasan pemukiman itu menjadi hutan adat, sehingga dapat dikeluarkan dari hutan negara secara ilegal.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua DPRK Agara, Bukhari, Kamis (8/10) terkait tuntutan para petani Leuser yang meminta eksekusi lahan garapan mereka diakhiri. “Kami bersama seluruh anggota dewan Agara akan menggelar rapat untuk membahas kawasan petani di kaki Leuser menjadi hutan adat,” jelasnya.(as)

Sumber: Serambi Indonesia