Aceh Tamiang tahun 2006 dikejutkan dengan banjir bandang yang menghentakkan seluruh masyarakat adat dan merusak infrastruktur pemerintah.

Aceh Tamiang tergolong kabupaten yang rawan bencana banjir disebabkan pembuangan air dari Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Tenggara. Dari hasil PRA (participatory rural appraisal), Aceh Tamiang mulai banjir besar dari tahun 1896, 1906, 1929, 1973, 1975, 1985, 1995. Banjir terbesar pada tahun 2006. Musibah banjir di daerah ini kerap terjadi tahunan.

Berdasarkan amatan itu, JKMA Suloh Tamiang berinisiatif membangkitkan kemampuan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana banjir dengan sistem kearifan lokal yang sudah ada dalam masyarakat itu sendiri. Kearifan yang dimiliki masyarakat setempat selama ini seperti tanda-tanda alam melalui hewan atau mimpi, juga lewat cerita orang-orang tua. Di antara tanda-tanda itu, misalnya, ikan mungkus (anak ikan) naik dari hilir ke hulu sungai. Jika terjadi demikian, diperhitungkan sekitar tiga hari setelahnya akan terjadi banjir besar.

Dari hasil kegiatan musyawarah kampong, terbentuklah tim siaga bencana kampong dan tim siaga bencana mukim. Tim ini sebenarnya sudah ada sejak dahulu, tetapi tidak terkoordinir. Saat ini, struktur dalam respon darurat tim siaga bencana kampong dikoordinasikan langsung oleh datok (geuchik). Tingkat mukim dikoordinir langsung oleh kepala mukim. Tim siaga bencana melakukan evakuasi dan pendataan jumlah penduduk serta kebutuhan masyarakat saat menghadapi bencana.

Hasil pendataan tim siaga bencana kampong dan tim siaga bencana mukim ditujukan kepada pihak kecamatan. Pihak camat selanjutnya melaporkan ke Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bekerja sama dengan seluruh instansi pemerintah yang terlibat dalam respon tanggap darurat.

Dalam kegiatan pengurangan risiko bencana banjir yang difasilitasi JKMA Suloh Tamiang di Kemukiman Alur Jambu, Kecamatan Bandar Pusaka, diputuskan adanya kampong percontohan siap siaga, yaitu kampong Sunting. Kampong ini memiliki perlengkapan cukup saat menghadapi bencana banjir.

Usaha JKMA mendorong masyarakat dalam pegurangan risiko bencana tingkat kampong dan tingkat mukim tidaklah sia-sia. Kesadaran masyarakat untuk waspada sangat tinggi dan sistem informasi serta kerja sama dengan seluruh instansi terlibat dalam respon tanggap darurat mulai terbangun dengan baik.

Oleh karena itu, diharapkan daerah lain di Aceh Tamiang juga memiliki kesadaran serupa dalam mengurangi risiko bencana, terutama banjir, yang sudah menjadi langganan tahunan di daerah ini.

tuhoe 14 saweue gampong 01Workshop pengurangan risiko bencana yang melahirkan EWS (Early Warning System) dan Tim Siaga Bencana tingkat kampung dan mukim di Kemukiman Alur Jambu Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang.

tuhoe 14 saweue gampong 02Para peserta yang terlibat dalam simulasi tanggap darurat Kabupaten Aceh Tamiang yang dilaksanakan di halaman Kantor Bupati Aceh Tamiang. (DOK. JKMA SULOH TAMIANG)

tuhoe 14 saweue gampong 03Aktor yang berperan sebagai korban banjir bandang, saat simulasi tanggap darurat Kabupaten Aceh Tamiang.

Struktur Tim Siaga Bencana Kampong Sunting Kemukiman Alur Jambu, Kecamatan Bandar Pusaka

tuhoe 14 saweue gampong struktur

Oleh Naimah Sekpel JKMA Suloh Tamiang


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XIV, Desember 2011