Tuhoe-10.pdf (138 downloads)

KÖNG

Bergulung-gulung gelombang menerjang, pergi dan kembali datang, tetapi karang tak terlentang. Berdiri kokoh menjulang, menjadi pancang tengadah puncak ke sumber energi alam. Köng, demikian tamsilan buat si karang.

Adalah keyakinan, teguh pendirian, dan kebersamaan bersama batu-batu lalu membentuk cecabang karang sehingga disebut banyak orang sebagai “si batu karang” yang tak goyang dilintang-pukang oleh beragam gelombang pasang. Maka menjadi saran kekuhuan adat dan budaya tak lekang manakala rakyat berpegang tangan, sesama erat memangku badan, yang cidera dipapah, yang patah diberi tongkat, yang cacat tak lupa diobat. Köng-lah ia menjadi sebuah kebiasaan yang dirawat kalau perlu diberi inap dan dilestarikan dalam masyarakat.

Köng-nya adat jika pemerintah dan rakyat tak putus sekat. Itu pulalah yang terlihat pada 19-20 Oktober berselang di Hotel Regina Banda Aceh. Pemerintah Aceh dan JKMA Aceh membuat sebuah helat bagi pemangku-pemangku adat dari gampông-gampông untuk membentuk pakat dalam agenda Rapat Kerja Imum Mukim se-Aceh di tahun ini. Dalam itu rapat diputuskan kata sepakat bahwa mukim-mukim mesti tak sekedar diberi label pangkat tetapi perut dan mulut tak dengan apa disumbat sedangkan periuk masih kosong melompong pekat. Maka dari itu, ke depan oleh para pemangku jabatan di pemerintahan akan memberikan luang pada para imum mukim untuk menetralkan kembali segala sendi adat di gampông-gampông yang menjadi wilayah imum mukim tersebut, tentu tak lupa dengan memberi peluang, hak, kewajiban, dan wewenang imum mukim tersebut.

Kita masih dan terus memanjat harap agar kata-kata putusan dalam rapat hari itu tak sekedar mengulang janji seperti masa lalu. Kekukuhan (köng) adat dan budaya kita memang mesti diberi tempat dan kepada pemangku jabat harus diberi luang mengerjakan apa yang mesti dikerjakan, membicarakan dengan rakyat apa yang mesti dibicarakan, membuat mufakat apa yang harus disepakatkan.

Melambung harap pula kepada parlemen baru yang kabarnya dipilih langsung oleh rakyat, menjadi niat bahwa keutuhan adat kita memang mesti kembali hidup dan berjalan seperti yang pernah tercipta di masa jaya Aceh perkasa darussalam bernama.

Mungkin sudah saatnya mewujudkan mimpi sehingga aksi dan reaksi memang mesti bersegara diberi peri. Rakyat tak lagi sibuk menjadi para pengupat, sedangkan pejabat sibuk mempertimbangkan pangkat. Kalau boleh diberi maja sebagai ibarat, ialah sama seperti geuchik lagèe boh pik hana sagoe, tamsé waki lagèe keubiri gatai asoe, ban rakyat udah-uduh lalèe keudroe. Kelaziman serupa ini mesti diberi pada si lupa agar tak lagi menjadi sebuah kelaziman kerja.

Di depan, pintu menuju ke hariban kejayaan mulai merenggang, tak perlu palu atau senapan. Memberi peluang pada kata lalu membentuk pakat bersama rakyat, niscaya köng adat menjadi nyata. Sudah saatnya kita mengajukan ide, gagasan, saran, dan masukan serta menerimanya pula dari semua pihak, mulai pemangku jabat, keamanan rakyat, pula masyarakat mesti diberi sempat sehingga ke depan kita menjadi manusia berbudaya dan beradat dengan sehat. Sebuah keniscayaan bahwa jaya rakyat oleh sebab penguasa berbaik sikap, sempurna negeri oleh karena penghuni tak lalai dengan kesibukan sendiri. Semoga kita benar-benar paham, mengerti, dan dapat bertindak menuju pencapaian mimpi; salam tuhoe!