31 Mar 1:58 AM |
Kategori:
Uncategorized |
Dilihat: 39 kali |
Komentar (0)
Lhokseumawe | acehtraffic.com – Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Pase pada hari ini, Senin, 27 Februari 2012 kembali menggelar pertemuan lokakarya, penyusunan rancangan qanun pemerintahan mukim kota Lhokseumawe di gedung Hasbi Assidiqi. Acara yang berlangsung selama sehari ini dihadiri seluruh mukim yang berada di kota Lhokseumawe, komisi A DPRK Lhokseumawe, Majelis Adat Aceh , Akademisi dan beberapa perwakilan elemen masyarakat sipil lainnya.
Draf rancangan qanun yang sebelumnya dirumuskan di Sekretariat JKMA Pase pada Minggu, 19 Februari 2012, bersama para imum mukim disempurnakan kembali dalam pertemuan lokakarya itu. Menurut Koordinator JKMA Pase Tgk Muhibuddin AR tujuan pertemuan itu meminta masukan-masukan untuk penyempurnaan draf rancangan qanun sebelum diajukan kepada DPRK Kota Lhokseumawe. selengkapnya »
31 Mar 1:57 AM |
Kategori:
News Corner |
Dilihat: 33 kali |
Komentar (0)
RIMANEWS-Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Pase) kembali menggelar pertemuan lokakarya penyusunan rancangan qanun pemerintahan Mukim untuk Kota Lhokseumawe. Pertemuan itu berlangsung di aula Gedung Hasbi Assidiqi dibuka oleh Ketua Komisi A DPR Kota Lhokseumawe Sudarwis yang dihadiri para imum mukim, haria peukan, panglima laot, pemerhati perempuan, Bagian Hukum Pemerintah Kota, akademisi dan kalangan elemen masyarakat sipil lainnya.
Menurut Koordinator JKMA Pase, Tgk Muhibuddin AR, tujuan pertemuan itu dilakukan untuk menyamakan persepsi dan memberikan pemahaman serta mencari masukan-masukan untuk mendapatkan penyempurnaan draf raqan mukim sebelum diajukan ke DPR Kota Lhokseumawe.
Tgk Muhibuddin AR menambahkan bahwa pihaknya akan mendorong rancangan qanun ini masuk dalam program legislasi DPRK Lhokseumawe. selengkapnya »
31 Mar 1:35 AM |
Kategori:
News Corner |
Dilihat: 49 kali |
Komentar (0)
Banda Aceh — Sekretaris Mukim Lampanah, M. Subhan bersama sejumlah tokoh masyarakat Lampanah, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar mengancam melakukan pertumpahan darah jika Pemerintah Aceh Besar tetap memaksa mengeluarkan izin tambang pasir besi di kawasan Lampanah.
Hal tersebut terungkap dalam Forum Discussion Club (FDC) yang diselenggarakan Komunitas Masyarakat Aceh Besar di Hotel Oasis, Kamis (09/2) pagi tadi. Ancaman itu dikemukan M. Subhan bersama tokoh masyarakat Lampanah dihadapan Wakil Bupati Aceh Besar, Anwar Ahmad, Asisten II Setdakab, Zulkifli, Kepala Dinas Pertambangan Aceh Besar, Bakhtiar, beberapa orang Anggota DPRK Aceh Besar dan sejumlah kepala dinas terkait lainnya. selengkapnya »
31 Mar 1:31 AM |
Kategori:
News Corner |
Dilihat: 37 kali |
Komentar (0)
Banda Aceh — Geuchik Ujung Mesjid, Kemukiman Lampanah, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar, Khairul Amri mengatakan untuk menyelesaikan masalah pertambangan khususnya pasir besir di Mukim Lampanah ini, masyarakat sudah membentuk Komite Fasilitator Pertambangan. Tim ini akan selesaikan semua masalah tambang.
Kepada The Globe Journal, Minggu (5/1) sore tadi di Desa Ujung Kupula, Lampanah, Khairul Amri mengatakan tim komite ini terdiri dari 34 orang yang berasal dari berbagai unsur di Kemukiman Lampanah. Tim ini sudah diakui dan sudah di SK kan dalam surat bernomor : 07/IML/SLM/AB/2012. selengkapnya »
31 Mar 1:00 AM |
Kategori:
News Corner |
Dilihat: 43 kali |
Komentar (0)
Koordinator JKMA Pase, Tgk Muhibuddin AR mengatakan, “Dalam upaya untuk memperkuat sistem dan legitimasi pemerintahan gampong di Kota Lhokseumawe dan mendukung penyelenggaraan pembangunan di Aceh maka Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Pase menginisiasi lahirnya Draft Qanun kota Lhokseumawe tentang Pemerintahan Gampong (20/10).
“JKMA Pase melaksanakan lokakarya penyusunan Draft Qanun Kota Lhokseumawe tentang pemerintahan gampong di Aula Gedung Hasby Assiddiqy Mon Geudong (20/10). Sebelumnya telah dilaksanakan Focus Group Discussion pada (Selasa, 11/10) di Sekretariat JKMA Pase untuk menggali masukan materi subtansi yang akan dimasukkan dalam draft Qanun pemerintahan Gampong tersebut” kata Tgk Muhibuddin. selengkapnya »
31 Mar 12:48 AM |
Kategori:
Opini |
Dilihat: 41 kali |
Komentar (0)
Rumah Aceh, rumah panggung berbahan kayu, salah satu rumah tradisional di Nusantara yang mampu tetap berdiri saat gempa dan tsunami melanda wilayah Aceh 26 Desember 2004 lalu. Satu benang merah yang dapat dirunut dari beberapa peristiwa bencana di daerah yang lain yaitu ketahanan terhadap bencana alam. Contohnya Oma Hada di Nias dan joglo di Yogyakarta dan Jawa Tengah (saat gempa 27 Mei 2006).
Rumoh Aceh masih banyak ditinggali di daerah pesisir maupun pedalaman. Namun saat ini semakin jarang bisa ditemui karena dinamika kehidupan masyarakat dan bencana besar 26 Desember 2004 lalu. Padahal tipologi rumoh Aceh ini banyak sepadan dengan banyaknya suku bangsa di daerah Aceh yaitu suku bangsa Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Singkil, dan Simeulu. Suku bangsa Aceh yang paling banyak jumlahnya yaitu di daerah Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat, serta sebagian Aceh Timur dan Aceh Selatan. Sedangkan suku bangsa Gayo hanya mendiami Aceh Tengah saja. Oleh karena itu ada kemiripan pada rumoh Aceh di beberapa wilayah yang didiami sesama suku bangsa Aceh. selengkapnya »
29 Feb 12:52 AM |
Kategori:
News Corner |
Dilihat: 64 kali |
Komentar (0)

Alamat Baru JKMA Aceh:
Jl. Tgk. Chik Dipineung Raya no 65
Kp. Pineung, Syiah Kuala, Banda Aceh 23116
Telepon: 0651 7552052 Fax: 0651 7552051
Email: jkma.aceh@gmail.com
Website: www.jkma-aceh.org
18 Feb 10:13 AM |
Kategori:
Pernak-Pernik |
Dilihat: 70 kali |
Komentar (0)
18 Feb 3:11 AM |
Kategori:
Resensi |
Dilihat: 112 kali |
Komentar (0)
Secara historis disebutkan bahwa Aceh dulunya berbentuk kerajaan, berdaulat, dan tidak tunduk apalagi takluk di bawah kekuasaan asing. Beda dengan kini, Aceh hanya menjadi bagian dari sebuah wilayah yang disebut provinsi. Aceh kini adalah Aceh yang takluk pada pemerintahan sentralistik, meski dulu ia sebagai daerah yang berdaulat dengan sendirinya.
Mencermati hasil penelitian Denys Lombard, membuka kembali cakrawala masyarakat pembaca terhadap Aceh masa lalu sembari menikmati Aceh masa kini. Buku setebal 408 halaman itu merupakan disertasi ilmiah Lombard terhadap sejarah Aceh sepanjang zaman Sultan Iskandar Muda. Asumsi awal bahwa Aceh masa Iskandar Muda adalah sebuah kuasa berdaulat dan makmur menjadikan Lombard tertarik mengadakan penelitian tentang Aceh. selengkapnya »
18 Feb 3:07 AM |
Kategori:
Cerita Gampong |
Dilihat: 119 kali |
Komentar (0)
Aceh Tamiang tahun 2006 dikejutkan dengan banjir bandang yang menghentakkan seluruh masyarakat adat dan merusak infrastruktur pemerintah.
Aceh Tamiang tergolong kabupaten yang rawan bencana banjir disebabkan pembuangan air dari Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Tenggara. Dari hasil PRA (participatory rural appraisal), Aceh Tamiang mulai banjir besar dari tahun 1896, 1906, 1929, 1973, 1975, 1985, 1995. Banjir terbesar pada tahun 2006. Musibah banjir di daerah ini kerap terjadi tahunan. selengkapnya »