tuhoe 13 peutimang 3d person & globe (www.flickr.com_photos_crystaljingsr)Ilustrasi: (Flickr.com | Crystaljingsr)

Terlepas dari pro dan kontra apakah perubahan iklim memang sungguh terjadi, ilmuwan mencatat adanya perubahan yang signifikan pada atmosfer bumi dan mengganggu keseimbangan serta keberlanjutan kehidupan umat manusia. Sejak lebih dari dua dekade, dunia internasional memberi perhatian khusus untuk persoalan ini dengan menunjuk sejumlah organisasi internasional untuk menanganinya, seperti WMO dan UNEP.

Pada pertemuan Puncak Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992 telah lahirlah UNFCCC, sebuah kesepakatan multilateral yang menaungi pembahasan dan pengambilan keputusan mengenai perubahan iklim global. Kenyataannya, bersepakat untuk kebaikan bersama adalah hal yang tidak mudah dalam sebuah forum politik lingkungan global seperti UNFCCC. Kegagalan COP 15 di Copenhagen Desember 2009 lalu dalam menelurkan kesepakatan global untuk melangkah maju sebagai upaya penurunan suhu atmosfer bumi adalah buktinya.

Tidak hanya ilmuwan yang mencatat adanya perubahan. Masyarakat biasa pun mengamati dan mengalami dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, pengalaman dan pengamatan belaka belum tentu akan mengantar pada suatu pemahaman yang lebih komprehensif terhadap gejala, akibat-akibat yang akan ditanggung baik secara lokal maupun global, dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditempuh untuk mengatasi dan beradaptasi dalam perubahan, mengingat perubahan iklim yang terjadi hari ini berskala global dan terdiri dari berbagai faktor yang saling terkait.

Di lain sisi, walaupun kemaslahatan masyarakat kerap dinyatakan sebagai pokok perhatian utama para birokrat dan politikus yang terlibat dalam negosiasi internasional seperti dalam UNFCCC, masyarakat yang disebut-sebut belum tentu mengikuti apalagi memahami proses perundingan yang melibatkan kehidupan mereka. Utusan JKMA Aceh yang berkesempatan menghadiri salah satu sesi perundingan UNFCCC mengakui adanya keterasingan tersebut. Di tingkat akar rumput pun, hasil penelitian JKMA Aceh mengungkapkan kurangnya informasi mengenai skema-skema yang dirancang terkait persoalan perubahan iklim.

Untuk menjembatani kesenjangan partisipasi masyarakat dan memberi kesempatan berefleksi atas pemahaman dan pengalaman masyarakat yang pada gilirannya diharapkan akan mendorong perilaku yang positif dalam menyikapi perubahan iklim, Down To Earth bekerja sama dengan JKMA Aceh menyelenggarakan Training Perubahan Iklim untuk kader-kader pelatih anggota JKMA Aceh yang ada di wilayah.

Kegiatan training untuk kader perubahan iklim ini dilakukan di Saree selama tiga hari, dimulai dari tanggal 10-12 Mei 2010. Dalam pelatihan ini, ada beberapa materi yang disampaikan oleh para tutor yang didatangkan dari Jakarta. Para tutor tersebut seperti Adriana Sri Adhiati dari DTE (Down To Earth) yang membahas tentang Sejarah Perubahan Iklim di Global. Adriana juga menjelaskan sekitar aksi masyarakat adat dalam menghadapi perubahan iklim.

Tutor berikutnya adalah Bernadinus Steni, dari lembaga Perkumpulan Huma Jakarta yang membahas tentang Konvensi Perubahan Iklim dan Perubahan Iklim, REDD & Perdagangan Karbon. Dia juga menjelaskan tentang sejarah mulanya REDD dan perdangangan karbon di dunia serta peran dari Pemerintah Indonesia dan aktor yang terlibat dalam menghadapi perubahan iklim.

Devi Anggraini dari Down To Earth (DTE) yang merupakan tutor lainnya, mencoba memberikan makalah tentang Perubahan Iklim dalam Perspektif Gender serta menjelaskan dampak yang dihadapi oleh perempuan adat akibat dari perubahan iklim yang terjadi saat ini. Perubahan ini memberikan dampak yeng terbesar kepada kaum perempuan. Kaum perempuan harus memenuhi kebutuhan dalam rumah tangganya, seperti penyediaan air bersih pada saat musim kemarau, mengasuh anak yang sakit, dan sebagainya.

Betti Tiominar dari Down To Earth (DTE) yang juga terlibat sebagai tutor dalam kegiatan itu, membahani tentang Kebijakan untuk Bahan Bakar Nabati. Saat sekarang ini, menurut dia, banyak negara maju mencoba mengalihkan bahan energi fosil kepada bahan bakar nabati. Jika dilihat di Indonesia, pemerintah juga mencanangkan perkebunan rakyat secara besar-besaran, tidak terlepas juga Pemerintah Aceh yang mencanangkan Sejuta Hektar Perkebunan Sawit.

Selain dari para pemateri itu, kegiatan tersebut juga dibantu oleh seorang fasilitator, Budi Arianto, dari JKMA Aceh. Budi membantu proses training ini berjalan sesuai dengan alur yang telah disepakati oleh seluruh peserta. Peserta yang mengikuti pelatihan ini terdiri dari seluruh JKMA Wilayah yang ada di Aceh dan mitra JKMA Aceh yang ada di Banda Aceh, seperti Walhi Aceh, Aceh Institute, YRBI, dan Kontras Aceh.

Akibat Universal

Perubahan iklim global yang terjadi saat ini juga dirasakan oleh masyarakat di wilayah dataran tinggi atau pengunungan, pesisir pantai barat hingga selatan, dan pesisir pantai timur hingga ke utara. Tidak terlepas juga di wilayah kepulauan yang ada di Aceh. Perubahan iklim yang terjadi telah berakibat menimbulkan dampak seperti terjadinya banjir, tanah longsor, kekeringan dan gagal panen serta timbulnya berbagai wabah penyakit.

Selain dari pelatihan ini, JKMA Aceh juga sudah melakukan beberapa kegiatan yang berkenaan dengan perubahan iklim yang terjadi. JKMA Aceh melalui JKMA Wilayah sudah melakukan di antaranya CBDRM (Community Base Disaster Risk Management) atau disebut juga dengan Penanggulangan Bencana Berbasis Komunitas. Kegiatan ini dilakukan oleh JKMA Suloh Tamiang. Selanjutnya, ada pula Pembuatan Biogas yang dilakukan oleh JKMA Pase.

Dengan adanya pelatihan untuk kader-kader yang paham akan perubahan iklim ini, nantinya akan memberikan informasi kepada masyakat yang ada di wilayah masing-masing atau kelompok dampingan tentang perubahan iklim yang terjadi saat ini serta antisipasi dalam menghadapi perubahan iklim tersebut. Semoga!

Oleh Zulfikar Arma. Aktivis JKMA Aceh


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XIII, September 2010