SISTEM pengelolaan hutan adat berkaitan erat dengan fungsi dan peran petua sineubok. Sineubok adalah wilayah baru di luar gampông yang pada mulanya berupa hutan kemudian dijadikan kebun (ladang). Pembukaan sineubok harus selalu memperhatikan aspek lingkungan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi manusia dan lingkungan hidup. Ada sejumlah aturan yang dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat Aceh sejak tempoe doeloe.

Nama Pantang-Larang Uraian
Larangan menebang pohon Kira-kira 500 meter dari tepi danau atau waduk.Kira-kira 200 meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai pada daerah rawa.Kira-kira 100 meter dari kiri kanan tepi sungai.Kira-kira 50 meter dari kiri kanan tepi anak sungai (alue).Kira-kira dua kali kedalaman jurang dari tepi sungai.
Pantangan jambo Jambo/pondok tidak boleh dibuat di lintasan binatang buas dan makhluk halus penghuni rimba.Bahan jambo tidak boleh menggunakan kayu bekas lilitan uroet, dipercayai akan mengundang ular.
Pantangan darut  Anggota sineubok pantang menggantung kain pada pohon, meneutak parang pada tunggul pohon, karena dipercaya dapat mendatangkan hama darut/belalang.
Pantang meu’uk-uk Pantang memanggil-manggil sambil menjerit dalam hutan atau ladang, dipercaya dapat mendatangkan hama tikus, rusa, kijang, monyet, dan landak.
Teumeubang wate pade mirah Pantang menebang pohon kayu ketika padi akan dipanen, akan mendatangkan hama geusong (wereng).
Pantang ceumecah lam ujeun tunjai Pantang menebang semak belukar saat hujan atau sedang roh pade (padi mau berisi) karena bisa mendatangkan petaka hama belalang, jutaan belalang akan memakan batang padi yang masih muda sehingga gagal panen. 

Dalam memilih lahan lokasi pembukaan kebun, menurut adat sineubok, perlu mempertimbangkan posisi letak kemiringan utara-selatan sesuai dengan siklus edar cahaya matahari. Dalam hal ini dikenal hadih maja: Tanoh sihèt u timu pusaka jeurat/ Sihèt u barat pusaka papa/Sihèt u tunong geulantan/Sihèt u seulatan pusaka kaya// ’tanah miring ke timur pusaka kubur/ miring ke barat pusaka papa/ miring ke utara tanah yang menang/ miring ke selatan pusaka kaya.(dbs)

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XVII, Mei 2016