Arsip untuk Kategori ‘Hadih Maja’
9 Feb 2:39 pm |
Kategori:
Hadih Maja |
Dilihat: 206 kali |
Komentar (0)
Sejak dahulu orang Aceh sudah hidup berkelompok. Mereka saling berinteraksi sesama dan membentuk komunitas dengan pola hidup yang khas. Kekhasan itu tercermin dalam berbagai hadih maja yang berkaitan dengan strata kemasyarakatan dan pola hubungan antarorang dalam masyarakat tersebut.
Sebagai sebuah masyarakat yang Islami, strata dan sistem organisasi dalam masyarakat Aceh dibangun berdasarkan konsep pemerintahan yang bernuansa Islami, bersyariat, dalam hal ini syariat Islam. Karena itu, sejak dahulu sudah ada ungkapan, “Nanggroe meusyara’, lampôh meupageue, umong meuateueng, ureueng meunama.” ‘Negeri bersyarak, kebun berpagar, sawah berpematang, orang bernama’. selengkapnya »
5 Feb 2:04 pm |
Kategori:
Hadih Maja |
Dilihat: 119 kali |
Komentar (0)
Sebagaimana kita ketahui, Aceh sering sekali diidentikkan dengan Islam. Gelar Seuramoe Meukah yang ditabalkan untuk provinsi ini pada masa lalu hingga hari ini menjadi bukti untuk itu. Pemberian hak untuk memberlakukan syariat Islam dalam era otonomi khusus saat ini menjadi bukti lain dari pengindentikan Aceh dengan Islam. Karenanya, sebagai sebuah komunitas muslim, masyarakat Aceh tentu saja melihat segala sesuatu dari sudut kacamata Islam. Mereka sangat percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kekuasaan Allah tak berbatas. Hal ini bukanlah sebuah jargon semata. Allah-lah yang menghidupkan dan mematikan seseorang, Allah juga yang memberi rezeki pada seseorang untuk tetap survive, bertahan hidup, di dunia fana ini.
Pemikiran tentang kemahakuasaan Allah sebagai khalik dan keterbatasan manusia sebagai makhluk banyak sekali diungkapkan dalam hadih maja Aceh. Hal ini, misalnya dapat dilihat dalam hadih maja, “Allah bri, Allah boh” ‘Allah yang beri, Allah pula yang ambil (buang)’. selengkapnya »
5 Dec 3:32 am |
Kategori:
Hadih Maja |
Dilihat: 221 kali |
Komentar (0)

Sebagai sebuah tradisi sastra lisan tradisional, hadih maja (peribahasa, ungkapan tradisional) diduga telah ada dan digunakan untuk berbagai kepentingan praktis dalam kehidupan masyarakat Aceh sejak zaman nenek moyang. Tradisi sastra lisan ini tidak diciptakan bila tidak memiliki fungsi tertentu dalam masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat Aceh sehari-hari menunjukkan bahwa tradisi sastra ini sering digunakan untuk mengontrol perilaku anggota masyarakat, khususnya generasi muda, mewariskan nilai-nilai yang dianggap positif, mendidik, dan berbagai fungsi pemakaian lain. Telaah teks hadih maja melalui tulisan ini mencoba menjawab persoalan perlu tidaknya hadih maja ini dilestarikan dan diwariskan ke generasi selanjutnya di tengah berbagai pengaruh global saat ini. selengkapnya »
27 Oct 6:27 pm |
Kategori:
Hadih Maja |
Dilihat: 150 kali |
Komentar (0)
“Lidah lebih tajam daripada pedang.”
Demikian kata orang bijak. Secara rasional hal ini mungkin agak aneh, tetapi ketika kita coba logika berpikir, kata-kata itu benar adanya. Kata ‘tajam’ konotasinya tentu dapat melukai. Bagaimana mungkin lidah dapat melukai melebihi pedang? Bukankah lidah hanya digunakan untuk menghancurkan makanan dalam mulut manusia agar mudah dicerna oleh usus?
Pedang adalah sebuah benda tajam. Jika ingin lebih tajam, asahlah pedang tersebut. Pedang hanya melukai bagian luar tubuh makhluk hidup, dalam konteks ini kita ambil sampel manusia. Ketika kulit manusia dilukai pedang, ia akan mengeluarkan darah. Semakin dalam bacokan atau sayatan pedang, semakin dalam sakit yang dirasakan. selengkapnya »