2014-12-18_tuhoe16

Tuhoe-16.pdf (294 downloads)

Kondisi Hutan Adat Aceh

Luas kawasan hutan di Provinsi Aceh sesuai dengan keputusan Menteri Kehutanan No.170/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000, hutan di Aceh termasuk kawasan perairannya seluas 3.549.813 ha, dengan 3.335.713 hektar di antaranya adalah daratan. Seluas 60,22% dari luas seluruh daratan provinsi, kawasan hutan ini terdiri atas kawasan hutan konservasi, hutan lindung dan kawasan hutan produksi.

Kehidupan masyarakat adat Aceh telah lama hidup dari dan bersama hutan, di mana mereka juga memiliki kearifan lokal dalam memperlakukan hutan, bahkan dalam pembagian ruang tata kelola, alih fungsi hutan, pengambilan hasil hutan.

Tradisi pengelolaan hutan yang arif bijaksana telah dipraktekkan secara turun temurun oleh masyarakat adat di Aceh. Hal ini diselenggarakan melalui lembaga adat uteun yang dipimpin oleh panglima uteun. Panglima uteun merupakan unsur pemerintahan mukim yang bertanggung jawab kepada imum mukim.

Sumber daya hutan adat sangat bernilai sebagai sistem penyangga kehidupan masyarakat adat, khususnya sebagai pengendali banjir dan juga sebagai penyedia sumber air masyarakat untuk kegiatan pertanian dan perkebunan. Selain itu, dapat juga dipetik hasil hutan kayu dan non-kayu, yang sejak lama diusahakan oleh masyarakat secara arif dan berkesinambungan.

Namun, sekarang banyak kawasan hutan adat dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan luar maupun dalam daerah yang berkolaborasi dengan pihak-pihak perusahaan besar. Akibatnya, fungsi hutan tersebut sempat mengganggu ketentraman sosial ekonomi budaya masyarakat adat.

Melalui tuhoe edisi kali ini, kami mencoba mengajak anda melihat bagaimana fenomena kondisi hutan adat Aceh saat ini, agar kita mengerti, paham dan bertindak untuk memberikan ruang bagi masyarakat adat dalam mengelola dan memanfatkan hutan secara arif dan bijaksana.