Arsip untuk Kategori ‘Profil’
9 Feb 12:46 pm |
Kategori:
Profil |
Dilihat: 117 kali |
Komentar (0)
“…hak teusurak ilmu taburu bisu, aku tahu asal bisu, darah pendek asal mulamu jadi, beuso itam beuso putéh, nur muhammad mulamu jadi… urat kawat tulang besi. Pantang kau makan kulitku, haram kau jilat darahku, karena kutahu asal mulamu.”
Malam itu basah. Rerintik gerimis mencium bumi, kadang tersangkut di pucuk ilalang dan dedaunan. Duabelas pemuda duduk setengah melingkar di atas panggung open stage Taman Budaya Banda Aceh. Mereka mengenakan baju serba hitam yang dipadukan dengan kain sarung kuning bergaris hijau dan merah yang diikat sepinggang. Sebagian dari pemuda duapuluh-an itu menggunakan ikat kepala warna merah, sebagian lagi warna hitam. Kepala mereka oleng ke kanan dan kiri mengikuti irama rapa’i yang mereka tabuh. selengkapnya »
5 Feb 10:59 am |
Kategori:
Profil |
Dilihat: 75 kali |
Komentar (0)

tuhoe | Aceh Besar – Semilir angin laut Seulimuem menelisip pucuk-pucuk daun di pesisir pantai Gampông Lampanah. Ombak bergulung memecah dan mengeluarkan buih memutih di permukaan air. Terus menerus itu terjadi tanpa ada kesan bosan sebagai wujud sebuah kebiasaan laut.
Demikian halnya dengan penduduk di Kemukiman Lampanah, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar. Tak ada kesan bosan pada penduduk di sana untuk menjaga dan mewarisi adat sebagai sebuah kebiasaan lokal di daerah itu. Seperti terlihat pada akhir Agustus lalu. selengkapnya »
4 Dec 11:27 pm |
Kategori:
Profil |
Dilihat: 232 kali |
Komentar (0)

Panggung utama untuk kesenian adat selama kongres II JKMA Aceh.
Kijang kapsul yang ditumpangi tuhoe melaju di jalan berbatu. Sesekali tubuh kami terlambung ke atas. Di sebelah kanan jalan, laut membentang dan di sebelah kiri, gunung tinggi menjulang.
“Sebentar lagi kita sampai,” ujar salah seorang staf tuhoe ketika mobil mulai menuruni pendakian. “Nah, ini dia lapangan bola kaki kemukiman Blang Mee,” lanjutnya beberapa menit kemudian.
Mobil kami berbelok ke lapangan bola kaki. Di depan pintu masuk terpampang sebuah spanduk ucapan “Selamat Datang di Arena Kongres II JKMA Aceh”. Di sampingnya beberapa helai bendera kecil berjejer. selengkapnya »
27 Oct 6:19 pm |
Kategori:
Profil |
Dilihat: 139 kali |
Komentar (0)
“Meunyoe Buet Ka Mupakat, Lampôh Jirat Jeut Ta Peugala”
Tsunami tiga tahun lalu yang melanda Aceh tidak hanya merenggut nyawa dan harta, juga kampung. Perkampungan atau pemukiman yang indah dalam waktu hitungan detik berubah jadi laot raya.
Sebulan pascatsunami bantuan datang dari belahan dunia. Perkampungan dan pemukiman Kembali dibangun. Barak dan rumah berjejer di tepi pantai. Bagian gunung pun tak ketinggalan. Banyak lahan yang dulu semak dibuka jadi perkampungan. Rakyat Aceh memang tak pernah menyerah meski cobaan datang silih berganti. Hilang kampung satu, dibangun kampung yang lain. selengkapnya »