meuhaba - dalupa 2 acehjayakab.go.id edit

Aceh kaya dengan aneka kesenian, mulai seni lisan, seni tulis, sampai seni pertunjukan (teater). Seni lisan yang terkenal di Aceh dan masih hidup sampai sekarang antara lain hikayat, hi’em, pantôn, hadih maja. Seni tulis yang kian berkembang di Aceh kini sudah mengikuti perkembangan sastra kontemporer. Banyak syair dan hikayat yang sekarang mulai ditulis juga.

Adapun seni pertunjukan tradisional Aceh bisa dilihat berdasarkan zona. Zona timur dan utara terkenal dengan kesenian mop-mop dan sandiwara. Zona barat dan selatan terkenal dengan dalupa. Tentu saja seni tradisional yang dimaksudkan di sini lebih kepada seni pertunjukan teater, selain seni pertunjukan tari yang kaya dan beragam.

Dalupa merupakan jenis teater tradisional yang hidup di pantai barat Aceh. Sejauh ini, ada anggapan Dalupa berasal dari Aceh Jaya, tetapi populer dan berkembang di Aceh Barat. Disebut bernama Dalupa atau si Dalupa karena orang yang memerankannya mengenakan pakaian dan topeng sehingga terkesan menyamar. Dalam arti sederhana, dalupa bermakna ‘samaran’ atau ‘menyamar’.

Memang, orang yang memerankan si Dalupa selalu menutupi seluruh tubuhnya dengan pakaian dari lidi ijuk dan lidi daun enau. Mulai kepala hingga kaki si Dalupa ditutupi lidi daun enau yang sudah dikemas sehingga terkesan seperti bulu yang amat tebal. Sekilas, Dalupa seumpama imitasi orangutan yang berbulu lebat. Wajah si Dalupa pun tertutup topeng.

Meskipun mirip orangutan, disebut permainan ini dengan “topeng orangutan” belum tentu juga; dikatakan badut juga belum bisa. Artinya, Dalupa ya Dalupa, seorang tokoh dalam teater tradisi di pantai barat Aceh.

meuhaba - DSC_0241

Muasal mula

Sulit melacak asal mula teater tradisi khas Aceh pantai barat ini. Meskipun banyak orang mengatakan Dalupa berasal dari Aceh Jaya, tetapi teater ini populer di Aceh Barat. Tahun berapa mulai munculnya pun belum bisa dideteksi dengan tepat. Snouck ‘si ulama Belanda’ itu sudah menulis soal Dalupa ini sejak lama.

“…Pada malam bulan purnama, anak lekaki remaja kadang-kadang menyaru untuk menakuti teman-temannya. Membuat mukanya tak dapat dikenali dan tubuhnya dibalut pakaian aneh, disebut dalupa…” (lihat: Asal Usul Aceh Barat, 2015:454).

Bagi masyarakat Aceh Jaya, Dalupa merujuk pada sesosok makhluk hidup di dunia nyata, tapi bukan manusia. Manusia pun dikatakan tidak mampu melihat secara kasat mata sosok sebenarnya si Dalupa. Alkisah, muasal Dalupa menurut orang Aceh Jaya bermula dari perjalanan seorang teungku. Sahdan, namanya Teungku Sabé.

Suatu malam, Teungku Sabé yang tinggal di Panggong kala itu berjalan melintasi sebatang pohon kayu besar. Tiba-tiba ada yang memberikan salam. Teungku Sabé menjawab salam tersebut sembari menoleh ke belakang. Namun, tak ada sesiapa di belakang. “Saya di samping Anda,” kata suara itu lagi. “Jika Anda mau melihat saya, tolong ambilkan kupiah kakek saya di pohon besar itu dan pakailah.”

Teungku Sabé mematuhi suara tersebut. Ia dekati pohon yang ditunjuk. Di dekat pohon itu, Teungku Sabé melihat ada bundelan berbentuk peci. Setelah dekat, yakinlah ia peci tersebut dirajut dari lidi ijuk atau ‘pureh jok’. Ia pakai peci tersebut, lantas melihat ke arah asal suara tadi. Ketika itu pula, Teungku Sabé melihat sesosok makhluk tinggi besar. Sosok itu pun mengaku ingin menjadi pengawal Teungku Sabé. Dari kisah ini, insan seni di Aceh Jaya sepakat memainkan teater dalupa diiringi rapi debus.

Di Aceh Barat

Di Bumi Teuku Umar, teater Dalupa kian populer di tahun 1980-an. Sebelumnya, Dalupa hanya dimainkan dalam bentuk tarian. Si Dalupa baru kembali dalam wujud teater pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 1988. Ketika itu, bupati yang sedang menjabat mengutus seorang seniman Aceh Barat, Z Wazir, untuk meneliti tentang Dalupa. Wazir mengemas Dalupa ke bentuk teater berdasarkan hasil penelitiannya di Suak Trieng Woyla.

Sedikit berbeda dengan cerita di Aceh Jaya, si Dalupa ala Aceh Barat bermula dari kisah dua orang anak pengembala kerbau. Tiba-tiba kerbau mereka hilang entah kemana sehingga membuat ayahnya murka. Si anak diusir sampai mereka bisa menemukan kembali kerbau yang hilang tersebut. Keduanya masuk hutan, tidak kembali lagi. Tubuh mereka ditumbuhi bulu-bulu yang lebat seperti orangutan.

Alkisah, Aceh kedatangan suku dari India. Tersebutlah nama Sidar Singh yang berlayar ke Aceh Barat. Ia masuk hutan Woyla. Di saat itulah ia bertemu dengan dua sosok makhluk menyerupai manusia, tetapi tubuh keduanya sudah ditumbuhi bulu-bulu sangat lebat dan pekat. Ketika ditanya oleh Sidar dan orang kampung yang turut dalam rombongan Sidar, kedua makhluk itu tidak ingat apa-apa lagi. Masyarakat Aceh yang ikut rombongan Sidar kemudian sepakat menyebut keduanya si Da Lupa. Maknanya kira-kira ‘si kakak lupa adik’ dan ‘si adik lupa kakak’. Hal ini diambil dari kata Da dalam bahasa Aceh yang artinya ‘kakak’.

Sebelumnya, sempat terjadi perkelahian antara Sidar dan dua makhluk itu. Sidar yang sedang menyiarkan syiar Islam di sana kala itu berhasil memasukkan pesan-pesan agama dalam hati dan pemikiran Dalupa. Ketika si Dalupa sudah sadar kembali seperti manusia biasa, ia dikawinkan dengan dua orang anak petani dan akhirnya memiliki keturunan.

Singkat kisah, Sidar dari India yang hebat bertarung itu dielu-elukan masyarakat sebagai Datok Rimba, karena kuat bertarung dalam rimba. Oleh sebab itu, dalam pementasan teater Dalupa di Aceh Barat, ada juga pemeran Datok Rimba, selain pemeran si Dalupa.

[Herman RN/disarikan dari Asal Usul Aceh Barat, 2015]

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XVII, Mei 2016