Tuhoe-12.pdf (154 downloads)

Napas Dunia

SEJAK zaman dahulu, hutan sangat menentukan kemakmuran masyarakat suatu tempat. Hal ini bukan hanya terkait hasil hutan, tapi keberadaan hutan itu sendiri yang dapat melindungi masyarakat dari bencana alam semisal banjir.

Aceh misalnya, keberadaan hutan di sini ternyata tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Aceh semata. Bahkan, dunia bernapas dengan hutan Aceh.

Ironis, tatkala pemimpin nanggroe menyadari hal ini, lalu ia mencoba mengambil manfaat dengan menjualnya ke negara-negara luar. Alasannya, demi kemaslahatan masyarakat sekitar hutan. Jika memang demi masyarakat, mengapa masyarakat di sekitar hutan sama sekali tidak dilibatkan dalam ide tersebut? Imum mukim sebagai tetua dalam lembaga adat tingkat bawah yang menjadi kepercayaan masyarakat pun tidak diindahkan oleh pemimpin.

Hal ini menjadi nyata dalam aksi para imum mukim pada forum pertemuan gubernur sedunia yang digelar di Hermes Palace Hotel pertengahan Mei lalu. Mulanya imum mukim diundangan untuk terlibat serta pada forum yang diberi nama Governor’s Climate and Forest (GCF) tersebut. Akan tetapi, pada hari “H”, skenario pemimpin nanggroe bermain. Para imum mukim tersebut hanya ditempatkan di side event, sedangkan pertemuan para gubernur sedunia di main event.

Apa lagi yang dapat diungkapkan kalau bukan pelecehan terhadap pemangku adat jika sudah begini? Manakala seorang pemimpin yang dipercayai oleh rakyat berani menipu tetua masyarakatnya sendiri, apa yang dapat dikatakan oleh dunia, selain kecurigaan ada praktek terselubung yang sedang dimainkan?

Maka itu, tak salah pertemuan tersebut bukan hanya mendapat protes dari kalangan mukim, tetapi juga aksi demo dari sejumlah elemen sipil, yang peduli terhadap hutan Aceh.

Dulu, rakyat Aceh, terutama sekali imum mukim, ditipu oleh UU pemerintah pusat (UU No.5/1979) tentang penyamaan nama “desa” untuk gampông dan mukim. Kali ini, para imum mukim ditipu oleh kepala daerahnya sendiri, yang tiga tahun lalu mereka pilih sendiri lewat jalur independen. Agaknya, soal penipuan kepada kalangan bawah masih tetap dimuluskan di negeri ini. Di sisi lain, para pemimpin punya mimpi yang sama dengan rakyat, yakni menyejahterakan kehidupan rakyat.

Hom pim pa, itu yang dapat dikatakan redaksi ini melihat semuanya. Kadang ada yang berpakaian sufi tatkala siang, kadang mereka berkostum pencuri manakala gelap. Sedangkan di dinding-dinding, topeng-topeng bergelantungan. Maka hom pim pa akan menjadi hom hai, kata orang Aceh. Di lain sisi, kita selalu ingin mengerti, paham, dan tetap bertindak seperti motonya tuhoe.