Sudah menjadi tradisi dalam pesta atau kenduri kegiatan di dapur yang dilaksanakan secara bersama-sama. Kebersamaan di dapur bukan hanya untuk menyantap dan menikmati makanan namun memiliki makna lebih jauh dari itu, setidaknya dengan kebersamaan tersebut terbangun silaturrahmi dan keakraban antar sesama dan sekaligus memeriahkan acara pesta yang sedang dilangsungkan. Lazimnya dalam persiapan sebuah perhelatan pesta, tentu banyak hal yang perlu dipersiapkan sehingga pesta dapat berlangsung sebagaimana yang diharapkan. Persiapan penerimaan tamu, undangan, tempat, kelengkapan peralatan sampai dengan soal masak di dapur. Semuanya harus detail bagi yang akan melaksanakan sebuah pesta.

Dalam pesta terutama di gampong-gampong, salah satu yang menarik adalah pekerjaan dapur yang dilakukan secara bersama berupa masak dan makan bersama. Tentunya setelah masakan matang kemudian dibagikan kepada semua yang hadir yang dilakukan oleh seseorang sebagai pemegang sendok besar (mat awe’uk).

Mat awe’uk tidak selalu pada orang yang sama, namun terkadang karena dipercaya bisa saja orang yang sama. Mat awe’uk bertanggung jawab di dapur, terutama terhadap masakan dan membagikan kepada yang hadir. Bisa jadi dalam suatu pesta kepercayaan tersebut diberikan kepada seseorang namun pada saat berikutnya diberikan kepada yang lain. Kepercayaan non formal dan tidak di-SK-kan ini sebenarnya memiliki tanggung jawab besar terhadap sukses atau tidaknya perhelatan pesta yang sedang dilangsungkan. Pembuat pesta (tuan rumah) biasanya hanya sekedar tahu bahwa yang mat awe’uk adalah si Fulan atau si Fulen. Pekerjaan ini biasanya diberikan kepada orang yang sudah biasa mendapat kepercayaan untuk melakukannya dan juga atas kesediaannya sebagai mat awe’uk dalam pesta tersebut. Tapi untuk pekerjaan ini perlu perhatian khusus dan serius dari pembuat pesta (tuan rumah), hal yang berkaitan dengan kebutuhan personal, dari rokok, kopi dan lainnya harus tetap dijaga agar proses dapur dapat berjalan dengan baik.

Mat awe’uk adalah sebuah cerminan dari budaya pemimpin dalam masyarakat kita di Aceh. Banyak falsafah yang terkandung dalam tugas dan tanggung jawab seseorang yang dipercaya sebagai mat awe’uk. Bagi si mat awe’uk tugasnya dianggap selesai ketika makanan matang dan semua yang hadir telah menerima makanan dan memakan makanan tersebut. Selalu saja mat awe’uk makan setelah semua yang hadir selesai makan. Sebuah risiko mat awe’uk.

Tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh mat awe’uk mengandung falsafah kepemimpinan yang kuat dan patut untuk dicermati. Menyiapkan makanan sampai matang dan tepat waktu adalah sebuah proses pengelolaan yang terencana dengan baik. Memastikan makanan enak dan sesuai selera yang hadir bukanlah hal mudah, karena tidak semua orang memiliki selera lidah sama, ada suka pedas ada yang tidak, ada yang suka sedikit asam ada yang tidak, ada yang suka agak asin ada juga yang tidak, semuanya tergantung dengan selera lidah masing-masing, hal ini menjadi sesuatu hal yang perlu disiasati oleh mat awe’uk. Kepiawaiannya dapat dibuktikan dalam meramu bumbu masakan sehingga semua selera lidah yang hadir relatif terpenuhi, inilah kelebihan yang tidak dimiliki banyak orang dalam merespon selera orang lain. Dalam wujud lain dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin tidak hanya merasa tahu tetapi tahu merasa dengan apa yang dirasakan oleh yang dipimpinnya.

Proses dalam membagikan makanan yang telah matang adalah gambaran dari sebuah perilaku adil dalam memimpin. Biasanya banyak orang yang menyodorkan piring untuk mendapatkan kuah belangong (wajan besar) dari berbagai tingkatan umur. Ada yang tua, muda bahkan anak-anak. Bagi yang mat awe’uk sudah bisa memahami berapa besar porsi yang akan dibagikan. Untuk yang agak tua dan yang muda tentu lebih banyak mendapatkan porsi kuah belangong daripada anak-anak, ini merupakan gambaran keadilan yang ditunjukkan secara proporsional dan kemampuan dalam menghabiskan makanan. Secara alamiah dilakukan dengan mata tetap pada awe’uk tanpa melihat si pemengang piring. Hal ini mengandung makna bahwa seorang pemimpin memberikan sesuatu tanggung jawab kepada bawahannya sesuai dengan keahlian dan kemampuannya.

Risiko bagi mat awe’uk setidaknya ada dua hal. Pertama, makanan tidak matang atau tidak enak dan tidak sesuai dengan selera semua yang hadir. Bila hal ini yang terjadi maka mat awe’uk bertanggung jawab untuk meramu bumbu lain dan memasakkannya kembali, bila masih ada persiapan, bila persiapannya (stok) habis maka mat awe’uk ikut menanggung malu bersama dengan tuan rumah. Risiko memimpin tergambar dari kejadian ini, setiap pemimpin harus siap menanggung dampak dan akibat implementasi dari rencana dan kebijakan yang salah; Kedua, makan setelah semua yang hadir selesai makan. Hal ini merupakan wujud nyata dari sikap seorang pemimpin memberikan ketauladanan dalam memimpin, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Tanpa disadari banyak falsafah yang dapat dipetik dari semua pekerjaan yang dilakukan, salah satunya yang dilakukan oleh si mat awe’uk yang saban perhelatan pesta dan kenduri sering kita tonton. Sebuah pelajaran penting dari mat awe’uk agaknya belum mampu diterjemahkan oleh banyak pemimpin dalam memimpin. Ungkapan “menambah dan mengali pandai, tapi membagi bodoh” sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh yang mat awe’uk, alangkah baiknya bila kita belajar dari tugas yang dijalankannya sehingga dapat dipetik kemuliaannya oleh semua pemimpin kita pada semua tingkatan. Semoga.

Oleh: Teuku Masrizar Peminat budaya tinggal di Tapaktuan.


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XVI, Desember 2013