tuhoe 7 saweue gampong - DSC_0502

Beginilah potret suram pendidikan di Aceh, salah satunya seperti terlihat di Pulo Aceh. Mirisnya, ini terjadi pada tingkat sekolah dasar, jenjang pertama anak-anak menempuh bangku pendidikan.

Di Gampông Lapeng, Pulo Aceh ini, siswa sekolah dasar belajar di kantor geuchik, tidak ada meja dan bangku. Mereka menulis dan membaca sembari duduk bersila di lantai. Sarana sederhana itu pun dilakukan dari dana kutipan pajak gampong. Bagi yang menjual dan mengeluarkan kekayaan alam gampong ke luar kampung itu, diminta membayar pajak yang selanjutnya digunakan untuk kebutuhan umum. Begitulah ihwal menimba ilmu di sana.

Sebenarnya, gampông ini memiliki banyak sumberdaya alam, seperti kandungan besi di Gunung Cumok, batu gunung, kayu, pasir, nilam, dan sayur-sayuran. Rata-rata mereka menjualnya ke luar. Menurut Zainuddin, Geuchik Lapeng Pulo Aceh, Aceh Besar, Sabtu (19/7) lalu, para penjual kekayaan alam Pulo Aceh itu membayar distribusi sedikit bagi kepentingan gampong.

“Kami sangat membutuhkan fasilitas umum yang belum ada, seperti rumah sekolah, pukesmas pembantu, tanggul, dermaga, bale nelayan,” ucapnya, di Pulo Aceh beberapa waktu lalu.

Menurut dia, masih banyak ada anak muda di gampôngnya yang tidak bisa baca-tulis. Gampong mereka juga diakuinya tidak tersentuh oleh pembangunan sumberdaya manusia, terpencil, dan terisolir. Mengenai listrik, warga gampông masih menumpu pada lampu teplok sehingga boleh dikatakan kehidupan di sana saat malam masih dalam gelap gulita.

“Yang sedihnya, jika sakit mendadak, tidak ada perawat dan pukesmas pembantu yang siap menangani kesehatan warga. Sering warga sakit, hanya berharap pada Allah supaya dipanjangkan umurnya,” kata Zainuddin sedih.

Karena itu, tambah Zainuddin, tetua adat gampông sepakat mengutip pajak distribusi bagi yang mengambil hasil alam gampông itu untuk dijual ke luar. Dana distribusi itu akan digunakan untuk kebutuhan pendidikan anak-anak, seperti membeli baju, buku, alat tulis, dan tas.

tuhoe 7 saweue gampong - Peresmian Alternatif School Lapeng-Pulo Aceh (Aceh Rayeuk, 2005)_66

Sebenarnya Gampông Lapeng itu sudah memiliki sebuah sekolah darurat. Pada tahun 2005/2006 lalu, Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh pernah menyumbangkan pendirian sebuah sekolah di sana. Sayangnya, sekolah darurat yang dibangun JKMA Aceh itu tidak berfungsi lagi. Akhirnya, warga berinisiatif menyekolahkan anak-anaknya dengan memakai ruang kantor gampong. “Program JKMA itu hanya berlangsung selama setahun,” ujar Zainuddin.

Zainuddin mengatakan pernah meminta kepada camat setempat untuk membangun sekolah di sana, “Dua lokal pun jadi,” katanya. Camat kala itu pernah berjanji akan membangun. Namun, sudah beberapa lama ditunggu, janjinya tak kunjung ditepati.

Hal senada juga dikatakan oleh Zakaria, seorang warga. “Gampong kami tidak ada dalam kamus dan peta. Saya berasal dari Pasi Lhong, sekitar 64 tahun lalu kawin dengan warga Lapeng. Setelah tsunami, penduduk Gampông Lapeng tinggal 130 jiwa, banyak pindah mengungsi ke Jantho. Sesampainya di sana, warga tidak mau pulang lagi. Di sanalah mereka menyekolahkan anak-anaknya, karena di sini tidak ada rumah sekolah. Lapeng benar-benar sangat terpencil,” ucapnya.

Tak Ada Tarwih

Ada hal menarik dan sedih lainnya di Gampông Lapeng. Bukankah sudah menjadi kebiasaaan di Aceh (mungkin selurh negeri penganut agama Islam), saat bulan puasa berbondong-bondong ke masjid atau musalla melaksanakan salat Tarwih. Namun, di gampông ini tidak ada tarawih, karena ketiadaan imam. “Tolong carikan kami ustadz dan teungku untuk menjadi imam taraweh bulan puasa tahun ini,” harap Zakaria yang juga menjabat sebagai ketua Tuha Peut Gampong Lapeng.

Lain lagi cerita Fadilla, ibu guru yang menjadi relawan mengajar anak-anak seusia SD di Gampong Lapeng. Menurut guru itu, ada 18 orang siswa yang belajar di kantor geuchik gampông. Dia mengajara di sana dengan menerima pemberian masyarakkat sebesar Rp700 ribu per bulan.

“Tidak ada orang yang melihat nasib pendidikan  anak gampong sini, pejabat sibuk mempertahankan dan menumpuk kekayaannya. Di sini anak-anak umur sekolah tidak bersekolah lagi. Mereka akhirnya jak kawe bieng (mencari kepiting),” ucap ibu muda itu. Dia mengaku mengajar di sana karena prihatin dengan keadaan anaka-anak di Gampông Lapeng.

Fadilla yang hanya tamatan SMA ini berasal dari Aceh Selatan. Dia bekerja menjadi relawan atas dasar kesedihan melihat pendidikan anak-anak gampong yang tidak mendapatkan perhatian negara. Padahal, UUD ’45 jelas menyatakan fakir miskin dan anak-anak telantar diperlihara oleh negara.

“Seandainya ada rumah sekolah di kampung terpencil ini, ada sekitar 40-an orang siswa yang akan mau belajar. Ini sudah cukup menjadi modal generasi penerus,” tuturnya.

Sementara itu, Drs. Sulaimi, Camat Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, yang ditanyai tentang hal ini, membenarkan Lapeng belum memiliki rumah sekolah. Saat ditanya gampong belum masuk listrik, Sulaimi menjawab ada empat wilayah di Pulo Aceh yang belum dimasuki PLN, yaitu Deudap, Alue Raya, Lapeng, dan Meulingge. Sulaimi, yang ditemui pada Minggu (10/8), di Sekretariat Pulo Aceh, Punge, Banda Aceh, sempat mengatakan, di Deudap memang sudah dibangun sekolah, dengan enam belas ruangan. Sayangnya, di sana hanya ada 18 orang murid dan 8 guru pengajar.

“Guru dengan murid lebih banyak gurunya. Satu hal lagi, banyak guru menetap di Banda Aceh, karena pemerintah tidak memperhatikan nasib mereka. Pulang-pergi mengajar ke Pulo membutuhkan dua kali lipat biaya,” kata Sulaimi.

Sekedar diketahui, Pulo Aceh dikelilingi oleh laut. Untuk sampai ke sana dibutuhkan waktu hingga dua jam perjalanan, dari Banda Aceh. Pulo Aceh memiliki 17 gampong, dibagi dalam tiga kemukiman, yaitu Mukim Pulo Nasi, Mukim Pulo Breah Utara, dan Mukim Pulo Breah Selatan. “Saat ini, jumlah penduduk Pulo Aceh sekitar 5.600 jiwa, bermukim di dua pulau, Pulau Nasi dan Pulau Breah,” demikian Sulaimi.*begi

Laporan Bahagia Ishak

tuhoe 7 saweue gampong - Peresmian Alternatif School Lapeng-Pulo Aceh (Aceh Rayeuk, 2005)_28

tuhoe 7 saweue gampong - Peresmian Alternatif School Lapeng-Pulo Aceh (Aceh Rayeuk, 2005)_17
FOTO DOK. JKMA ACEH


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi VII, Desember 2008