tuhoe 4 meuhaba - kapai prang aceh

Hikayat Malem Dagang merupakan epos tertua warisan za­man keemasan tradisi sastra Aceh. Hikayat ini diciptakan oleh Chik Pante Geulima, yang selesai pada 8 Jumadil Awal 1309 H (1889 M). Hikayat Malem Dagang sebuah karya yang tergolong panjang, terdiri dari 2280 bait syair. Ketika karya ini ditulis, Perang Sabil sedang berkecamuk di Aceh.

Hikayat Malem Dagang dimulai dengan susunan baris-baris kalimat pujian kepada Allah swt. Pengarang membuka syairnnya dengan,

“Bismillahirramanirrahim. Alhamdulillah segala puji, semua kembali kepada Rabbana
Segala puji kepada Tuhan, salawat, tuan, untuk Saidina
Setelah salawat atas Muhammad, keluarga dan sahabat, muhajirin, ansar
Kuminta tolong kepada Allah, semoga lancar saya mencipta”.

Hikayat ini merupakan ungkapan kisah yang terjadi pada masa pe­merintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Sebuah hikayat yang melukiskan perjalanan perang Sultan Iskandar Muda ke pesisir Utara dan semenanjung Melaka. Hikayat ini digolongkan para pe­neliti pada hasil karya yang bermutu tinggi. Hal ini melihat bahasa yang digunakan punya daya estetika yang indah dan pelukisannya sangat tajam. Dialognya cukup menarik.

Dalam syairnya akan ditemukan sejumlah tokoh yang berpengar­uh di Aceh. Tokoh utamanya adalah Sultan Iskandar Muda yang memimpin Armada Cakra Donya ke Melaka. Di samping itu, juga dikisahkan tentang Putri Pahang, permaisuri Sultan Iskandar Muda, seorang putri dari Istana Pahang. Kemudian, Raja Raden, saudara Raja Si Ujud dan Raja Si Ujud sendiri yang membuat onar di Aceh. Selain itu, juga ada Ja Pakeh, seorang ulama yang mendapat pendidi­kan militer di Turki, ahli strategi, penasehat Sultan Iskandar Muda.

Malem Dagang adalah seorang Laksamana muda, diangkat menjadi Panglima Armada Cakra Donya. Lakon sebagian tokoh-tokoh terse­but tampak pada cuplikan (ditulis dalam bahasa Aceh) berikut ini. Mari kita ikuti petikannya, terjemahan Imran Teungku Abdullah:

Kembali dari Banang menjumpai putri,/ dibawa kemari bersama raja/ Tuan Putroe Phang dan Raja Raden,/ Tiada yang lain Paduka Meu­kuta// Kalau begitu wahai Bujang,/ baliklah sekarang ke bahtera/ Suruh masuk Kuja Bantan,/ sekalian dengan Anda// Ketika menden­gar demikian sabda/ berjalan segera menghadap panglima/ Begitu bertemu disampaikan/ Baginda panggil kini Anda//

Hikayat Malem Dagang juga menceritakan permusuhan Si Ujud, Pangeran Melaka yang melawan pelindungnya Sultan Iskandar Muda. Dikisahkan, Si Ujud bersama adiknya, Raja Raden, datang ke Aceh diterima dengan cara kebesaran. Antara Raja Raden dan Sultan Iskandar Muda segera terjalin persaudaraan sehingga pangaren itu masuk Islam, lalu menyerahkan putri Raja Pahang. Sebagai gantinya, Raja Aceh memberinya salah seorang istri Raja Aceh.

Terhadap sikap Raja Raden, Si Ujud tak setuju, dia mencemoohkan sikap adiknya itu. Dilukiskan, Si Ujud sangat marah sehingga ma­tanya berwarna merah. Ia menyalahkan Raja Raden, karena Putroe Phang yang cantik diambil Sultan Iskandar Muda. Bentrok antara Si Ujud dan Raja Raden semakin meruncing digambarkan dalam syair berikut ini.

Si Ujud berang dan amarah/ Matanya merah bak biji saga// “Ka­kanda senang di negeri ini/ Sampaikan bini dirampas raja/ Putroe Phang jelita diambil orang/ Kakanda digantikan yang mirip biawak/ Baru diberikan putri Aceh/ Runduk tersengeh dengan raja”// “Men­ gapa adik berkata demikian/ Kukira takkan binasa”/ “Hentikan tu­turmu hai tua asu/ Tak tahu malu raja Melaka”.// “Mengapa adik aku kau maki/ Tak kau takuti kualat timpa?”/ “Hentikan bicaramu hai ja­lang/ Sempat kupedang raja Melaka”// Sakitlah hati Raja Raden/ Tak mampu menegur saudaranya// “Mampuslah kau anak jalang/ Besok siang kusuruh sula”/ “Siapa pula akan menyulaku/ Lebih kutakuti asu ketimbang raja Anda”//

Dikisahkan, tokoh Si Ujud melanjutkan kemarahan dengan tindakan. Si Ujud melakukan perjalanan ke laut lepas. Si Ujud mengambil be­gitu saja harta rakyat. Barang-barang rakyat yang terdapat di pasar di rampas, Ladong dan Krueng Raya dibakar. Hal itu tergambar da­lam ungkapan;

Berbalik surut kita semua/ Kini Si Ujud ke laut berlepas/ Rakyat diram­pas semena-mena/ Barang pasar habis dirampas/ Ladong dibakar dengan Krueng Raya/ Betapa baginda diberi malu / Rumah seribu kuta / Delapan pukat telah tertawan/ Lima puluh nelayan dibawa serta/ Dua orang pawang dibunuhnya/ Mayat digantung di tebing kuala/ Ada yang dikaitkan kail di punggung/ Terkadang di lekum di rahan juga//

Raja Raden yang tetap setia kepada Sultan Iskandar Muda menyam­paikan kesediaannya untuk menyerang Si Ujud. Disiapkannya ekspe­disi besar puluhan ribu kapal untuk segera berangkat. Maka dilaku­kan perjalanan menyusuri pantai Utara dan Timur.

Setiba di Pahang, Raja Pahang sangat gembira sekali bertemu menantunya, Sultan Iskandar Muda dan bekas menantunya, Raja Raden. Raja Pahang mendoakan agar rombongan Sultan Iskandar Muda mencapai kemenangan.

Dari Pahang rombongan ke Johor Lama, lalu ke tempat Si Ujud, di­lanjutkan ke Johor Bali. Diceritakan, tanpa susah payah Sultan mem­peroleh kemenangan. Berikut kita ikuti dalam baris-baris syair hi­kayat.

Sekali meriam ditembakkan/ Tujuh buah tenggelam kapal raja/ Si Ujud berdiri di haluan/ Hendak menerjang Cakra Donya// Tujuh buah tenggelam kapal si Ujud/ Hendak dituntut pada panglima/ “Tu­juh buah kapalku karam/ Kini kuhadang Malem panglima”//

Si Ujud memang kalah, tapi dia tak bisa dibunuh, kendati sudah di­gunakan berbagai cara. Sampai suatu ketika ia sendiri mengatakan rahasia dirinya. Hal itu dapat kita ikut dalam syair berikut ini.

Tak diketahui cara membunuh Si Ujud/ Kafir kuyut tak beragama/ Betapa lagi digergaji/ Beribu cara ditimpakan siksa/ Begitupun tiada mendatangkan mati// Dibuka sendiri rahasia ajalnya/ “Hamba tu­anku jangan diazab/ Jangan teramat tuan siksa”/ Betapapun diper­lakukan/ Tiada padam nyawa hamba/ Leburkan timah barang sebe­langa/ Curahkan ke rangkung supaya fana.//

Siapa Teungku Chik Pante Geulima

Demikian indah dan meusyara’ syair itu. Patutlah kita mengenal so­sok pengarangnya. Teungku Chik Pante Geulima lahir tahun l839 di Gampông Pante Geulima. Pernah belajar pada pusat pendidikan Is­lam, Dayah Pante Geulima, yang dipimpin ayahnya sendiri, Teungku Chik Ya’kub. Chik Pante Geulima pernah juga mengikuti pendidikan militer pada pusat aksar Aceh yang bernama Makhad Baital Makdis.

Hikayat Malem Dagang ditulisnya sebagai karya yang bernafas perang. Sedikit banyak ini sesuai dengan pengalaman pengarang sendiri pada waktu itu, di Aceh pada sedang berkecamuk perang. Teungku Chik Pante Geulima ikut mendidik dan melatih pemuda-pemudi Aceh untuk menjadi laskar. Maka di Dayah Pante Geulima pun telah menjelma menjadi salah satu pusat pendidikan laskar di kawasan Pidie.

Akhir hidup pengarang dicatat sebagai pahlawan Kuta Batee Iliek. Dia gugur dalam satu pertempuran sengit di Bate Iliek, pada hari Jumat tahun l904 M, dalam usia 66 tahun. Dia dimakamkan di Gampông Meurandeh Alue, Kecamatan Banda Dua.

Oleh: L. K. Ara. Penyair asal Dataran Tinggi Gayo Takengon.


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi IV, Desember 2007

Gambar: Buku Sejarah Aceh