cae - shadow man (Richard Hambleton - techkurator.blogspot.co.id)

Sudah berulang kali orang-orang berkata tentang musim berganti bahwa setelah hujan pasti muncul matahari seperti usai malam yang diganti oleh batang hari dan berlaku sebaliknya sesuai titah sang khaliqi.

Kepada kau, yang kami pilih seusai musim berganti. Benar sekali bahwa pada garis lintang khatulistiwa kita berdiri sehingga tujuh pergantian musim masih mustahil kita miliki tapi ini jika dibanding dengan tetangga punya lokasi.

Bilamana membaca tanda-tanda bahwa sudah tak mungkin aku atau sesiapa menulis puisi pada reranting yang kehilangan dahan, dahan tak tahu mencari cecabang, akibat bebatang tak kuasa menemukan akar untuk berdiri dan bertahan, kuyakinkan, kau takkan kami lakab pengkhianat di tanah Tuhan, dalam sumpah yang kau nukil masa silam saat jabatan mula kau emban.

Bersebab itu, gunung-gunung yang sudah diambil batu,
Bersebab itu, udara yang sudah berhembus dengan debu,
Bersebab itu, warna air yang berubah kelabu,
Bersebab itu, merkuri yang melebur pada laut biru,
Bersebab kau, memberi izin pertambangan sepanjang waktu.

Inilah sumpahku, kepada kau yang telah kami pilih setelah musim pemilu
Putih tulang di dalam tanah, masih berkah sumpah serapah menghujam kau punya wajah.

Begitu mudah kau mengubah janji berlapis investasi tanpa peduli pertengkaran masyarakat kecil di sana sini, tanpa hirau pesan-pasi dalam aksi damai orang-orang berdemonstrasi.

Bahwa gajah-gajah sudah masuk kampung,
Bahwa harimau dan macan meraung-paung,
Bahwa mentari mulai kehilangan gemericik burung,
Bahwa suara jerit bumi lebih besar dari batu emas yang dipalung.

Mereka mati
mati dalam banjir yang membawa longsor, longsor membawa air, air bercampur batu, batu tak sekadar kerikil, kerikil dalam air, air mata
Sungguh pilu
Sungguh ngilu.

Kepada kau, yang kami pilih selepas musim berganti
Kita butuh mata untuk membaca tanda-tanda karena sudah berulang masa disampaikan pada terang dan gulita tetapi kau masih bungkam kata. Hari ini kau bilang begini, esok hari kau sudah tak di sini. Hari ini kau sebut begitu, esok hari kau mengaku semua sesuai di buku.

Buku buatan manusia, tangan-tangan yang punya masa dan punya kuasa menulis nomor dan angka lalu mendapat laba, sedangkan rakyat masih tetap dalam bala.

Kau yang kami pilih setelah musim berganti
Inilah cerita kami. Dulu orang-orang memburu babi, kini babi yang mengejar banyak orang. Dulu gajah sulit dicari, kini gajah menghancurkan kota pun ia berani. Dulu manusia mengejar harimau ke hutan, kini harimau mengejar manusia hingga ke kematian.

Dulu orang-orang berkata, “Tidak sejengkal pun tanah ini kita biarkan diambil oleh awak asing.” Kini mereka sendiri menjualnya serupa maling.

Kaulah maling itu, yang mencuri pada ibu sendiri, yang mencekik leher regenerasi. Kaulah maling itu, yang kami pilih setelah musim berganti.

Dan entah sampai kapan, kami masih dan harus memilih maling-maling investasi.

herman rnBanda Aceh, 2015-2016.

HERMAN RNpenyair dan cerpenis, menulis lepas di berbagai media.

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XVIII, Desember 2016