9 Feb 8:48 pm |
Kategori:
Pernak-Pernik |
Dilihat: 15 kali |
Komentar (0)
Sudah menjadi kebiasaan di daerah mana pun, akhir tahun banyak orang berlibur. Berlibur menjadi sesatu yang mengasyikkan, apalagi berlibur besama keluarga atau orang terkasih. Berlibur dapat dilakukan di banyak tempat, mulai dari gunung hingga pantai, dari mengunjungi gedung hingga balai. Halnya di Aceh, ada banyak tempat yang bisa dikunjungi saat libur. Namun, tuhoe tak mungkin merekam semua tempat wisata di Aceh dalam ruang sempit ini. Maka, beberapa tempat berikut ini tuhoe tawarkan ke hadapan Anda, yakni berkunjung ke makam.
Banyak alasan yang menjadikan tuhoe memilih makam sebagai tempat kunjungan akhir tahun. Di antaranya sebagai mengingat bukti sejarah, sebab situs sejarah serupa di bawah ini terkesan diabaikan oleh pemerintah. Padahal, mereka adalah pahlawan dan bukti bahwa di Aceh pernah terjadi sejarah teramat dahsyat. Kemudian, penetapan kuburan sebagai kunjungan akhir dan awal tahun ini tuhoe pilih sekaligus hendak mengingatkan kita, bahwa di sanalah (kuburan) tempat kunjungan itu bermuara. selengkapnya »
9 Feb 8:23 pm |
Kategori:
Seminar |
Dilihat: 12 kali |
Komentar (0)

tuhoe | Banda Aceh – Ruangan itu ber-AC. Sekelilingnya berdinding kaca yang tembus pandang hingga ke sebelah. Hampir seratus orang terdapat di dalamnya. Mereka duduk rapi dan apik memandang ke depan. Di depannya terdapat tiga orang ditambah seorang moderator duduk berdampingan.
“Sekarang kita tidak perlu khawatir lagi dengan undang-undang nomor 5 tahun 1979 yang menapikan keberadaan mukim dan gampông. Dengan hadirnya UUPA, keberadaan mukim dan gampông sekarang mulai diperhatikan kembali,” sebut salah seorang dari tiga yang di depan itu.
Badruzzaman Ismail, demikian nama lelaki itu. Menurut lelaki yang sekarang menjadi Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) itu, terhadap segala peraturan yang hadir di Aceh sekarang ini, masyarakat tidak perlu takut dan khawatir, karena semuanya demi Aceh dan masyarakat Aceh. selengkapnya »
9 Feb 8:10 pm |
Kategori:
Cerita Gampong |
Dilihat: 18 kali |
Komentar (0)
tuhoe | Aceh Singkil – Permulaan Abad XVI adalah masa puncak kejayaan Kerajaan Aceh. Aceh yang masa itu dipimpin Sultan Iskandar Muda (1607-1608) memiliki luas wilayah meliputi Pantai Barat Pulau Sumatera di Bengkulu hingga Pantai Timur Sumatera, termasuk wilayah Riau. Pada masa itu tersebutlah kerajaan kecil di Aceh, yaitu Aceh Singkil.
Adanya kerajaan kecil Aceh Singkil dapat dibuktikan dari peninggalan sejarah dan cerita rakyat. Peninggalan sejarah dimaksud seperti sejumlah situs sejarah, kuburan pahlawan, peralatan makan, perlengkapan pertanian, adat istiadat. Hal ini menunjukkan adanya struktur masyarakat berlapis yang membuktikan adanya raja dan masyarakat biasa.
Dari cerita rakyat, tersebut pula adanya Syech Abdul Rauf As-Singkili dari daerah ini. Kepadanya tempat masyarakat kala itu merujuk hukum agama atau hukum syara’. Akhirnya, tersebutlah wilayah ini dengan sebutan Aceh Singkil. selengkapnya »
9 Feb 3:51 pm |
Kategori:
Advokasi |
Dilihat: 30 kali |
Komentar (0)
Istilah Kehutanan diterjemahkan dari forestry dan telah dikenal oleh para rimbawan sejak Kongres Kehutanan Dunia ke VI tahun 1962 di Seattle. Namun, persepsi rimbawan tentang penyelamatan hutan masih sangat kurang, sebab tidak semua rimbawan mengikuti perkembangan yang terjadi di tingkat daerah, nasional, maupun internasional.
Masih banyak para rimbawan yang bekerja pada perusahaan Hak Penguasaan Hutan dan Pemerintah, baik di daerah maupun pusat. Pemahaman para rimbawan tentang persoalan kehutanan masih beragam. Bentuk operasionalnya yang merumuskan bentuk suatu sistem yang mengutamakan kayu sebagai pengelolaan primadona tidak mengalami perubahan, maka hutan tropis Aceh tinggal kenangan bagi generasi penerus. selengkapnya »
9 Feb 3:35 pm |
Kategori:
Fiksi |
Dilihat: 15 kali |
Komentar (0)

Ilustrasi
Balai desa di kemukiman Lamjajah sudah sesak. Masyarakat dari gampông-gampông dalam lingkungan kemukiman Lamjajah sudah berkumpul di balee yang mereka beri nama “Aneuk Mulieng” itu. Balee itu diberi nama “Aneuk Mulieng” karena bentuk kubahnya runcing bagai pelor senjata api. Dalam bahasa awak gampông di sana, menyebut pelor atau peluru sering dikatakan dengan “Aneuk Mulieng”, sebab itu pula balee musyawarah mukim itu diberi nama “Aneuk Mulieng”.
Masyarakat yang paling banyak berkumpul di sana adalah dari Gampông Lamgasien dan masyarakat Gampông Asoekrak. Untuk kedua nama gampông itu, tentu mereka punya sejarah pula mengapa dinamakan demikian. Namun, yang terpenting sekarang adalah mengetahui mengapa mereka menyesaki balee tersebut. Balee itu biasanya akan ramai pada waktu-waktu tertentu seperti kanduri tingkat mukim, misalkan kanduri trôn u blang, kanduri laôt, dan sejenisnya. Jika kanduri ini dilaksanakan, tujuh gampông yang di bawahi Kemukiman Lamjajah akan berkumpul di sana, tapi hari ini hanya disesaki dari dua gampông. selengkapnya »
9 Feb 3:26 pm |
Kategori:
Esai |
Dilihat: 19 kali |
Komentar (0)

Hikayat Malem Dagang merupakan epos tertua warisan zaman keemasan tradisi sastra Aceh. Hikayat ini diciptakan oleh Chik Pante Geulima, yang selesai pada 8 Jumadil Awal 1309 H (1889 M). Hikayat Malem Dagang sebuah karya yang tergolong panjang, terdiri dari 2280 bait syair. Ketika karya ini ditulis, Perang Sabil sedang berkecamuk di Aceh.
Hikayat Malem Dagang dimulai dengan susunan baris-baris kalimat pujian kepada Allah swt. Pengarang membuka syairnnya dengan,
“Bismillahirramanirrahim. Alhamdulillah segala puji, semua kembali kepada Rabbana
Segala puji kepada Tuhan, salawat, tuan, untuk Saidina
Setelah salawat atas Muhammad, keluarga dan sahabat, muhajirin, ansar
Kuminta tolong kepada Allah, semoga lancar saya mencipta”.
Hikayat ini merupakan ungkapan kisah yang terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Sebuah hikayat yang melukiskan perjalanan perang Sultan Iskandar Muda ke pesisir Utara dan semenanjung Melaka. Hikayat ini digolongkan para peneliti pada hasil karya yang bermutu tinggi. Hal ini melihat bahasa yang digunakan punya daya estetika yang indah dan pelukisannya sangat tajam. Dialognya cukup menarik. selengkapnya »
9 Feb 2:52 pm |
Kategori:
Mahir |
Dilihat: 15 kali |
Komentar (0)
Suku Aneuk Jamee nakeuh saboh suku di Nanggroe Aceh Darussalam. Aneuk Jamee nyan nyang le tinggai di Kabupaten Aceh Selatan ngon Kabupaten Aceh Barat Daya, nacit bacut tinggai di Kabupaten Aceh Barat ngon Kabupaten Nagan Raya.
Lam Kabupaten Aceh Selatan na limong boh kecamatan penduduk jih suku Aneuk Jamee. Kecamatan Tapaktuan 90%, Kecamatan Samadua 85%, Kecamatan Labuhanhaji Timur 99%, Kecamatan Labuhanhaji Tengah 95%, Kecamatan Labuhanhaji Barat 70%, seulaen nyan na lom di Daerah Kluet ngon Kecamatan Bakongan, yakni di Seuleukat.
Meunyo di Kabupaten Aceh Barat Daya, Aneuk Jamee di Kecamatan Susoh 90% di Kecamatan Manggeng 40%. Awak nyan banmandum mantong geu seutot adat ngon tradisi yang kaleuh na seujak pon bak indatu gobnyan, yang meuasai dari tanoh Minangkabau Sumatera Barat. Ureueng Minangkabau nyan jak u Aceh nyoe geuseutot pejabat Kerajaan Aceh yoh masa nyan tinggai di Minangkabau. Geujak keuno jak mita buet meutani. Seujak masa nyan keuh teuka sabe awak Aneuk Jamee u Aceh. Bak masa nyan, awak Aneuk Jamee ka jeut keu saboh suku dalam Nanggroe Aceh, nyang ka geupeukong nibak masa Sultan Iskandar Muda jeut keu Raja/ Sultan Aceh. selengkapnya »
9 Feb 2:47 pm |
Kategori:
Sajak |
Dilihat: 12 kali |
Komentar (0)
Alhamdulillah pujo keu Allah Kalimah thaibah ke saiyidina
Jino lôn kisah saboh seujarah Seuramoe Makkah seupanjang masa
Kisah lôn rawi meuganto thôn Dari Millenium phôn lôntuan calitra
Hana that panyang kisah nyo ampôn Meu’ah awai phôn keu ulôn beuna
Thôn dua reubèe Millenium phôn Ureueng gampông jiplueng u gunong
Agam inong abéh mat seunjata Bak dua reubèe sa darurat teuka
Dua reubèe dua operasi meunasah Ureueng dayah abéh keunong pèh
Bak dua reubèe lhèe teuka JSCDungon HDCkaru siat wèh selengkapnya »
9 Feb 2:39 pm |
Kategori:
Hadih Maja |
Dilihat: 16 kali |
Komentar (0)
Sejak dahulu orang Aceh sudah hidup berkelompok. Mereka saling berinteraksi sesama dan membentuk komunitas dengan pola hidup yang khas. Kekhasan itu tercermin dalam berbagai hadih maja yang berkaitan dengan strata kemasyarakatan dan pola hubungan antarorang dalam masyarakat tersebut.
Sebagai sebuah masyarakat yang Islami, strata dan sistem organisasi dalam masyarakat Aceh dibangun berdasarkan konsep pemerintahan yang bernuansa Islami, bersyariat, dalam hal ini syariat Islam. Karena itu, sejak dahulu sudah ada ungkapan, “Nanggroe meusyara’, lampôh meupageue, umong meuateueng, ureueng meunama.” ‘Negeri bersyarak, kebun berpagar, sawah berpematang, orang bernama’. selengkapnya »
9 Feb 2:31 pm |
Kategori:
Sajak |
Dilihat: 12 kali |
Komentar (0)

Mantong teubayang kisah uroe nyan
Tanggai 26 tsunami teuka
Bak uroe Minggu jeum poh lapan
Kisah uroe nyan han sagai lupa
Leupah that seudeh tsunami watee nyan
Poma lon tuan ka ie raya ba
Kamoe mumat jaroe nibak uroe nyan
Watee ji hantam ayah ngon poma selengkapnya »