tuhoe 6 saweu gampong kutacane(picasaweb.google.com_cedingayu)

Kota Kutacane (picasaweb.google.com/cedingayu)

tuhoe | Kutacane – Alas adalah salah satu suku yang ada di Aceh. Suku ini terdapat di wilayah Aceh Tenggara. Bahasa masyarakat yang menetap di daerah ini, di samp­ing bahasa Alas, juga berbahasa Gayo. Namun, ada sedikit perbedaan antara bahasa Gayo di Alas dengan bahasa Gayo di Takengon dan Bener Meriah. Mungkin karena itu pula, sebutan “Tanah Gayo” lebih populer dipakai untuk wilayah Aceh Tengah (Takengon dan Bener Meriah), sedan­gkan daerah Kutacane lebih cend­erung disebut dengan “Tanoh Alas” (Tanah Alas).

Kata “Alas” dalam bahasa Alas ber­makna ‘tikar’. Barangkali penamaan itu dikarenakan wilayah tersebut menghampar seperti tikar. Karena bentang wilayahnya yang mengham­par itu, daerah ini sangat cocok untuk bertani sehingga mata pencaharian masyarakat Alas adalah tani.

Tanoh Alas pada masa lalu dibagi menjadi dua wilayah kekuasaan: kekuasaan Kejerun Batu Mbulan; dan daerah Kejerun Bambel. Setiap keje­run dibantu oleh seorang wakil yang disebut Reje Mude. Halnya di Aceh yang dikenal dengan tuha peuet, dalam kearifan Suku Alas dikenal pula Reje Berempat. Setiap Reje Berem­pat membawahi beberapa kampung atau desa (kute), sedangkan masing-masing kute dipimpin oleh seorang pengulu. Suatu kute biasanya dihuni oleh satu atau beberapa klen (merge). Anggota satu merge berasal dari satu nenek moyang yang sama. Garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal atau menurut garis ketu­runan laki-laki. Sistem perkawinan yang berlaku adalah eksogami merge, yaitu mencari jodoh dari luar merge sendiri.

Adat menetap sesudah menikah yang berlaku bersifat virilokal, yang terpusat di kediaman keluarga pihak laki-laki. Gabungan dari beberapa keluarga luas disebut tumpuk. Be­berapa tumpuk bergabung memben­tuk suatu federasi adat yang disebut belah (paroh masyarakat).

Tanah Alas disebut juga dengan Tanoh Alas. Selain dikenal dengan hasil pertaniannya seperti kopi dan coklat, juga terkenal dengan beragam kesenian tradisi masyarakat etnik Alas.

Kesenian Alas

Alas sebagai sebuah wilayah yang menghampar di Aceh bagian tengah memiliki ragam kesenian tradisi. Se­jumlah kesenian yang sangat kental dan dikenal di Alas antara lain pele­bat, mesekat, landok alun, dan vokal suku Alas.

Pelebat

Kata “pelebat” berasal dari kata “rubat” yakni suatu perkelahian yang menunjukkan keperkasaan dan kelihaian seseorang menggunakan senjata berupa benda tajam seperti pisau mekhemu atau pedang. Kar­ena pedang hanya digunakan untuk melawan musuh, terutama masa peperangan, dalam kesenian pele­bat tidak dibenarkan menggunakan pedang sungguhan. Penggantinya disepakatai berupa sebilah bambu yang sudah diraut.

Kesenian ini biasanya digunakan dalam acara perkawinan, yaitu saat penjemputan mempelai laki-laki dari rumah perempuan. Kegiatan ini dis­ebut dengan nipengembunan. Kedua belah pihak akan mempersiapkan pemain andalannya dalam mempera­gakan pelebat tersebut.

Mesekat

Kesenian ini merupakan sebuah tar­ian yang dimainkan oleh anak-anak dan orang dewas secara berkeelom­pok. Posisi pemain duduk berbaris seperti duduk tawadhuk/ iftirasy (duduk membaca tahyat) dalam salat. Permainan ini menggunakan seorang imam yang disebut dengan kadhi atau syeh yang menjadi panutan da­lam setiap gerakan dan syair secara serentak dan serasi.

Landok Alun

Landok Alun merupakan jenis kes­enian yang dimainkan dalam posisi berdiri. “Landok” berarti menari, sedangkan Alun berarti lambat. Jadi, kesenian ini berupa kesenian tarian yang dimainkan dengan gerakan lambat. Tarian ini juga mendapat julukan tari alas yang sangat sensitif dimainkan oleh kaum muda laki-laki. Asal-mula permainan ini tatkala masyarakat mencari dan menemukan lahan pertanian/perkebunan yang lokasinya sangat luas, rata, dan mu­dah mendapatkan air, untuk diolah dalam bertani.

Vokal Suku Alas

Kesenian vokal suku Alas dibagi menjadi dua bagian: melagam dan tangis. Melagam dipilah lagi menjadi tiga macam. (1) Melagam Ni Lepo, yakni lagu yang disampaikan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta atau mepakhuh dalam menyampaikan salam selamat datang. Vokal ini bi­asanya disampaikan kepada seorang gadis yang datang saat begahen pada acara pesta perkawinan dan sunat rasul. (2) Melagam Ni Pedo, yaitu kesenian yang dimainkan oleh siapa saja, tak terbatasi usia atau jabatan. Sebelum memainkan kesenian ini, terlebih dahulu diminta izin kepada hadirin andai kata ada pekhangkenen (antara menantu dan mertua). (3) Melagam Ni Jalu, yakni kesenian yang dimainkan oleh dua atau tiga orang yang sengaja diundang saat acara su­nat rasul. Biasanya, lagam ini berkisah antara muda-mudi, dari kisah peke­nalan hingga ke perkawinan.

Selanjutnya kesenian tangis. Kesenian ini dimaksudkan pada pengantin perempuan sewaktu njaga i. Ada be­berapa macam tangis, di antaranya: (1) Tangis Mangikhi, yakni tangis se­orang pengantin memanggil kerabat/ famili yang hadir untuk mempeusijuk orang yang nikah. (2) Tangis Dhilo, yakni seorang pengantin mencerita­kan perjalanan hidupnya kepada te­man atau sahabat. (3) Tangis Nekhah­ken Mas Kawin, yaitu adat istiadat kata bertutur tentang kampong kela­hiran sampai ke daerah perkawinan. (4) Tangis Nohkan Bekhas Seselup Lawe Sentabu, yaitu mohon maaf dan minta petunjuk kepada sanak keluarga semoga hidup di tempat yang baru. (5) Tangis Tukhunen, yaitu kisah menitipkan orangtua kepada kerabat lelaki. (6) Tangis Ngehawinken, yaitu tangis jawaban yang diminta mem­pelai perempuan berupa petunjuk, nasihat, dan pesan-kesan. (7) Tangis Ngehawinken, yaitu tangis jawaban yang diminta mempelai perem­puan berupa petunjuk, nasihat, dan pesan, serta kesan. (8) Tangis Mbabe Senubung.

Alat Tradisional

Di samping jenis kesenian, suku Alas juga memili alat-alat kesenian tradisional, di antaranya canang situ (dari tembaga), canang buluh (dari bambu), bagsi (dari bambu kecil), genggong (alat musik tiup dari dari getaran besi yang ditempa), oloi-oloi (dari jerami padi), dan keketuk layar (dari bambu atau kayu).

Menilik keragaman kesenian tra­disi suku Alas, memperlihatkan bahwa daerah ini menjadi salah satu kebanggaan bangsa Aceh. Na­mun, anggapan ini bisa saja luntur manakala Alas menjadi ALA (Aceh Leuser Antara). Akankah terjadi? Sebab, pepatah Gayo mengatakan, “Beluh sara loloten, mowen sara tamunen, bulet lagu umut, tirus lagu gelas, rempak lagu re, mususun lagu belo”.*her’N


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi VI, Juli 2008