tuhoe 5 panggong magic show (Small)

Pertunjukan Magic Show di Taman Budaya Aceh dalam rangka kongres kesenian se-Aceh yang diadakan oleh Dewan Kesenian Aceh, beberapa waktu lalu. (Dok. Herman RN)

Aceh kaya seni dan budaya adalah hal yang tak dapat dipungkiri. Aceh memiliki seni ukir, seni lukis, seni tafsir, hingga seni pertunjukan yang di dalamnya juga memiliki beragam bagian-bagian, seperti pertunjukan tari-tarian, pertunjukan teater (drama, sandiwara), dan pertunjukan debus.

Beragam kesenian tersebut tersebar di seluruh daerah dalam Provinsi Aceh. Bireuen salah satunya. Untuk kesenian sandiwara saja, Bireuen memiliki sebuah sanggar yang sangat terkenal di era tahun 70-an, bahkan sanggar tersebut boleh jadi diang­gap sebagai pelopor seni pertunjukan sandiwara di Aceh. Sanggar itu diberi nama Geulanggang Labu.

Ternyata kesenian di Bireuen tak cukup hanya sampai di sini. Kendati sudah berpisah dengan Aceh Utara yang dikenal dengan Rapa’i Paseenya, Bireuen masih memiliki sebuah kesenian pertunjukkan. Kes­enian yang memperlihatkan kekebalan tubuh seperti tak mempan dimakan benda tajam itu mereka beri nama “Magic Show”. Hanya saja, kesenian ini jarang dipertontonkan kepada masyarakat luas sehingga kurang dikenal masyarakat umum.

“Kami kurang dana, makanya agak sulit mem­perkenalkan kesenian ini ke luar. Untuk kebutuhan peralatan saja kami masih kewalahan,” ujar Rid­wan, pembina LSM Magic Show Gelanggang Labu, didampingi pembina lainnya, H.Teuku Muhammad Amin bin Ishak, Teuku Nurdin, dan Teuku Abdul Razak.

Lembaga yang berkantor di Jalan Kuburan nomor 10, Lorong Lhokpeunteut, Kabupaten Bireuen, itu bergerak dalam dua bidang: Seni Pertunjukan Magic dan Pengobatan Tradisional.

“Sambil main (pertunjukan seni kebal-red), kami juga bisa mengobati orang sakit. Sakit yang tidak bisa diobati oleh dokter pun, insyaAllah bisa kami sembuhkan,” kata Ridwan.

Kebal, Bukan Debus

Kendati yang dipertontonkan grup kesenian itu berbau mistis kebal seperti debus, Ridwan men­egaskan, yang dimainkan grup Magic Show bukan debus, melainkan seni magic. “Ini bukan debus, kami menyebutnya dengan seni magic show. Kalau debus diiringi dengan musik rapa’i, sedangkan permainan kami tidak. Kami mengiringinya dengan musik keras seperti musik rock dan disco,” tutur Ridwan.

Namun demikian, menurut Ridwan, musik keras tersebut bukanlah sebuah keharusan. Sesekali mer­eka juga bisa main dengan musik slow. “Musik keras ini untuk semangat. Pemain akan semangat menun­jukkan aksinya. Mereka bisa main sambil goyang mengikuti irama musik. Demikian juga penonton, mereka akan terbawa alunan musik keras tersebut. Jadi, sambil menonton pertunjukkan, secara sadar dan tidak, penonton pun bisa ikut bergoyang,” tandasnya.

Hal senada dikatakan juga oleh Mas Yoga, guru besar yang menjadi pelatih grup Magic Show, seka­ligus juga salah seorang pemain. “Kami main diiringi dengan musik keras,” ucapnya.

Menurut Ridwan, saat ini grup seni kebal itu sudah memikili 186 jurus atraksi magic. Dia mencontohkan, menarik mobil giling dengan rambut, potong leher sampai putus kemudian disambung lagi, mengebor badan hingga tembus, berdiri di atas bola lampu dan tidak pecah, berdiri di atas koran, lalu diangkat, tapi koran itu tidak robek.

“Ini baru sebagiannya, masih banyak lagi, ada 186 jenis sampai saat ini. Hanya saja kami kekuran­gan dana untuk menyosialisasikannya kepada masyarakat umum,” beber Ridwan.

Terkait itu, dirinya mengaku sudah pernah meminta bantuan kepada beberapa pihak, namun realisas­inya belum ada, sehingga mereka hanya dapat main alakadarnya, yakni sesuai alat yang tersedia. “Pada­hal, kami hanya minta bantuan alat, misalkan mau merebus manusia hidup-hidup, di mana kami harus mencari belanga besar, atau mau menarik mobil giling, kemana kami harus mencari mobilnya. Nah, ini semua kan butuh dana, belum lagi setiap darah yang keluar dari tubuh manusia harus dibayar. Dipo­tong leher misalnya, sampai putus. Meskipun dapat disambung lagi, darah tetap keluar. Darah ini harus dibayar,” pungkasnya.

Walaupun kesulitan dan kekurangan alat, mereka tetap masih bersikukuh memperkenalkan kesenian tersebut kepada masyarakat umum. Untuk itu, setiap ada permintaan main, semisal pada acara-acara pesta atau pegelaran seni, mereka selalu berusaha untuk tampil. “Kesenian ini perlu ditampilkan agar masyarakat tahu, di Aceh juga memiliki kesenian jenis ini. Ini perlu disosialisasikan, makanya kami masih tetap berusaha, meskipun kekurangan dari segi dana,” ujar Ridwan yang sekarang bekerja di bagian Humas Polres Bener Meriah.


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi V, Maret 2008