Awalnya aku sulit percaya, bahwa lembaga adat uteun di Aceh masih wujud dan masih ada orang yang bersedia menjadi panglima uteun masih ada dan eksis, karena dibantai dengan beberapa kebijakan pemerintah atau diam-diam keberadaan lembaga adat uteun ini telah hilang dengan sendirinya, karena tidak ada yang peduli lagi. Berbeda dengan panglima laot, yang bagi saya sebagai orang pesisir utara Pase, Aceh Utara-panglima laot sangat dikenal, apalagi paska tsunami Aceh, eksistensi panglima laot bahkan sudah dikenal oleh lembaga asing yang membantu rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh paska tsunami.

Namun pikiran-pikiran saya tadi tentang keberadaan panglima uteun terbantah mentah-mentah, saat pertama kali menelusuri hutan Gampong Sikundo, Mukim Lango, Kecamatan Pantee Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat. Tradisi pengelolaan hutan yang arif bijaksana telah lama dipraktekkan secara turun temurun dalam masyarakat di sana. Selama seminggu bersama panglima uteun di Sikundo saya mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan tentang adat utuen.

Tidak mudah memang untuk mencapai ke Sikundo, menurut Teungku Idrus Sekretaris Mukim yang kami jumpai di Keudee Pantee, Belanda saja kewalahan saat menghadapi perang gerilya Cut Nyak Dhien yang pernah tinggal di sini.

Menuju Sikundo kita harus berjalan kaki paling cepat setengah hari, berjalan di antara bukit dan lereng terjal, menyebrangi beberapa sungai dan alur dan yang paling memacu adrenalin adalah saat melewati tujuh jembatan gantung (tali dua) mereka menyebutnya, “ayoun”. Jangan coba-coba nekat tanpa perlengkapan yang lengkap, mulai dari tenda, senter, obat-obatan, logistik makanan yang cukup, serta fisik dan mental tentunya.

Setelah berjalan kaki selama hampir empat jam. Kami menyebrangi sungai yang lumayan deras dan berbatu dengan berenang. Saat di jembatan gantung bertali dua pertama. Jantung saya berdegup kencang, hanya bisa melihat-lihat orang-orang Sikundo yang sudah terbiasa, menari di atas tali dua yang melintang dan diikat di pohon-pohon besar. Seorang pemandu membisiki saya bahwa, di jembatan ini Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari kesatuan Raider pernah jatuh dari jembatan ini, dan tewas karena airnya sangat deras dan tak jauh memang dari sana terlihat linggoung krueng (belokan sungai).

Di seberang kawan-kawan lain sudah menunggu, sudah menjadi kebiasaan di sini, saat akan menyebrangi sungai dan melintasi jembatan tali dua dilakukan secara bersama-sama (berkelompok), agar kalau terjadi apa-apa bisa cepat ditangani.

Jembatan pertama berhasil saya lewati, walau sangat pelan dan lama. Beberapa orang Sikundo yang kebetulan berpas-pasan dengan kami akan menjadi tontonan yang terkadang lucu. Sesekali mereka memberi aba-aba atau perintah, “Bek kangieng uyub”, jangan lihat ke bawah dan lain-lain. Memang benar saat kita di atas jembatan ini seperti naik ayunan terayun ke sana kemari seolah-olah jembatan sedang berjalan di atas air.

Jembatan pertama berhasil saya lewati disambut dengan gelak tawa, sehingga ketegangan perlahan hilang. Kami berjalan lagi. “Ada enam jembatan lagi bang” kata pemandu. Saya hanya mengangguk dan terus berpikir agar nantinya saya usahakan lebih cepat dan mencoba untuk lebih berani lagi.

Lima jembatan terlewati, karena kelelahan kami istirahat sebentar pada sebuah rangkang blang (dangau), kami disuguhi kacang rebus di sana oleh seorang warga. Terlihat hijaunya hutan, gunung, gemercik air di sungai. Petani di sawah sedang memotong padi. Sungguh mempesona. Saya mengabadikan beberapa foto sambil melihat-melihat objek untuk stock gambar film.

Kami berjalan lagi, kali ini melewati persawahan dan bantaran hulu sungai Krueng Meureuboe. Beberapa saat kemudian baru terlihat pemukiman, rumah-rumah berkonstruksi sederhana milik masyarakat Gampong Sikundo terlihat sepi, mereka sedang beraktifitas di sawah, ladang. Di depan dan di atap rumah-rumah terlihat panel surya, karena di sini arus listrik dari PLN belum masuk. Di sini juga jangan berharap ada sinyal handphone, saya lalu me-non-aktifkannya.

Dalam hati saya, akhirnya sampai juga dan saya sangat ingin segera mandi dan istirahat, karena hari sudah sore. Awalnya saya berpikir bahwa kami menginap di daerah ini. Namun, ternyata rumah untuk kami menginap berada di seberang sungai. “Bak na kouh tutu ayoun taloe dua kreek lom sabouh teuk”, (harus melewati satu jembatan lagi ini) batin saya.

Akhirnya saya benar-benar merdeka, kru pembuat film sudah bisa beristirahat, saya menyiapkan beberapa catatan untuk pertanyaan kunci pada subjek film. Memeriksa kondisi perlengkapan seperti kamera, tripot, cas baterai dan lain-lain. Malam pertama, sambil merebahkan badan, kami hanya asyik bercerita tentang perjalanan kami tadi, ada banyak hal, terutama tentang kelucuan-kelucuan. Di rumah yang kami tempati ada mesin genset, untunglah sekretaris mukim mengingatkan kami agar membeli lima liter solar sewaktu ke ibukota Kecamatan Pantee Ceureumen. Bangun pagi setelah mandi di sungai, menikmati kopi saya menuju ke rumah panglima utuen.

Saya secara khusus datang ke rumahnya yang agak terpisah dari pemukiman, rumahnya berada di lereng gunung, saat akan memasuki rumahnya kita menyebrang anak sungai yang terpaut tidak jauh dari rumahnya. Pagi itu memang beliau menunggu saya karena telah diberitahukan oleh sekretaris gampong. Rumah panggung sederhana, terlihat beberapa alat tangkap ikan, tergantung di dinding rumahnya. Saya dipersilahkan masuk, terlihat beliau memang sudah bersiap-siap berangkat masuk hutan bersama rombongan kami. Seorang perempuan berumur sedang memasak di dapur, itulah istrinya. Saya tidak sempat bertanya apakah punya beliau punya anak atau tidak, takut tersinggung, saya hanya menyakan kondisi alam, dan hal-hal yang perlu kami persiapkan saat akan memasuki hutan. Sesaat kemudian istrinya muncul dan menyuguhkan kopi untuk saya. Setelah semuanya siap, kami pun bergerak masuk ke hutan dan menerobos rimba belantara.

Teungku Banta Lidan, begitulah namanya, beliau yang berusia 55 tahun masih terlihat sangat sehat dan kuat, terlihat kami dan rombongan selalu tertinggal jauh saat memasuki hutan, padahal usia kami rata-rata masih berkepala tiga. Beliau tidak pernah memakai sandal kemana pun, itu kesehariannya. Saat akan mamantau hutan beliau selau siap siaga ditemani parang dan memakai kain hitam yang dililit membalut kepalanya, turban khas Beutoung Beunggala ini selalu dikenakannya saat akan masuk hutan. Setelah berjalan hampir tiga jam kami beristirahat pada sebuah rangkang (pondok), lalu melanjutkan lagi melewati sungai, Krueng Peureucouh. Kami beristirahat di sana selama satu jam lebih.

Dia mulai menceritakan kondisi hutan Sikundo, sebelumnya masih perawan, namun pada masa Rezim Orde Baru mereka terpaksa pindah. Tidak ada yang bisa dilakukan saat perusahaan PT Raja Garuda Mas (RGM) membabat hutan mereka.

“Mau mengadu ke mana, mereka telah mendapat izin pemerintah” katanya dengan mata terbata-bata.

Pada masa itu mereka hanya bisa diam tanpa bisa melawan, melawan pada masa itu dianggap pejuang GAM. Saat konflik Aceh memuncak pihak perusahaan hengkang, karena kawasan Sikundo dijadikan markas gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Saya pernah dipukuli tentara karena nama saya sama dengan nama orang yang mereka cari.

Ada beberapa pantangan dan larangan saat kita di hutan menurutnya, misalnya, hanjeut taseumeurak lam utuen (tidak boleh berteriak dalam hutan), hanjeut kouh kayee yang toe ngon krueng (tidak boleh menabang pohon di bantaran sungai), kalau mau masuk hutan dan mencari kayu, khusus untuk kayu buat rumah harus berkoordinasi dengan panglima uteun dulu. Bagi masyarakat yang ingin membuka lahan, harus mengadakan khanduri uteun (kenduri hutan) dulu. Kalau ada yang melanggar akan dikenakan sanksi adat. Berdasarkan penuturan Tgk. Banta Lidan, Panglima Uteun Sikundo berada di bawah Panglima Uteun Mukim Lango. Hal ini terlihat saat ada sidang di peradilan adat gampong tidak selesai, maka akan dilimpahkan ke Peradilan Adat di tingkatan mukim.

Sampai saat ini Teungku Banta Lidan sebagai panglima uteun tidak pernah menerima yang namanya, upah, jerih atau pun gaji dari pemerintah. Kareuna uteun nyoe enteuk tapulang keu aneuk cuco, teutap long jaga (karena demi anak cucu saya tetap menjaga hutan ini), misue uteun nyoe anco, pat tamita lom raseuki (karena kalau hutan ini hancur, di mana kami harus mencari rezeki). Meunyoe uteun ka anco, nanggroe pih anco (Kalau hutan sudah hancur, tunggulah kehancuran negeri). Begitu pesan terakhir panglima uteun, yang sampai sekarang masih membekas dalam kepala saya.


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XVI, Desember 2013