haba mukim - DSC_6320

tuhoe—KAPAL asing itu bernama “Nisero”. Isinya 18 orang kebangsaan Inggris, dua orang kebangsaan Belanda, dua orang kebangsaan Jerman, dua orang dari Norwegia, dua orang dari Itali, dan satu orang dari Amerika.

Kapal itu dipimpin oleh Kapten Woodhouse. Disebutkan mulanya kapal Nisero kandas di lautan Aceh Barat pada tahun 1870-an. Kapal itu menepi di sebuah pantai dari Panga, wilayah kerajaan kecil Teunom yang dipimpin seorang Ulee Balang Raja Muda Teunom. Pihak Kerajaan langsung menyandera awak kapal tersebut. Terdamparnya kapal asing di perairan Aceh Barat ini menjadi topik berita internasional. Sejak itu, daerah ini mulai dikenal dunia internasional.

Semula, orang Aceh mengira kapal tersebut milik awak Belanda. Nyaris saja kapal itu diserang. Namun, setelah sang kapten menjelaskan bahwa mereka berasal dari Inggris, Kerajaan Teunom hanya menyandera kapal dan awaknya. Sebaliknya, Belanda mulai mencari-cari kesalahan awak Inggris dengan mendaratnya kapal pengangkut gula itu di pantai Aceh Barat.

Peristiwa ini membuat Mukim Panga Pasi dikenal bangsa-bangsa Eropa dan internasional umumnya. Nama Panga Pasi sendiri berasal dari kosa kata bahasa Aceh pangga dan pasi. Pangga diambil dari sebuah sampan yang terikat/tertambat dalam sungai. Sampan yang bocor, membusuk, lalu tenggelam. Ruas tempat duduk sampan (pangga) mengapung. Dari sinilah muncul istilah Mukim Pangga. Sungai tempat sampan itu tertambat pun kini disebut dengan Krueng Panga.

Berawal dari pangga, berubah menjadi panga karena tata tulis Melayu Jawi. Masa Kerajaan Aceh, tata tulis masih menggunakan huruf Jawi. Kata pangga ditulis menggunakan huruf ‘ain dengan tiga titik. Dari sinilah muncul bacaan panga dan kini menjadi Mukim Panga. Karena letaknya di pesisir pantai, jadilah Mukim Panga Pasi.

haba mukim - DSC_6261-----

Penduduk
Penduduk asli Mukim Panga adalah etnis Aceh. Sebuah sumber menyebutkan penduduk Panga berasal dari Pidie. Disebutkan bahwa orang Pidie itu datang ke Meulaboh sekitar tahun 1850-an melalui jalur Geumpang. Mereka mencari lahan yang subur untuk bercocok tanam. Akhirnya, kumpulan orang dari Pidie ini membangun perkampungan di tepi pantai.

Sumber lain menyebutkan kedatangan orang Pidie ke Panga pasa saat pecahnya perang Aceh, tahun 1873. Mereka masuk pertama kali di Gampông Gle Putoh. Tidak lama berselang, semakin banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru dan membuka pemukiman di sekitar Panga.

“Periode terakhir yang datang dari Aceh Selatan,” ujar Imum Mukim Panga Pasi, M. Adan.

Sebelum menjadi Mukim Panga Pasi, wilayah ini tergabung ke dalam Mukim Panga Pucok yang disebut dengan Mukim Panga. Wilayah mukim ini dimekarkan pada tahun 1966 dengan alasan terjadi kepadatan penduduk sehingga terbentuk Mukim Panga Pasi dan Mukim Panga Pucok.

Mata pencarian masyarakat Panga Pasi umumnya tani. Sebagian besar bersawah, berladang, dan berkebun. Namun, ada juga yang berdagang, beternak, dan nelayan. Seiring perkembangan zaman, kini pegawai negeri, tentara, dan polisi pun sudah banyak di Mukim Panga Pasi. Sampai saat ini, kehidupan masyarakat Panga Pasi dan sekitar sangat bergantung pada alam sekitar.

haba mukim - P1360986

Pemerintahan
Selain sebagai pemerintahan, Mukim Panga Pasi juga berperan sebagai lembaga adat. Sampai saat ini, Mukim Panga Pasi masih merawat sistem lembaga adat. Struktur pemerintahan adat yang ada di Mukim Panga Pasi antara lain imum chik, tuha peut mukim, imum mukim, keujruen blang, geuchik, pawang uteuen, panglima laot, peutua sineubok, dan organisasi pemuda tingkat mukim,

Kuatnya sistem lembaga adat di Mukim Panga Pasi juga tampak dari sejumlah tradisi kenduri adat yang diwarisi sejak zaman Kerajaan Aceh. Sampai saat ini, kenduri-kenduri yang masih hidup dan dilaksanakan di Mukim Panga Pasi antara lain: Kanduri 1 Muharram, Kanduri Tulak Bala/Rabu abeh, Kanduri Maulid Nabi.

Selain itu, juga ada Kanduri Bungong Kayee, Kanduri Isra Mikraj, Kanduri Apam, Kanduri Nisyfu Syaban, Kanduri Gle, Kanduri Bu, Kanduri Tamat Al-Quran, Kanduri Boh Rom-Rom, Kanduri Naik Haji, dan Kanduri Malam Uroe Raya Haji (10 Dzulhijjah).

haba mukim - IMG_9274-----

Pengelolaan Hutan
Mukim Panga Pasi sudah memiliki legalitas pengelolaan hutan untuk wilayahnya. Hal ini tertuang dalam Qanun Mukim Panga Pasi Nomor 2 Tahun 2016 tentang Penguasaan dan Pengelolaan Hutan Adat Mukim. Dalam BAB III Pasal 3 disebutkan bahwa “Seluruh wilayah hutan adat mukim dikuasai bersama oleh masyarakat hukum adat mukim dan dilaksanakan oleh pemerintahan mukim.”

Qanun Mukim ini menjadi kekuatan baru bagi Mukim Panga Pasi, terutama dalam hal pengelolaan hutan dan sumber daya yang terkandung di dalamnya. Dalam Qanun yang disahkan sejak tanggal 11 Oktober 2016 itu disebutkan juga tatacara mencegah dan membatasi kerusakan hutan adat mukim yang disebabkan oleh bencana alam dan kebakaran.

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XVIII, Desember 2016