Secara administratif Mukim Beungga terletak di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh dan berjarak 25 KM ke arah utara dari ibukota Kabupaten Pidie. Secara Geografis Mukim Beungga memiliki batas wilayah sebelah utara dengan Kecamatan Tiro Truseb, selatan berbatas dengan Aceh Besar, timur berbatasan dengan Mukim Blang Bungong dan barat berbatasan dengan Mukim Keumala. Mukim Beungga terdiri dari enam gampong yaitu Gampong Lhok Keutapang, Gampong Alue Calong, Gampong Pulo Ie, Gampong Beungga, Gampong Krueng Seukek dan Gampong Blang Malo. Dengan jumlah penduduk 3.394 jiwa (1.024 KK), yang terdiri dari 3.977 jiwa laki-laki dan 3.686 jiwa perempuan. (Lihat Tabel Data Jumlah Penduduk Mukim Beungga).

tuhoe 15 saweue gampong - tabel data jumlah penduduk mukim beungga

Berdasarkan hasil perencanaan pada Duek Pakat Mukim Beungga pada tanggal 18-19 Januari 2010, menghasilkan rumusan visi Mukim Beungga adalah “saban-saban taseumikee’ beusabee tapeubuet, mangatjeut keubuet ban tjita-tjita, tapeudong hukom atoe beu-ade mangat beuseujahtera dalam Mukim Beungga” (Bersama kita fikirkan, selalu kita kerjakan untuk mencapai tujuan, serta menegakkan hukum, menjalankan dengan adil semoga sejahtera masyarakat Kemukiman Beungga).

Misi Mukim Beungga, pertama: Tapu wou marwah Mukim Beungga lagee amanah endatu (kita perjuangkan marwah mukim seperti cita-cita nenek moyang); kedua: Tapeu daulat keulayie beumeu angkee wase asoe bumoe lam jaroe Mukim Beungga (mari kita bahu membahu untuk mengembalikan kedaulatan hasil bumi dalam genggaman Mukim Beungga); dan ketiga: Peubuet beu ase, hase beu beurkat dalam hareukat siurou-orou, mita raseuki beujeut keu pangkai, beuna manfaat keu aneuk cuco (yang kita kerjakan harus berhasil, mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, dalam mencari rezeki semoga bisa menjadi modal hidup, dan harus bersinambungan untuk anak cucu nantinya).

Sedangkan untuk Isu strategis untuk mendukung visi dan misi mukim bengga yang terbagi ke dalam tiga bidang; pertama kelembagaan “ menciptakan tata pemerintahan Mukim Beungga yang baik dan demokratis”; kedua perekonomian ”pemanfaatan potensi sumber daya alam mukim demi peningkatan kesejahteran masyarakat di Kemukiman Beungga”; Dan ketiga sumber daya alam “penguatan aturan adat dalam pengelolaan sumber daya alam mukim”.

tuhoe 15 saweue gampong - Peta Beungga

HUTAN ULAYAT MUKIM BEUNGGA

Hutan ulayat Mukim Bengga terletak dalam kawasan Hutan Ulu Masen, di mana merupakan kawasan rencana proyek REDD Ulu Masen Aceh, kawasan tersebut mencakup 21% (750.528 hektar) dari 3.549.813 hektar luas hutan Aceh berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 170/Kpts-II/2000 tentang Kawasan Hutan dan Perairan di Aceh. Kawasan Hutan Ulu Masen dikenal sangat kaya akan keanekaragaman hayati, di mana kita dapat temukan berbagai jenis tumbuhan dan satwa, salah satunya Harimau Sumatra (panthere tigris sumatrae) dan mamalia besar Sumatra yang terancam punah yaitu Gajah Sumatra (elephan maximus sumatranus). Selain itu kawasan hutan ini juga sebagai penyerapan karbon yang cukup besar.

Pada tahun 2010 JKMA Pidie bersama dengan Mukim Beungga dan seluruh masyarakat Beungga melakukan pemetaan wilayah dengan menghasilkan tiga jenis peta di antaranya; Peta Hutan Ulayat Mukim, Peta Fasilitas Umum dan Peta Tata Guna Lahan Mukim Beungga.

Berdasarkan hasil pemetaan lapangan dan analisis GIS (Geographical Information System) di mana Hutan Ulayat Mukim Beungga seluas 14.088.65 Ha. Yang terdiri dari Hutan Produksi seluas 6.347,53 Ha (45%), Hutan Lindung seluas 6.385,37 Ha (45%), dan Areal Penggunaan Lain (APL) seluas 1.355,75 Ha (10%). Luasan ini termasuk 1.347,06 Ha Hutan Produksi dan 1.183,82 Ha Hutan Lindung yang terdapat kebun, ladang atau tanda secara adat bahwa lokasi tersebut telah ada yang menggarap.

Bagi masyarakat Mukim Beungga, Kawasan Hutan Ulayat Mukim sangat penting di mana memiliki fungsi ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Secara Ekologi; keberadaan hutan ini menjaga keseimbangan lingkungan, penyimpanan air untuk wilayah Beungga dan sekitarnya serta sumber air untuk sungai yang memiliki hulu di wilayah tersebut. Secara Ekonomi; masyarakat Beungga menggantungkan hidupnya dari wilayah hutan tersebut baik untuk ketersediaan air irigasi maupun untuk pemungutan hasil hutan. Secara Sosial Budaya; hutan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat adat Aceh, di mana hutan ulayat sebagai simbol pengakuan masyarakat adat, bahkan sepanjang sejarahnya Aceh memiliki panglima uteun yang secara khusus bertanggung jawab untuk pengelolaan hutan.

tuhoe 15 saweue gampong - zulfikar armaOleh Zulfikar Arma, Kadiv. Riset JKMA Aceh

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XV, Desember 2012