tuhoe xx15 Hasyim Usman

Koordinator Dewan Adat JKMA Aceh 2017-2022

Lelaki kelahiran 3 Mei 1957 ini merupakan tokoh masyarakat adat di Aceh Besar. Sejak berdirinya Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh yang dulu masih bernama Jaringan Kerja Masyarakat Adat Aceh, lelaki usia 60 tahun ini sudah mulai aktif terlibat dalam membela hak-hak masyarakat adat di Aceh, terutama di Aceh Besar, tempat ia menetap.

Setelah sekian lama bergelut dengan kerja-kerja pembelaan terhadap hak-hak masyarakat adat, pria bernama lengkap M. Hasyim Usman S.Ag. ini kini dipercayakan menjadi Koordinator Dewan Adat JKMA Aceh untuk periode 2017 sampai dengan 2022. Terpilihnya Pak Hasyim—sapaan akrab Hasyim Usman—sebagai koordinator dewan adat kali ini merupakan hasil Musyawarah Besar JKMA Aceh yang digelar pada 5-7 Desember 2017 di Asrama Haji Embarkasi Aceh.

Hasyim terpilih menjadi Koordinator Dewan Adat JKMA Aceh menggantikan Pang Yuriun yang sudah menduduki posisi tersebut dua kali. Kini, Hasyim bertekad membawa “perahu” JKMA Aceh lebih bermartabat dan berdaulat seperti cita-cita kedaulatan terhadap pemerintahan adat di Aceh.

Karier Hasyim dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat sudah dimulai sejak lama di Mukim Gunung Biram, Kecamatan Lembah Seulawah. Di kampungnya itu, Hasyim senantiasa terlibat dalam kerja-kerja yang menyangkut hak kelola masyarakat terhadap wilayah dan sumber daya alam.

Terlibatnya Hasyim dalam gerakan perjuangan membela hak masyarakat adat bermula dari konflik hutan di Lembah Seulawah. Waktu itu, ada kemelut yang sedang terjadi di wilayah Mukim Gunung Biram. Di sana sedang terjadi perambahan hutan besar-besaran oleh PT Mekar yang bernaung di bawah HTI PT Nusa Indrapuri. Masyarakat Lembah Seulawah kala itu menentang keras illegal loging yang dilakukan PT Mekar. Dalam perlawanan masyarakat tersebut sempat terjadi bentrokan antara masyarakat dengan pihak perusahaan. Ketika itulah, Hasyim terjun membela hak-hak masyarakat di sana. Berawal dari sana, Hasyim bergabung dengan JKMA Aceh sejak pertama sekali lembaga ini didirikan, sekitar tahun 1999.

“Saya bergabung dengan JKMA karena aspirasi masyarakat Gunung Biram saat itu tidak ada yang memperjuangkannya. Masyarakat sampai berbuat anarkis terhadap perusahaan. Pemerintah kabupaten maupun provinsi tidak pernah mencarikan solusi terhadap masalah yang sedang dihadapi masyarakat Gunung Biram ketika itu. Makanya saya bawa kasusnya ke komunitas sehingga disepakati terbentuk sebuah jaringan kerja yang diberi nama JKMA,” papar Hasyim.

Sejak terbentuknya, lembaga JKMA Aceh mulai menjadi wadah perjuangan masyarakat adat di Aceh, termasuk masyarakat Gunung Biram. Aspirasi dan perjuangan masyarakat Gunung Biram kala itu berhasil dibawa sampai ke Jakarta dengan didampingi LSM lain seperti Walhi Aceh.

Keterlibatan Hasyim dalam pergerakan membela hak masyarakat adat tidak diragukan lagi. Akhirnya, pada tahun 2005, Hasyim dipercaya menjabat Koordinator Dewan Adat JKMA Aceh Rayek untuk periode 2005-2007. Sebagai bentuk apresiasi, sejak tahun 2007-2010, ia dipercaya menjadi anggota Dewan Adat JKMA Aceh.

Kerja-kerja membela hak-hak masyarakat dan lembaga adat terus ditekuni Hasyim, meskipun usianya semakin senja. Pada Kongres JKMA Aceh tahun 2013 di Kabupaten Aceh Tamiang, Hasyim terpilih menjadi Dewan Kehormatan JKMA Aceh periode 2013-2017. Posisi tersebut semakin membuat ia berkharisma dalam membawa aspirasi masyarakat adat di Aceh ke tingkat nasional dan internasional melalui JKMA Aceh.

Lelaki asal Gampong Lamkubu, Mukim Gunung Biram, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar ini semakin ditakzimi oleh rekan-rekannya. Sering ia dimintai pendapat dan saran terkait kerja-kerja kelembagaan adat di Aceh, baik oleh rekan-rekan sesama JKMA maupun masyarakat biasa.

Riwayat Pendidikan

Hasyim Usman pernah menempuh pendidikan di Fakultas Tarbiyah Serambi Mekkah, Banda Aceh. Ia mendapatkan gelar sarjana agama di kampus tersebut. Sejak menjadi sarjana, Hasyim mulai menekuni kerja sebagai tenaga pendidik. Ia mengajar di Madrasah Ibtidayah Alue Rindang, Kecamatan Seulimeum, sejak tahun 1999 sampai 2001.

Pada tahun 2001, Hasyim dipercayakan menjadi kepala KUA Seulimeum. Jabatan tersebut ia emban hingga tahun 2008 dan akhirnya pindah ke KUA kampung asalnya di Lembah Seulawah. Hasyim bekerja di KUA Lembah Seulawah sampai dengan tahun 2013.

Di samping di KUA, ia juga dipercayakan masyarakat Mukim Gunung Biram sebagai imum mukim. Kebijakannya dalam menyelesaikan sengketa di mukim membuat masyarakat di sana terus mempercayakan Hasyim sebagai imum mukim sampai sekarang. Jabatan sebagai imum mukim membuat ia semakin yakin dalam kerja-kerja advokasi masyarakat adat. Kini, Hasyim mendapatkan amanah tambahan sebagai Koordinator Dewan Adat JKMA Aceh. Maka, Hasyim akan terus memperjuangkan hak-hak masyarakat dan lembaga adat di Aceh sampai titik darah penghabisan.[Chalid]

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XX, Desember 2017