tuhoe 10 meuhaba makam raja2 pase (visitaceh.com)

Makam Raja Pase (visitaceh.com)

SEJUMLAH literatur menyebutkan bahwa Islam pertama sekali masuk ke Nusantara melalui Aceh, yakni pada wilayah Pasai. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya Kerajaan Pasai. Lantas, serupa apa keberadaan Kerajaan Pasai waktu itu sehingga menjadi gerbang Islam?

Samudera Pasai atau Samudera Pase terletak di Kecamatan Samudera Geudong. Wilayah ini merupakan tempat pertama kehadiran agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Hanya saja, keberadaan kerajaan-kerajaan Islam di Aceh yang acap kali mengalami pasang surut, membuat Kerajaan Pasai pun tinggal sejarah. Mundurnya gaung kerajaan Islam di Aceh, menurut data sejarah, sejak kedatangan Portugis ke Malaka (1511) sehingga 10 tahun kemudian Samudera Pasai turut diduduki oleh penjajah Belanda.

Secara de facto, Belanda menguasai Aceh pada tahun 1904, yaitu ketika Belanda dapat menguasai benteng pertahanan terakhir pejuang Aceh Kuta Glee di Batee Iliek, Samalanga. Dengan surat Keputusan Vander Geuvemement General Van Nederland Indie tanggal 7 September 1934, Pemerintah Hindia Belanda membagi Daerah Aceh atas 6 (enam) afdeeling (kabupaten) yang dipimpin seorang Asistent Resident, salah satunya adalah Affleefing Noord Kust Van Aceh (Kabupaten Aceh Utara) yang meliputi Aceh Utara sekarang ditambah Kecamatan Bandardua yang kini telah termasuk Kabupaten Pidie (Monografi Aceh Utara tahun 1986, BPS dan Bappeda Aceh Utara).

Afdeeling Noord Kust Aceh dibagi dalam 3 (tiga) Onder Afdeeling (kewedanaan) yang dikepalai seorang countroleur (wedana), yaitu (1) Onder Afdeeling Bireuen; (2) Onder Afdeeling Lhokseumawe; (3) Onder Afdeeling Lhoksukon. Selain itu, juga terdapat beberapa Daerah Ulee Balang (Zelf Bestuur) yang dapat memerintah sendiri terhadap daerah dan rakyatnya, yaitu Wee Balang Keuretoe, Geurogok, Jeumpa, dan Peusangan, yang diketuai oleh Ampon Chik.

Mula Muncul

Catatan sejarah menyatakan kerajaan Samudera Pasai muncul pada abad 13 Masehi, yakni ketika Kerajaan Sriwijaya hancur. Kerajaan Pasai didirikan oleh Malikussaleh. Karena wilayah kerajaan itu penduduknya banyak, dinamakanlah dengan Pasai. Bekas kerajaan tersebut dapat dilihat di Gampông Beuringen, Kecamatan Samudera Geudong, Kabupaten Aceh Utara.

Wilayah Kekuasaan Kesultanan Pase (Pasai) pada masa kejayaannya sekitar abad ke 14 terletak di daerah yang diapit oleh dua sungai besar di pantai utara Aceh, yaitu sungai Peusangan dan sungai Pasai. Ada pula orang yang berpendapat wilayah kerajaan tersebut lebih luas lagi ke selatan sampai ke muara sungai Jambo Aye. Singkatnya, Kerajaan Samudera Pasai adalah daerah aliran sungai yang hulunya berasal jauh ke pedalaman daratan tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah.

Posisi kerajaan yang terletak pada aliran lembah sungai membuat tanah di sekitar subur. Padi yang ditanami penduduk Kerajaan Islam Pasai pada abad 14 dapat dipanen dua kali setahun. Pada perjalanan berikutnya, kerajaan ini semakin makmur penduduknya dengan dimasukkannya bibit tanaman lada dari Malabar. Selain hasil pertanian yang melimpah ruah di dataran rendah, di dataran tinggi, daerah pedalaman juga terdapat berbagai hasil hutan yang diangkut ke daerah pantai melalui sungai. Sistem perdagangan dengan bangsa-bangsa luar pun berjalan lancar.

Hancurnya Pasai

Hancur dan hilangnya peranan Kerajaan Pasai dalam jaringan antarbangsa ketika suatu pusat kekuasan baru muncul di ujung barat Pulau Sumatera, yakni Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan ini muncul pada abad 16 Masehi. Kerajaan Islam yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah kala itu menaklukkan Kerajaan Pasai sehingga wilayah Pasai dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Islam Darussalam. Kerajaan Islam Samudera Pasai akhirnya dipindahkan ke Aceh Darussalam (sekarang Banda Aceh).

Runtuhnya kekuatan Kerajaan Pasai sangat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di luar Pasai, tetapi lebih dititikberatkan dalam kesatuan zona Selat Malaka. Walaupun Kerajan Islam Pasai berhasil ditaklukan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, peninggalan dari kerajaan kecil tersebut masih banyak dijumpai sampai saat ini di Aceh bagian utara.

Peninggalan Sejarah

Pada tahun 1913, 1915, J.J. De Vink bangsa Belanda telah mengadakan inventarisasi di bekas peninggalan Kerajaan Islam Samudera Pasai. Pada 1937 telah dipugar beberapa makam di Samudera Pasai oleh Pemerintah Belanda kemudian pada tahun 1972,1973, dan 1976, peninggalan Kerajaan Samudera Pasai di Kecamatan Samudera Geudong, Aceh Utara telah diinventarisasi oleh Direktur Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pada umumnya tulisan pada makam tersebut belum diteliti seluruhnmya sehingga memang diperlukan penelitian lebih lanjut. Hingga saat ini, penduduk di sekitar makam Sultan Malikussaleh sering mendapat mata uang emas (dirham) keramik, gelang mata delima, umumnya ditemukan oleh petani tebat saat meraka menggali tebat di sekitar kawasan tersebut. Itu semua adalah bukti sisa Kerajaan Pasai.

Adapun makam Sultan Malikussaleh yang merupakan raja pertama Kerajaan Samudera Pasai juga masih terdapat di sana. Makam tersebut terletak di Gampông Beuringen, Kecamatan Samudera, ± 17 km dari Kota Lhokseumawe. Nisan ini terbuat dari batu granit berpahatkan aksara Arab. Jika diterjemahkan, lebih kurang aksara itu bertuliskan: “Ini kubur almarhum yang diampuni, yang taqwa, yang menjadi penasihat, yang terkenal, yang berketurunan yang mulia, yang kuat beribadat, penakluk yang bergelar Sultan Malik Al-Saleh”.

Selain itu, pada makam Sultan Malikussaleh juga terdapat kaligrafi Surat Al-Hasyr Ayat 22-24. Kaligrafi tersebut berbentuk puisi yang menghiasi makam Malikussaleh. Kecuali itu, pada kawasan tersebut juga terdapat beberapa makam lainnya, di antaranya makam keluarga Sultan Malikussaleh sendiri seperti milik Malikul Dhahir (anak pertama Malikussaleh). Semuanya merupakan bukti peninggalan Kerajaan Islam Pasai yang saat ini hanya menjadi kenangan sejarah bahwa di Aceh pernah berdiri beberapa kerajaan Islam. Sebagai penghargaan terhadap sejarah, perlu adanya kepedulian dari pemerintah untuk merawat bukti peninggalan sejarah tersebut. Masyarakat pun diharapkan tidak mengotori lokasi itu. Semoga![dbs/Herman RN]


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi X, Oktober 2009