Nanggroe Aceh Darussalam sebagai daerah satu-satunya di Indonesia yang menjalankan status syariat Islam tentunya memiliki penduduk asli beragama Islam. Jikapun ada yang beragama non-Muslim, itu hanyalah penduduk pendatang.
Nah, sebagai penganut Islam, rumah ibadah di Aceh sudah barang tentu mesjid dan mushalla. Di Aceh, mushalla atau langgar atau surau dikatakan dengan meunasah. Sedangkan untuk mesjid sendiri ada yang mengatakan dengan mesjid, ada pula meuseugid atau meuseujid, tergantung dialek mana yang menggunakannya.
Mesjid yang paling megah dan terkenal di Aceh adalah Mesjid Raya Baiturrahman. Letaknya di pusat kota Banda Aceh. Pernak-pernik tuhoe edisi kali ini mencoba bercerita sekilas tentang mesjid tersebut dan meunasah.
Dalam konteks Aceh, setiap gampông ditandai dengan sebuah meunasah, sedangkan mesjid kebiasaanya terdapat pada sebuah pemukiman. Artinya, pada zaman dahulu, dalam beberapa buah gampông hanya ada satu mesjid. Hal ini sesuai filosofi bahwa shalat Jumat tempatnya di mesjid, bukan di meunasah. Oleh karena salah satu syarat sah shalat Jumat adalah minimal 40 orang (yang mengetahui hukum dan syarat Jumat), maka mesjid didirikan di beberapa gampông agar beberapa gampông tersebut dapat mengunjungi sebuah mesjid sehingga tercapai hitungan syarat sah Jumat.
Namun, sekarang ini pendirian mesjid tidak lagi berdasarkan penghitungan gampông. Hal ini disebabkan hampir di sepanjang jalan terdapat rumah penduduk dan disebabkan pula semakin banyaknya kaum pendatang ke Aceh. Sedangkan dahulu, jarak antara gampông yang satu dengan gampông lainnya sedikit berjauhan dan dalam satu gampông tidak banyak terdapat rumah penduduk sehingga diasumsikan tidak mencukupi kuota shalat Jumat apabila satu gampông ada satu mesjid.

1. Mesjid Raya Baiturrahman merupakan sebuah mesjid kebanggaan masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam. Semula mesjid ini hanya mempunyai satu kubah (kubah tunggal). Pada tahun 1873, Belanda yang menyerang Aceh membakar mesjid Raya. Namun, pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebagai ganti telah menghancurkan rumah ibadah umat Islam. Mesjid ini diperluas menjadi tiga kubah besar pada tahun 1935, dan tahun 1959-1968 kembali ditambah dua kubah sehingga mesjid ini semakin tambah perkasa dengan lima kubah yang diapit beberapa kubah kecil serupa menara di sekelilingnya. Ada yang melambangkan lima kubah tersebut sebagai lima sila dalam pancasila. Indonesia mengakui mesjid Raya Baiturrahman merupakan mesjid terindah di Indonesia. Coraknya yang indah, ukiran yang halus dan menarik, halaman yang luas dengan kolam ikan indah, serta di depannya menjulang sebuah menara, menjadikan mesjid ini tak tercontohkan oleh arsitek kekinian. (Wikipedia)

2. Menara Mesjid Raya
Di depan Mesjid Raya Baiturrahman berdiri sebuah menara besar dan menjulang ke angkasa. Menara saksi sejarah dan saksi keperkasaan tsunami itu dikenal orang dengan nama Menara Mesjid Raya Baiturrahman. Hal ini karena letaknya memang di pekarangan mesjid Raya. Menara ini pernah retak oleh gempa 8,9 SR. akhir 2004 lalu dan diisukan akan tumbang atau ditumbangkan. Namun, menara itu telah membuktikan keperkasaannya sehingga masih kokoh sampai sekarang. Acapkali pengunjung Mesjid Raya menaiki menara itu untuk melihat kota Banda Aceh. Dia (menara) tetap saksi perkasa dari sebuah sejarah. Kokoh serupa kokohnya pendirian ureueng Aceh yang dinukilkan dalam hadih maja
“Ureueng Aceh hanjeut teupèh, meunyoe teupèh padé bijèh hanjeut ta rasa, meunyoe hana teupèh bu leubèh meuteumèe rasa.” (Orang Aceh tidak bisa tersinggung, jika tersinggung bibit padi pun tidak diberikan, jika tidak tersinggung nasi basi pun mau diberikan).

3. Seperti yang sudah disebutkan di awal, tempat ibadah umat Islam di Aceh, selain mesjid, juga ada meunasah. Meunasah dalam bahasa Indonesia disebut dengan mushalla, surau, atau langgar. Meunasah lazimnya lebih kecil dari mesjid dan bentuk atasnya tidak berkubah sebagaimana mesjid. Bentuk meunasah sama saja dengan rumah-rumah biasa. Berbeda dengan mesjid, karena bentuk meunasah lebih kecil dan sederhana, tidak digunakan orang untuk shalat Jumat.
Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi III, November 2007
Foto: Dok. JKMA Aceh





