tuhoe 15 meututo - sawah1-20copy-small“Wasee blang geutanjoe hanalee bereukat” (hasil panen padi kita tidak lagi berkah) begitu kata Keujruen Blang padaku suatu sore di sebuah rangkang tepi pematang sawah. Angen blang (angin sawah) berhembus sepoi-sepoi meniupi bulir-bulir padi yang mulai menguning.

“Sudah banyak yang berubah di tempat tinggal kita, khususnya dalam bidueng adat meugoe (bidang adat sawah) sudah berubah begitu drastis. Tak seperti zaman kakekmu dulu. Orang-orang jarang menyesuaikan dengan keuneunong ketika akan tren u blang (sawah), khanduri blang sangat sedikit yang mau peduli, hama dianggap musuh yang meski dimusnahkan. padahal binatang-binatang yang kita kita anggap sebagai hama itu kan ciptaan Allah juga, kalau tidak bermanfaat kan Allah tidak akan menciptakannya? kita benar-benar kehilangan kejayaan dalam bertani. Hujan mulai jarang, keuneunong sudah bergeser, hama merajalela. Antar petani tidak lagi harmonis, hanya gara batas pematang meuen teumeutak segala. Kau ingat kenduri ie bu untuk burung dan hama kali ini tidak dilaksanakan?

Kata-kata Keujrun membuatku memandang serius ke arahnya.

“Iya, Keujrun. Semua telah berubah. Pemilik sawah sekarang rata-rata orang luar, orang-orang kaya yang mempekerjakan ureung gampong kita, itu kesalahan orang-orang tua kami yang menjual sawah bukan kepada saudaranya, padahal dalam adat kita kalau mau menjual sawah harus ditawarkan untuk saudara terdekat terlebih dahulu, baru saudara yang lebih jauh, lalu ke tetangga dekat rumah atau orang yang bertani dekat sawah kita, baru ke orang lain”.

“ingat…! kamu harus tetap mempertahankan sawah warisan dari kakekmu,“ ujar Keujrun yang tangannya sesekali melinting rokok dari daun nipah.

“Saya juga pernah berpikir untuk menjual sawah seperti saudara saya yang lain, beli mobil, tapi kadang saya juga berpikir, kalau mobil itu sewaktu-waktu bisa tertabrak, dan kalau sudah tua harganya akan jatuh, beda dengan sawah, makin lama makin mahal harganya, dan kita tidak meski bayar pajak tiap bulannya”.

“itulah, kita banyak berubah, sawah-sawah kita hilang berkahnya”. Pungkas Keujrun sambil melepas gumpalan asap rokok daun nipahnya.

“Teungku Keujrun benar. Kita sangat jauh sudah berubah. Tetapi yang lebih sedih lagi, sawah-sawah telah ditimbun berganti dengan pertokoan. Menurutku ini program untuk yang bertujuan agar genarasi kita ke depan menderita kelaparan.

Ingatanku kembali ke masa kecilku ketika museem luwah blang tiba. Orang-orang baik laki dan perempuan tua dan muda saling membantu mengangkat padi ke darat, ibu dan kakakku membantu mengangkat seunibai. Ayah semeumpouk. Malam harinya dengan diterangi lampu petromak orang laki-laki dewasa membantu ceumeulhoe, merontokkan padi dengan telapak kaki. Ibu hanya menyiapkan bu leukat kuwah tuhee untuk orang-orang yang bekerja membantu lhoe pade. Aku dan kawanku meniup seurunee padee. Ketika museem luwah blang juga kami berburu meunoum, sejenis unggas yang hidup di sawah. Sayup-sayup terdengar lagi irama su jeungki bertalu-talu dari rumah-rumah.

Museem luwah blang adalah hari-hari yang menyenangkan bagi kami.  Masa bagi kami anak-anak menaikkan layang-layang –ataupun bermain geudeu-geudeu di tumpukan jerami.

“Kau sedang mengenang masa lalu Nyak?” tiba-tiba Keujrun bertanya dan menoleh ke arahku.

Saya mengangguk pelan dan tersenyum.

“Kamu sangat batat membawa korek kemana-mana dan dengan sesuka membakar jerami, tidak bisa dibayangkan andai api menjalar ke seulumpok orang, hehehe” Keujrun terkekeh.

“Saya paling suka pula pingkuy di tumpukan jerami. Meskipun pada malam hari jemari tangan saya tidak cukup untuk menggaruk gatal”, sambung ku lagi.

“Aku masih ingat hasil panen padi meu umpang-umpang. Sebagian besar disimpan dalam kroung, hanya sebagian lagi dijual untuk membeli pakaian”, aku menerawang.

“Ya, aku juga teringat waktu kamu menjual asoe tanouh milik Ma Chik juga, Nyak” sahut Keujrun. Ia tertawa lebar.

“Padahal Ma Chik mu sangat percaya sama kamu untuk memungut asoe tanohnya.” Keujrun terus tertawa lebar.

Matahari mulai rebah ke barat. Cahayanya memerah, gerombolan tuloe, mirik dan teik-teik yang sering makan bulir padi mulai pulang ke seunongnya dekat jumphoh bak ngoum dekat paya. Sesekali aku mengambil pusu dan tanoh kliet yang sudah dibulatkan sebesar bakso untuk mengusir pipit lainnya yang belum pulang dan masih berparade di atas sawahku.

Matahari karap jiloup ke barat. Orang-orang yang paroeh tuloe mulai pulang. Wajah Keujrun mulai kurang jelas lantaran hari mulai gelap.

“Mari kita pulang, sebentar lagi azan magrib, masih ada waktu untuk kita mandi sejenak sebelum ke meunasah, Nyak,” ajak Keujrun.

“Iya“, sahutku singkat.

Kami menuruni rangkang dan melangkah dengan pelan di pematang, sesekali saya meloncat karena ada pematang yang rusak (putus).

***

Seminggu berselang setelah panen padi, aku menyambangi rumah Keujrun.

“Keumeukoh kali nyoe leupah leu wase (panen kali ini hasilnya berlimpah), Keujrun. Blang long nam rante menghasilkan siplouh gunca,

“Alhamdulillah, Nyak. Hasilnya meningkat tidak seperti musim tanam lalu. Kali ini hama geusoung melanda mukim sebelah, petani di sana sangat sedikit hasilnya musim panen ini”, padahal petani di sana didampingi oleh penyuluh pertanian dari kecamatan.

“Ya, memang mereka didampingi, tapi para penyuluh hanya mengajarkan mereka teknik bertani saja, mereka tidak mengajarkan budaya bertani, padahal ini penting, dalam bertani kita tidak hanya mengandalkan teknis, tapi bagaimana mengelola alam, binatang, agar  sama-sama diuntungkan, jangan kita petani saja yang untung, lantas mengorbankan makhluk lainnya.

“Terus bagaimana caranya Keujrun?” aku sangat penasaran dengan pemikiran Keujrun kali ini.

“Contohnya, khanduri blang, itu kan warisan dari nenek moyang kita, bagaimana kita secara bersama-sama berdoa di sawah agar hama tidak mengganggu dan hasil panen kita berlipat ganda. Nah. Kalangan orang-orang berpendidikan menganggap ini mitos, tidak masuk akal atau tidak logika, menurut mereka hasil panen dipengaruhi oleh teknologi pertanian itu sendiri, tangan Tuhan tidak terlibat di sini.

***

Esoknya pagi-pagi sekali kami dikejutkan oleh suara microphone dari Meunasah.

“Assalamua’alaikum warahmatullahhi wabarakaatuh… Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun… Telah meninggal saudara kita yang bernama Ismail atau Keujrun Ma’e siatnyoe lheuh suboh di rumoh” sekian wassalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh”.

tuhoe 15 meututo - zulfadli kawom 2Oleh Zulfadli Kawom

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XV, Desember 2012