tuhoe 8 saweue gampong Tim Aerkologi Sedang melakukan pengalian(Harian Aceh | ZULKARNAIN)

tuhoe | Takengon – Benarkah manusia purba itu ada? Benarkah fosil manusia dan beragam senjata zaman purbakala masih ada di zaman serba modern ini? Takengon, Aceh Tengah, menjadi pemikiran baru untuk per­tanyaan tersebut.

Alkisah, banyak bukti sejarah terda­pat di Kota Dingin Aceh: Takengon. Sebut saja di antaranya keberadaan ceruk dan gua-gua alamiah. Sebagian gua di Takengon kita ketahui selalu terkait dengan cerita zaman dahulu yang diyakini masyarakat setempat benar kejadian dalam kisah di balik bukti-bukti sejarah dimaksud. Gua-gua itu seperti Gua Putri Pukes, Gua Loyang Datu, yang dalam masyarakat Gayo, tempat-tempat itu memiliki legenda yang sangat kuat dan diya­kini kejadiannya.

Kapak tua yang diperkirakan berumur 3.500 tahun. (Harian Aceh | ZULKARNAIN)

Kapak tua yang diperkirakan berumur 3.500 tahun. (Harian Aceh | ZULKARNAIN)

Gua atau ceruk dalam masyarakat Takengon lebih sering dikenal sebagai situs hunian pada masa pra-sejarah, yaitu masa berlangsungnya manusia yang hidup berburu atau juga dikenal dengan budaya mesoli­tik. Pada masa itu disebutkan bahwa manusia hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan bahan-bahan makanan dari alam, yang terdapat di sekitar mereka. Untuk mendapat­kan barang-barang penopang hidup tersebut, manusia zaman itu berburu dengan menggunakan beragam alat buruan. Alat-alat buruan mereka pun terbilang klasik, terkadang dari tulang-belulang, ada juga dari batu.

Membuktikan kisah yang pernah berkembang di Takengon tentang manusia yang hidup berburu, Tim Arkeologi dari Medan, Sumatera Utara, dipimpin Ketut Wiradyana, mencoba menulusuri lekuk-lekuk gua sejarah di Aceh Tengah. Tim yang beranggotakan 15 orang itu telah melakukan penelitian sejak 6 hingga 13 Maret lalu di Rock Shelter (Ceruk) Mendale, Loyang (gua) Puteri Pukes, Kecamatan Kebayakan, dan Gua Datu, Kecamatan Linge.

“Setelah melakukan eksavasi atau penggalian di situs Mendale, ditemu­kan bukti ilmiah, yaitu kapak persegi yang berumur 3.500 tahun, dua macam potongan gerabah, yakni gerabah biasa dan gerabah ukir, tu­lang-belulang, dan batu-batu prase­jarah,” kata Ketut, seperti dikutip dari Harian Aceh.

Sementara itu, di Gua Putri Pukes, mereka menemukan kerangka manu­sia purba yang diyakini hasil kehidu­pan puluhan abad silam. Menurut ketua tim arkeolog tersebut, pe-nemuan kapak persegi dan kerang­kan manusia itu dapat dijadikan bukti ilmiah bahwa di Takengon telah hidup manusia di zaman purba.

Kemungkinan adanya kehidupan pur­bakala di Gayo, kata dia, dibuktikan dengan barang-barang yang ditemu­kan. Hasil temuan itu, menurutnya, juga dapat dijadikan sebagai kajian komunitas dan budaya masyarakat Gayo masa lampau hingga sekarang. Maka tak heran, jika di Gayo, kebi­asaan berburu masih tinggi dalam masyarakatnya.

Terkait usia barang-barang yang ditemukan tersbeut, Balai Arkeologi Medan bekerja sama dengan Ba­dan Tenaga Atom Nasional (Batan) yang hasil kajiannya menunjukkan bahwa kapak persegi tersebut sudah berumur 3.500 tahun. Diyakini pula bahwa kapak itu merupakan sen­jata tradisional manusia pada masa tersebut.

Banyak orang bilang, arkeologi itu adalah ilmu sampah karena meneliti sampah masa lalu dari sebuah peradaban. Asal tahu, alur penyebaran Neolitik berasal dari Utara–Philipina- Sulawesi. Kemudian, dari Sulawesi menyebar lagi ke Kalimantan dan Sumatera, sebagiannya menyebar ke Maluku dan Irian. Maka meneliti ini bukan meneliti sampah, tetapi ilmu,” ujar Ketut yang juga ahli prasejarah.

Hari Ketiga

Kapak persegi yang diperkirakan sudah berumur 3.500 tahun terse­but ditemukan tim arkeologi Sumut pada penelitian hari ketiga di situs Mandale. Mereka menemukan kapak tersebut pada kedalaman 40 senti­meter di salah satu bagian abris sous roches (rock shelter) situs Mendale.

Menurut Ketut, kapak persegi terse­but membuktikan bahwa di daerah Gayo sudah ada budaya Neolitik yang berkembang sekitar 5.000 tahun silam. Kapak yang ditemukan di Gayo itu, menurut dia, merupakan penemuan pertama untuk wilayah Sumatera terhadap benda serupa.

Di sisi lain, ia memaparkan, sebe­lumnya tidak ada yang tahu kalau kandang kerbau di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, pernah dihuni manusia purba. Bentuk kan­dang kerbau milik warga setempat itu, dalam istilah arkeologi disebut rock shelter (ceruk) yang memanjang sekitar 100 meter lebih, mengarah ke Danau Ceruk Mendale. Posisinya di sisi jalan Mendale, sekitar 150 meter dari danau dimaksud.

Hasil penelitian yang dilakukan tim arkeologi Medan menunjukkan Rock Shelter Mendale pernah digunakan sebagai tempat kehidupan yang ditandai dengan bekas pembakaran pada tanah dengan warna yang ber­beda. “Hal ini membuktikan adanya kehidupan yang lama dan berkali-kali menggunakan lokasi Mendale,” ujar Ketut.

(Harian Aceh | ZULKARNAIN)

(Harian Aceh | ZULKARNAIN)

Mengenai tulang-belulang manusia purba yang berhasil ditemukan tim arkeologi tersebut adalah tulang paha kaki, di Gua Mendale, Keca­matan Kebayakan. Tulang-tulang itu didapati pada hari terakhir peng­galian situs mendale. Menurut Ketut, berdasarkan data-data penelitian, komunitas orang-orang yang pernah hidup pada masa zaman dulu, bila ada yang meninggal dunia langsung dikebumikan dengan menindih batu di atasnya.

Hal itu, menurut dia, dilakukan orang purba untuk menghindari agar mayat tersebut tidak dimakan oleh binatang buas. Saat ditemukan, tulang paha kaki dan pinggul tersebut dalam po­sisi tertindih oleh batu. Dari sanalah, ia berpendapat demikian.

Ia juga menyebutkan, pada 2007 lalu, timnya telah melakukan survei. Hasil survei kala itu, Ketut menprediksi tiga tempat yang diduga pernah dihuni manusia purba di Gayo, yaitu Ceruk Mendale, Ceruk Putri Pukes, dan Ceruk Loyang Datu, di Kecama­tan Linge.

Sebelum ke Takengon, Tim Balai Arkeologi Sumut melakukan pene­litian di Tanjung Pinang, Kabupaten Bintan. Kata Ketut, Balai Arkeologi Sumut juga telah melakukan eskavasi di Aceh Tamiang dan menemukan kehidupan prasejarah 7.000 tahun silam, tepatnya 7080 M. “Situs sejarah akan sangat menarik bagi wisatawan. Penelitian ini diharapkan menjadi pendukung pariwisata alam Gayo yang indah, seperti danau yang menjadi satu kesatuan,” harap tim peneliti tersebut.

Oleh Zulkarnain, wartawan Harian Aceh wilayah Takengon dan Bener Meriah.


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi VIII, Mei 2009