tuhoe 4 meututo - khanduri

Ilustrasi

Balai desa di kemukiman Lamjajah sudah sesak. Masyarakat dari gampông-gampông dalam lingkun­gan kemukiman Lamjajah sudah berkumpul di balee yang mereka beri nama “Aneuk Mulieng” itu. Ba­lee itu diberi nama “Aneuk Mulieng” karena bentuk kubahnya runcing bagai pelor senjata api. Dalam bahasa awak gampông di sana, menyebut pelor atau peluru sering dikatakan dengan “Aneuk Mulieng”, sebab itu pula balee musyawarah mukim itu diberi nama “Aneuk Mulieng”.

Masyarakat yang paling ban­yak berkumpul di sana adalah dari Gampông Lamgasien dan masyarakat Gampông Asoekrak. Untuk kedua nama gampông itu, tentu mereka punya sejarah pula mengapa dinamakan demikian. Namun, yang terpenting seka­rang adalah mengetahui mengapa mereka menyesaki balee tersebut. Balee itu biasanya akan ramai pada waktu-waktu tertentu seperti kanduri tingkat mukim, misalkan kanduri trôn u blang, kanduri laôt, dan sejenisnya. Jika kanduri ini di­laksanakan, tujuh gampông yang di bawahi Kemukiman Lamjajah akan berkumpul di sana, tapi hari ini hanya disesaki dari dua gampông. selengkapnya »