Atraksi pacuan kuda sebagai salah satu jenis permainan tradisional asal Takengon. (REUTERS | Tarmizy Harva)

Atraksi pacuan kuda sebagai salah satu jenis permainan tradisional asal Takengon.(REUTERS | Tarmizy Harva)

PERMAINAN tradisional merupakan sejumlah lakon dalam keseharian masyarakat yang kemudian diseja­jarkan menjadi sebuah keriangan. Lakon itu lalu dijadikan sebagai sebuah permainan yang hidup dan berkembangan dalam masyarakat secara regenerasi.

Seluruh daerah di permukaan bumi ini tentunya memiliki lakon yang ke­mudian disebut sebagai permainan tradisional. Sayangnya, beberapa daerah yang memiliki permainan tra­disional sudah hampir terpinggirkan dan tergantikan dengan permainan modern. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar. Di Aceh sendiri, ter­catat sejumlah permainan tradisional dalam masyarakatnya, yang diharap­kan tetap eksis, kendati permaian baru bermunculan.

(museum-layang.com)

(museum-layang.com)

Geulayang Tunang

Geulayang Tunang terdiri atas dua kata, yaitu geulayang yang berarti layang-layang dan tunang berarti pertandingan. Dari namanya jelas mempertegas bahwa geulayang tunang merupakan pertandingan layang-layang atau adu layang yang diselenggarakan pada waktu ter­tentu. Permainan ini sangat digemari masyarakat di berbagai daerah di Aceh. Mengenai nama permainan jenis ini, ada pula yang menyebutnya adu geulayang. Kedua istilah yang disebutkan terakhir memiliki maksud dan arti yang sama.

Pada zaman dahulu, permainan ini diselenggarakan sebagai pengisi waktu setelah masyarakat suatu tempat panen padi. Sebagai pengisi waktu, permainan ini sangat bersifat rekreatif. Oleh karena itu, permainan ini sering kali dilombakan dalam ac­ara peringatan hari kemerdekaan RI atau even-even kebudayaan lainnya di Aceh semisal Pekan Kebudayaan Aceh.

Atraksi geudeu-geudeu di Pidie yang dilakukan oleh orang dewasa. (Harian Aceh)

Atraksi geudeu-geudeu di Pidie yang dilakukan oleh orang dewasa. (Harian Aceh)

Atraksi geudeu-geudeu di daerah Pidie yang dilakukan oleh masyarakat Pidie. Atraksi ini dilakoni anak-anak, tetapi juga boleh oleh orang dewasa. (harian-aceh.com | Irfan Sofyan)

Atraksi geudeu-geudeu di daerah Pidie yang dilakukan oleh masyarakat Pidie. Atraksi ini dilakoni anak-anak, tetapi juga boleh oleh orang dewasa. (harian-aceh.com | Irfan Sofyan)

Geudeue-Geudeue

Geudeue-geudeue atau ada yang menyebutnya due-due adalah per­mainan ketangkasan yang terdapat di daerah Pidie. Di samping ketang­kasan, kegesitan, keberanian, dan ke­tabahan, pemain geudeue-geudeue harus bertubuh tegap dan kuat serta memiliki otot yang meyakinkan. Permainan ini kadang-kadang berba­haya, karena merupakan permainan adu kekuatan.

Permainan ini dilakukan oleh se­orang yang berbadan tegap. Mulanya dia tampil di arena menantang dua orang lain yang juga bertubuh tegap. Pihak pertama mengajak pihak kedua yang terdiri atas dua orang supaya menyerbu kepada yang menantang. Ketika terjadi penyerbuan, pihak per­tama memukul dan menghempaskan penyerangnya (pok), sedangkan pihak yang pihak kedua menghem-paskan pihak yang pertama.

Dalam tiap permainan, bertindak empat orang juru pemisah yang disebut ureueng seumubla (juri), yang berdiri selang-seling mengawasi setiap pemain. Permainan ini mirip dengan olahraga sumo Jepang, be­danya hanya pada jumlah pemain.

Peupok Leumo

Peupok Leumo adalah sejenis per­mainan yang khas terdapat di Aceh Besar. Permainan ini merupakan suatu permainan mengadu sapi. Permainan ini sebelumnya berkem­bang di kalangan peternak sapi. Zaman dahulu, lazimnya peupok leumo diselenggarakan oleh seke-lompok peternak yang berada pada satu lokasi seperti yang berada pada satu kampung atau lebih luas lagi satu mukim, yang diselenggarakan seminggu sekali. Hari penyelengga­raan permainan ini biasanya setiap Minggu atau Jumat, tetapi tidak tertutup kemunginan di hari lainnya. Lazimnya dilaksanakn pada sore hari, sekitar pukul 16.00-18.00 WIB atau selepas asar.

Selaian peupok leumo yang mirip dengan karapan sapi di Betawi, masih ada lagi acara peupok leumo tunang, yaitu permainan peupok leumo untuk mencari sapi yang akan keluar sebagai pemenang. Acara peupok leumo tunang ini biasanya diselenggarakan dengan meng­gunakan panitia dan dewan juri. Persoalan waktu, tergantung kepada cuaca dan musim-musim tertentu, seperti sehabis panen atau waktu lain seperti pada hari-hari besar dan sebagainya.

Pacu Kude

Pacu Kude dapat diartikan duduk di atas kuda yang lari atau dapat diarti­kan sebagai pacuan kuda. Permainan ini terdapat di Kabupaten Aceh Te-ngah. Hal ini karena daerah Takengon terdapat padang rumput yang sangat luas serta kuda memang alat ang­kutan yang sangat praktis di daerah pegunungan, di samping untuk mem­bajak sawah.

Sehabis panen, biasanya kuda-kuda ini tidak mempunyai kegiatan apa-apa yang dianggap penting. Waktu-waktu seperti itu sering kuda-kuda tersebut berlari-lari berkelompok. Kebiasaan ini dikoordinir akhirnya terbentuk permainan pacu kude. Pada awalnya permainan ini adalah permainan informal, tidak ada aturan yang baku untuk dilaksanakan. Namun, lama kelamaan, permainan ini ditingkatkan menjadi permainan resmi dan terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi.

Bola Keranjang

Bola keranjang atau bahasa Gayo di-sebut dengan tipak rege merupakan sejenis permainan bola yang dibuat dari rotan belah yang dipergunakan pada permainan sepak raga (sepak takraw). Permainan ini sudah jarang sekali dilakukan. Pada bola keran­jang diikat rumbai-rumbai kain yang berwarna merah, putih, dan hitam, sebanyak 15 helai. Zaman masa da­hulu, sepak raga merupakan sejenis permainan rakyat. Permainan ini san­gat digemari oleh anak-anak, rem­aja/pemuda maupun orang-orang dewasa. Mereka memanfaatkan waktu-waktu senggangnya dengan permainan ini.

Lenggang Rotan

Lenggang rotan merupakan jenis permainan yang terbuat dari rotan kecil yang dibuat melingkat seperti gelang besar. Rotan yang digunakan biasanya seukuran jempol tangan atau bisa lebih kecil. Rotan yang sudah dilingkarkan seperti gelang besar akan dimainkan di pinggang sambil menggoyang pinggang. Rotan tersebut akan berputar. Orang yang rotannya jatuh terlebih dahulu diang­gap kalah. Permaianan ini umumnya juga terdapat di dataran tinggi Gayo, karena di sana memang terdapat banyak rotan.her’N/dbs


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi VIII, Mei 2009