Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh
Arsip untuk Kategori ‘Cerita Gampong’
Meninjau Aceh Paling Sudut Sumatera; Aceh Singkil

9 Feb 8:10 pm | Kategori: Cerita Gampong | Dilihat: 252 kali | Komentar (0)

tuhoe 4 s.gampong - peta acehtuhoe | Aceh SingkilPermulaan Abad XVI adalah masa puncak kejayaan Kera­jaan Aceh. Aceh yang masa itu dipimpin Sultan Iskandar Muda (1607-1608) memiliki luas wilayah meliputi Pantai Barat Pulau Sumatera di Bengkulu hingga Pantai Timur Su­matera, termasuk wilayah Riau. Pada masa itu tersebutlah kerajaan kecil di Aceh, yaitu Aceh Singkil.

Adanya kerajaan kecil Aceh Singkil dapat dibuktikan dari pen­inggalan sejarah dan cerita rakyat. Peninggalan sejarah dimaksud sep­erti sejumlah situs sejarah, kuburan pahlawan, peralatan makan, per­lengkapan pertanian, adat istiadat. Hal ini menunjukkan adanya struktur masyarakat berlapis yang membuk­tikan adanya raja dan masyarakat biasa.

Dari cerita rakyat, tersebut pula adanya Syech Abdul Rauf As-Singkili dari daerah ini. Kepadanya tempat masyarakat kala itu merujuk hukum agama atau hukum syara’. Akhirnya, tersebutlah wilayah ini den­gan sebutan Aceh Singkil. selengkapnya »

Gas yang Bersumber dari Kotoran

5 Feb 2:48 pm | Kategori: Cerita Gampong | Dilihat: 144 kali | Komentar (0)

tuhoe 3 s.gampong - biogastuhoe | Aceh Utara - Gas alam sering disebut juga dengan gas bumi atau gas rawa. Ia merupakan sumber bahan bakar fosil berbentuk gas, yang terdiri dari metana (CH4). Metana ini dapat ditemukan di ladang minyak, ladang gas bumi, dan juga tambang batu bara. Ketika gas metana diproduksi melalui pembusukan bakteri anaerobik, yaitu bahan-bahan selain fosil, ia disebut dengan biogas. Sum­ber biogas dapat ditemukan di rawa-rawa, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, serta penampungan kotoran manusia dan hewan.

Ini pula yang terjadi di Aceh Utara. Melihat ilmu alam tersebut yang mengajari gas dapat diciptakan dari kotoran hewan, Muhammad Yusuf, salah seorang warga mengambil kesempatan baik tersebut dari sapi-sapi piaraannya.

Semula, penduduk Desa Alue Ca­pli, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, itu tidak pernah tahu menahu tentang biogas dan manfaat kotoran hewan. De­mikian pula pada masyarakat lainnya. selengkapnya »

Didong; Hikayat Lisan dari Negeri Dingin

5 Dec 2:41 am | Kategori: Cerita Gampong | Dilihat: 264 kali | Komentar (0)
Beberapa orang peserta dari JKMA Lut Tawar menari di sela-sela acara sarasehan. Tarian itu diiringi tiupan suling dan tepuk tangan peserta sarasehan

Beberapa orang peserta dari JKMA Lut Tawar menari di sela-sela acara sarasehan. Tarian itu diiringi tiupan suling dan tepuk tangan peserta sarasehan

Tiga puluh orang itu bersila di lantai. Tangan mereka menggenggam bantal mungil, lalu mereka memukul-mukul bantal itu sambil tubuhnya oleng ke kiri dan ke kanan. Dari mulut mereka keluar syair-syair nasehat dan sindiran halus, terkadang juga sebuah cerita.

Mereka terus berdendang seumpama meudaléh pantun. Keringat mengucur di wajah, dahi, dan leher mereka. Namun, tak ada sirat lelah di wajahnya. Senyum sesekali mengambang di antara anggukan kepala mereka. Empat di antaranya bersuara lebih lantang yang diikuti oleh lainnya. Demikian secuil pola sederhana pertunjukan kesenian didong dalam beberapa pementasan. selengkapnya »

Aceh Utara Masih Kental Imuem Mukim

27 Oct 7:53 pm | Kategori: Cerita Gampong | Dilihat: 154 kali | Komentar (0)

tuhoe 1 saweue gampongAceh Utara dikenal juga dengan sebutan Pasee. Aceh Utara yang sekarang beribukotakan Lhokseumawe itu tidak terlepas dari sejarah perkembangan Islam di pesisir Sumatera, yaitu Samudera Pasai. Oleh karena itu Aceh Utara disebut juga Pasee. Aceh Utara sempat juga dikenal dengan nama Luhak, yaitu sejak Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya sampai dengan tahun 1949.

Berdasarkan PP Republik Indonesia nomor 44 tahun 1999, kabupaten Aceh Utara terdiri atas 30 kecamatan. Namun, sejak keluarnya UU nomor 48 tahun 1999, Bireuen yang semula masuk wilayah Aceh Utara resmi menjadi sebuah kabupaten tersendiri. Kemudian, pada Oktober 2001, tiga kecamatan dalam wilayah Aceh Utara, yaitu kecamatan Banda Sakti, Muara Dua, dan Blang Mangat dijadikan sebagai kota Lhokseumawe. Dengan demikian, kota seluas 3.296,86 km2 itu sekarang hanya membawahi 22 kecamatan dengan jumlah penduduk sekitar 477.745 jiwa. selengkapnya »