Tuhoe XXI22

Salah satu hakikat bahasa adalah unik. Artinya, setiap bahasa memiliki kekhasan tersendiri. Kekhasan tersebut membuat suatu bahasa tidak bisa disamakan dengan bahasa lain. Meskipun ada kosa kata yang bersamaan antara bahasa-bahasa tersebut, tetap maknanya berbeda karena bahasanya berbeda.

Keunikan bahasa inilah yang melahirkan sejumlah anekdot berkenaan dengan bahasa, sebab kosa kata tertentu dalam satu bahasa terkadang memiliki kesamaan bunyi atau kemiripan yang dekat. Tak usah heran jika antara penutur satu bahasa dengan bahasa lain cenderung salah paham karena masing-masing memaknai dengan bahasa masing-masing.

Berikut ini saya kisahkan kembali sebuah anekdot antara orang Gayo dengan orang Aceh. Sebenarnya, anekdot ini sudah diketahui secara umum oleh masyarakat Gayo, terutama Gayo Takengon dan Bener Meriah. Oleh karena itu, jika terdapat pengulangan kisah dari cerita yang pernah Anda dengar sebelumnya dengan cerita berikut, bukan berarti telah terjadi plagiat, melainkan mempertegaskan kembali tentang hakikat bahasa yang unik dan khas dengan contoh yang sudah lazim berkembang dalam kehidupan masyarakat.

Ilustrasinya begini, sekelompok mahasiswa dari Banda Aceh sedang melakukan studi pembelajaran ke Aceh Tengah. Mereka berangkat dari Banda Aceh dengan menyewa sebuah bus. Bus itu sudah penuh sesak dengan mahasiswa. Kondisi berdesak-desakan tersebut tentu tidak mengasyikkan, apalagi dalam perjalanan jauh.

Dalam perjalanan dari Bireuen ke Takengon, sekitar kawasan Bener Meriah, seorang perempuan tua menyetop bus rombongan mahasiswa itu. Karena yang meminta berhenti adalah nenek-nenek, mahasiswa sepakat berhenti. Ternyata nenek itu minta tumpangan untuk pulang ke Takengon.

Kelompok mahasiswa itu sepakat bahwa menolong seorang nenek adalah sebuah keharusan. Akhirnya, si nenek diizinkan naik ke dalam bus sewa yang penuh sesak tersebut. Akan tetapi, baru beberapa menit bus tersebut berjalan, si nenek berujar, “Kuso nan” sambil menyenggol seorang mahasiswa di sampingnya.

Sang nenek sempat mengulangi beberapa kali ucapan yang sama dengan cepat sehingga yang terdengar adalah “So nan.” Mahasiswa yang berada tepat di samping si nenek dan merasa disenggol langsung menoleh.

“Nan lon Ismail, Nek,” sahut si mahasiswa dengan ramah.

“So nan!” ucap sang nenek sedikit keras sambil menyorong si mahasiswa dengan sikunya pula.

Mahasiswa itu tetap menjawab “Nan lon Ismail.”

Si nenek kembali mengulangi pertanyaannya sambil mencubit tangan si mahasiswa. “Kuso nan.”

Mahasiswa itu merasa kesal. “Nan kee Ma’e hai Nek!” jawabnya tinggi.

Semua mata menoleh ke arah si mahasiswa dan nenek. Kebetulan di sana ada seorang mahasiswa yang paham bahasa Gayo. Ia menjelaskan bahwa maksud si nenek bukan bertanya nama, melainkan minta tolong geser sedikit karena ia kesempitan.

Begitulah hakikat bahasa. Kosa kata yang mirip antara bahasa Gayo dan bahasa Aceh telah membuat penafsiran yang berbeda antara penutur. Tak ada yang salah di antara mereka. Hal ini hanya perkara bahasa yang berbeda sehingga maknanya pun berbeda.

Sebenarnya, ada banyak anekdot mengenai bahasa seperti ilustrasi di atas. Hal ini semakin membuktikan bahwa bahasa pada sifatnya universal, yakni menyeluruh seluas semesta. Di sisi lain, bahasa juga punya kekhasan tersendiri yang disebut dengan “unik”. Oleh karena itu, tak perlu heran mendengar orang Sunda berbicara dengan penambahan “teh” hampir di setiap kata yang diucapkannya sehingga secara teks bisa bermakna ambigu. Misalnya, “Ini teh susu, ini teh gelas.” Maksud si orang Sunda adalah “Ini susu,” bukan “teh susu”; “Ini gelas,” bukan “teh gelas”.

Demikian pula jika orang Aceh pergi ke Medan. Bisa saja terjadi salah makna tatkala orang Aceh bicara dengan orang Batak. Misalkan orang Aceh tanpa sengaja menyenggol orang Batak. Lalu orang Batak berujar, “Ulang…” Orang Aceh kembali menyenggol si Batak dengan pemahaman bahwa disuruh ulang senggol. Padahal, maksud orang Batak mengatakan “Ulang” adalah ‘jangan’.

Semua ilustrasi di atas tergolong ke dalam ciri khas bahasa yang menjadi salah satu dari hakikat sebuah bahasa. Artinya, tak ada bahasa yang sempurna di dunia ini. Setiap bahasa tetap ada kelebihan dan kekurangan. Jika dalam ilustrasi di atas, Orang Gayo diuntungkan, bisa saja dalam ilustrasi lain orang Gayo dirugikan.

Sebagai contoh sederhana begini. Masyarakat Aceh terkadang suka memberi nama anaknya dengan Putra atau Putri, demikian pula di Gayo. Misal, Fatir Saputra, atau Dewi Saputri, atau Iwan Putra Gayo. Bagi orang Aceh memanggil temannya yang bernama Putra atau Putri di suku awal nama tersebut adalah biasa. Karena itu, jangan heran jika nama Putra atau Putri biasa dipanggil dengan “Put” saja.

“Mau kemana, Put?” atau “Put, kamu ada minyak makan?” Kalimat-kalimat seperti ini biasa diucapkan orang Aceh dan mungkin oleh suku lain di Indonesia. Namun, jika panggilan “Put” tersebut diucapkan di depan orang Gayo atau kepada orang Gayo, dan mereka maknai dalam bahasa Gayo, muncullah penafsiran yang sangat negatif. Bisa saja Anda yang bertanya pada orang Gayo dengan kalimat “Put kamu ada minyak makan?” langsung digampar, karena tidak mungkin dalam kelamin perempuan tersebut ada minyak makan.

Hal-hal ini seperti ini juga termasuk dalam kajian keunikan bahasa. Maka jangan pernah memandang sebelah mata bahasa orang lain. Hargai bahasa ibu masing-masing dan hormati bahasa ibu orang lain, itulah tanda orang berbudi-bahasa.

Herman RN
—Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah—

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XXI, Juni 2018