Tuhoe-11.pdf (179 downloads)

Mimpi

BERHARAP sama dengan berasa. Maka asa dalam konteks ini adalah sesuatu yang menjadi impian, harapan, cita-cita.

Setiap kita dipastikan memiliki impian dan cita-cita yang ia selalu kita harapkan tercapai. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan. Tak ada larangan untuk bermimpi dan memimpikan cita-cita tersebut. Akan tetapi, mimpi tanpa disertai aksi adalah basi. Aksi tanpa memiliki mimpi yang jelas akan merugi. Maka itu, memiliki mimpi dan aksi sehingga menimbulkan reaksi yang berakibat adanya visi-misi sebagai akan menjadikan kita pada pencapaian mimpi sebenarnya-benarnya mimpi. Ia harapan yang mesti dan pasti.

Hal inilah sebenarnya yang sedang dialami oleh masyarakat adat Aceh secara umum. Ada banyak mimpi masyarakat Aceh terhadap kotanya, mukimnya, atau gampôngnya. Mimpi-mimpi itu di antaranya sudah tertulis dalam undang-undang bahkan teraplikasi pula pada qanun. Sudah sewajarnyalah masyarakat kemudian memunculkan aksi manakala mimpi itu hanya dijadikan ‘semu’ oleh si pemilik kuasa negara.

Selain itu, penguasa pada tingkat daerah pun tak mau kalah merebut mimpi-mimpi masyarakat. Mereka adalah yang memiliki modal untuk melakukan kekuasaan atas apa yang menjadi hak masyarakat sehingga punya kelebihan dalam merebut mimpi masyarakat. Dengan kuasa dan kekuasaan, mereka telah merebut atau kasarnya merampas mimpi-mipim masyarakat. Hal ini terbukti dalam pengelolaan lahan/tanah terdapat hasil alam.

Tak hanya hasil alam, tanah ulayat pun jadi milik penguasa dengan uangnya. Tak terkecuali pula rumah-rumah penduduk seakan menjadi kekuasaan penguasa. Hal ini seperti di alami sejumlah masyarakat di Aceh Jaya.

Tampak kontras bahwa masyarakat sedang saling kejar-kejaran mimpi bersama para penguasa. Sayangnya, penguasa memiliki alat mengejar mimpi itu, yakni uang. Sedangkan masyarakat adat?

Oleh karena itu, membangun mimpi secara bersama-sama agar dapat tercapai adalah sebuah kebutuhan. Masyarakat mesti bersatu melawan kebathilan, kekuasaan semena-mena. Mimpi masyarakat bukan sekedar di atas kertas yang bernama undang-undang atau qanun. Apa yang tertulis di sana mesti terealisasi. Ini adalah mimpi bersama.

Para penguasa mesti memahami bahwa mimpi masyarakat adalah mimpi bersama. Maka apa yang dilakukan oleh masyarakat dalam menggapai mimpinya demi menjalani hidup ini tak boleh dihalang-halangi oleh penguasa. Tanpa masyarakat, penguasa takkan pernah ada. Penguasa mesti tahu, paham, dan mengerti apa yang diderita masyarakatnya selama ini. Bagaimana masyarakat hidup dalam kekangan uang para ‘beruang’, mesti dibantu oleh para pejabat pemerintahan. Hal inilah mimpi tuhoe: paham, mengerti, untuk selanjutnya bertindak!