KUTACANE – Para petani Leuser yang tergabung dalam Persatuan Petani Kaki Gunung Leuser (PPKK-GL), Aceh Tenggara (Agara) meminta perhatian dari Pemrov Aceh, terutama Gubernur Zaini Abdullah dan Wagub Muzakir Manaf (Zikir). Kedua pemimpin Aceh itu dinilai belum turun tangan menyelesaikan konflik dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL).

Mereka menyebut Zikir tidak peduli kepada petani di kaki gunung Leuser, sehingga konflik belum tuntas. Sekretaris PPKK-GL, Muslim, kepada Serambi, Rabu (07/10) mengatakan keresahan warga kaki gunung Leuser belum reda, karena isu eksekusi lahan petani terus menyebar. “Gubernur Zaini Abdullah seharusnya mencari solusi agar konflik ini berakhir,” harapnya.

Dia berharap, Gubernur Zaini Abdullah yang baru kembali dari menunaikan ibadah haji memiliki kepekaan dengan kondisi petani Leuser yang terus merasa was-was. “Kami berharap, gubernur dapat menyelesaikan konflik petani dengan BBTNGL, sehingga kami dapat mencari nafkah dengan tenang,” harap Muslim.

Muslim mengklaim Pemerintahan Zikir kurang memberi perhatian di wilayah Aceh Leuser Antara (ALA), baik dari segi perekonomian rakyat maupun pembangunan. “Sebagian besar warga Agara berprofesi sebagai petani, termasuk di kaki Gunung Leuser yang telah dijadikan sumber penghidupan secara turun-temurun,” ujarnya.

Dia mengungkapkan para petani Leuser berharap, agar tetap dapat mengelola area yang telah ditanami dengan berbagai tanaman produktif sambil menunggu Surat Keputusan dari Kementerian Kehutanan. Dia mengungkapkan, berdasarkan hasil rapat di Kantor Kemenhut dengan Komisi II DRPA pada 19 Agustus 2015 lalu, belum ada titik temu.

Disebutkan, Direktur Kawasan Konservasi Hutan Kemenhut dan Lingkungan Hidup, Ir Hartono MSi hanya berjanji akan menyampaikan permintaan dari kedua belah pihak ke Menteri Kehutanan, Siti Nurbaya. Pihak DPRA dan PPKK-GL meminta Kemenhut menghentikan eksekusi lahan petani di TNGL

Tetapi pihak lainnya, Andi Basrul, Kepala BBTNGL menegaskan tidak akan menghentikan penertiban lahan dengan mengeksekusi tanaman rakyat, kecuali ada perintah penghentian dari Menhut Siti Nurbaya. “Pertemuan itu tidak menghasilkan apapun, karena Menteri Siti Nurbaya tidak hadir,” ujar Muslim yang juga hadir di pertemuan itu.

Dia menyebutkan pihak BBTNGL tetap akan mengeksekusi lahan rakyat dan konflik terus berlarut-larut, sehingga petani dirugikan. “Berdasarkan persoalan itu, kami melihat pemerintah Zikir kurang peduli terhadap persoalan yang menimpa petani kaki gunung Leuser yang sudah setahun lebih,” klaimnya.

Dia menegaskan penghijauan kembali lahan akibat perembahan hutan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab dilakukan oleh petani Leuser secara sukarela, bukan pihak lain. “Kalau ada pihak lain yang mengklaim melakukan reboisasi di TNGL, maka tunjukkan kepada kami,” tegasnya.

Sehari sebelumnya, seratusan petani yang tergabung dalam Persatuan Petani Kawasan Kaki Gunung Leuser (PPKK-GL) Aceh Tenggara (Agara), Selasa (6/10) menggelar demonstrasi. Mereka melempar batu ke Kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II di Tanah Merah, Kecamatan Badar, Agara.

Para petani ini yang tersebar di kawasan kaki Taman Nasional Gunung Leuser telah berkumpul di Kutacane sejak dua hari lalu. Mereka meluapkan kemarahan atas aksi petugas BBTNGL yang mengeksekusi lahan pertanian yang telah ditanami dengan berbagai jenis tanaman produktif, seperti coklat dan lainnya.

Mereka menuntut lahan tidak dieksekusi lagi, tapal batas direvisi, usut dana BBTNGL 2010-2015, usut pejabat penguasa lahan, Kantor pusat BBTGL di Agara dan ilegal logging diberantas.(as)

Sumber: Serambi Indonesia