Sudah menjadi kebiasaan di daerah mana pun, akhir tahun banyak orang berlibur. Berlibur menjadi sesatu yang mengasyikkan, apalagi berlibur besama keluarga atau orang terkasih. Berlibur dapat dilakukan di banyak tempat, mulai dari gunung hingga pantai, dari mengunjungi gedung hingga balai. Halnya di Aceh, ada banyak tempat yang bisa dikunjungi saat libur. Namun, tuhoe tak mungkin merekam semua tempat wisata di Aceh dalam ruang sempit ini. Maka, beberapa tempat berikut ini tuhoe tawarkan ke hadapan Anda, yakni berkunjung ke makam.
Banyak alasan yang menjadikan tuhoe memilih makam sebagai tempat kunjungan akhir tahun. Di antaranya sebagai mengingat bukti sejarah, sebab situs sejarah serupa di bawah ini terkesan diabaikan oleh pemerintah. Padahal, mereka adalah pahlawan dan bukti bahwa di Aceh pernah terjadi sejarah teramat dahsyat. Kemudian, penetapan kuburan sebagai kunjungan akhir dan awal tahun ini tuhoe pilih sekaligus hendak mengingatkan kita, bahwa di sanalah (kuburan) tempat kunjungan itu bermuara.

Kuburan Masal Korban Tsunami (Dok. JKMA Aceh)
Kuburan Massal Korban Tsunami
Tak ada nisan satu per satu selayak pekarangan pekuburan laizimnya. Di sana yang ada hamparan tanah luas, sedikit membukit memang. Tak ada taburan bunga atau pohon jarak. Hamparan luas itu dikelilingi pagar bertiang beton. Sekelilingnya pula dihiasi dengan 99 nama Allah. Di sanalah bukti sejarah duka akhir tahun 2004 di Serambi Makkah. Ratusan manusia dikuburkan satu liang di sana sehingga disebut dengan kuburan massal korban bencana alam gempa dan tsunami.
Akhir tahun 2007 lalu, tepatnya pada tanggal yang sama dengan kejadian tsunami tiga tahun silam, 26 Desember 2004, banyak orang berkunjung ke sana. Mereka berziarah sekaligus bertamasya. Tak salah bila tuhoe mengajak pembaca berwisata ke sana, ke kuburan massal korban tsunami, sebagai pertanda di sini, di ranah peradaban duka ini pernah terjadi bencana tsunami. Kuburan massal itu bisa Anda dapati di beberapa tempat, di antaranya, di Ulee Lheue, Lambaro, Krueng Raya Mari berwisata sambil berdoa di sana!

Makam Sultan Iskandar Muda (Dok. JKMA Aceh)
Makam Sultan Iskandar Muda
Dialah raja yang adil, dijuluki bijaksana dalam memimpin. Salah satu yang membuktikan hal itu, dia rela sekaligus tega merajam anak kandungnya sendiri, Meurah Pupok, karena berzina. Di tangannya Aceh mengalami masa kejayaan. Sultan Iskandar Muda, demikian orang menyebutnya, sedang nama kecilnya adalah Perkasa Alam. Dia lahir di Aceh, 1593 dan mangkat pada 27 Desember 1636. Dia dimakamkan di Komplek Gedung Meuseum Aceh atau disebut juga Kandang Meuh. Patut sekali berziarah ke sana, karena dialah raja yang membawa Aceh kepada masa gemilang.

Kerkhoff Peucut (Dok. JKMA Aceh)
Kerkhoff Peucut
Sebagaimana diketahui bahwa Kerajaan Aceh dan rakyatnya sangat gigih melawan Kaphé Beulanda. Rakyat Aceh mempertahankan Negerinya dengan harta dan nyawa. Perlawanan yang cukup lama mengakibatkan banyak korban di kedua belah pihak. Bukti sejarah kini dapat ditemukan adalah berupa pekuburan Belanda. Kuburan Belanda yang ada di Blower, Banda Aceh, itu disebut juga dengan Kerkhoff. Di sana dikuburkan kurang lebih 2000 serdadu Belanda, sebaliknya tidak terhitung pula banyaknya rakyat Aceh yang meninggal dalam mempertahankan setiap jengkal tanah airnya. Namun, tidak diketahui di mana kuburan mereka. Kuburan Belanda hanya secuil kisah penaklukan penjajahan, tapi kubur pahlawan Aceh, tentu masih tanda tanya bagi kita, di mana mereka dikuburkan?
Makam Syiah Kuala
Makam Teuku Syiah Kuala terdapat di Desa Alue Naga, tepatnya dekat muara Krueng Aceh. Untuk sampai ke sana tidak terlalu jauh dari pusat kota Banda Aceh. Menurut sebuah sumber sajarah, gelar Teuku Syiah Kuala itu milik Syekh Abdurrauf bin Ali Al-Jawi Al-Fansyuri As-Singkili, yaitu seorang ulama Aceh yang banyak mengabdikan dirinya pada ilmu pengetahuan dan pembinaan masyarakat. Makam Syiah Kuala juga menjadi sebuah saksi keganasan tsunami. Kabarnya, dari makam ini pernah muncrat air ke permukaan sebagai tanda akan terjadi musibah besar (tsunami). Wallahhualam.
Makam Cut Nyak Dhien
Aneh memang berkisah tentang Makam Cut Nyak Dhien. Pasalnya, makam Cut Nyak Dhien bukan di Aceh, meskipun dia seorang pahlawan Aceh. Makam Cut Nyak Dhien terletak di tanah Jawa, persisnya di Kota Sumedang, Jawa Barat. Di kota inilah, Cut Nyak Dhien dikebumikan. Namun, dia merupakan keturunan Aceh. Hal ini terjadi karena Cut Nyak Dhien menghabiskan hari-hari terakhir dalam hidupnya hingga wafat di kota itu, yaitu pada masa pembuangan oleh kolonial Belanda. Sehingga, tidak aneh jika kemudian ia dimakamkan di kota yang bukan kampung kelahirannya sendiri. Namun demikian, tak salah kiranya jika kita, anak Aceh atau siapa saja yang ingin kenal pelopor pergerakan perempuan di Aceh ini, berkunjung ke makamnya di Jawa. Apalagi, sekedar berlibur di akhir tahun. Cut Nyak Dhien sangat patut kita kenal, kendati lewat makamnya, sebab dialah sesungguhnya yang menggebrak gender di Aceh atau bahkan Melayu secara luasnya. Jika R. A. Kartini, hanya berceramah lewat bukunya tentang hak-hak perempuan, Cut Nyak Dhien, langsung melakukan sendiri, membuktikan bahwa perempuan berhak memimpin perang, memimpin rapat, mengangkat senjata, dan sejenisnya seperti kaum Adam. Dialah yang membelah hutan, mendaki gunung, dan mengajari perempuan Aceh untuk berani berkata “LAWAN!” terhadap semua bentuk penjajahan.
Makam Teuku Umar
Pahlawan Aceh satu ini dilahirkan pada 1854 (tanggal dan bulan tidak disebutkan dengan pasti) di Meulaboh, Aceh Barat. Dia pernah memimpin perang gerilya Aceh pada tahun 1873 hingga 1899. Dialah geuchik termuda sepanjang sejarah Aceh. Umurnya saat itu baru menjelang 19 tahun, tapi dia sudah dipercayai menjadi geuchik, sekaligus ikut berperang. Umar gugur di Gampông Mugo, pedalaman Meulaboh, 10 Februari 1899. Pada makamnya terpancang sebatang kayu yang hidup (konon tak pernah layu). Menurut sahibul, itu adalah tongkat Teuku Umar. Dari tongkat itu, katanya keluar air. Banyak yang berziarah dan berdoa di sana, mengapa tidak sekarang giliran tuhoe mengajak Anda. Mari ke sana.
Masih banyak lagi tentunya makam-makam pahlawan Aceh yang dapat dikunjungi. Namun, edisi kali ini tuhoe hanya dapat memaparkan lima makam di atas. Semoga di lain kesempatan kita dapat mengunjungi makam lainnya sebelum makam kita yang dikunjungi orang, sebelum kita yang dikunjungi Izrail.
Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi IV, Desember 2007






