Tuhoe-07.pdf (152 downloads)

Puasa dari Kezaliman

Ratusan tahun silam, sahibul kisah mengatakan manusia dan segenap isi alam adalah teman. Manusia berteman dengan hewan, juga dengan tumbuh-tumbuhan. Pada masa Nabi Sulaiman disebutkan bahwa semua makhluk hidup dapat bicara sehingga dalam sebuah cerita dikatakan, tatkala manusia hendak menebang pohon semisal pohon asam, mesti meminta izin terlebih dahulu kepada pohon tersebut. Demikian halnya dengan hewan, saat hendak disembelih, harus ditanya dahulu keikhlasan dan kerelaan dia untuk kehilangan nyawanya.

Tentu saja perihal ini membuat kehidupan manusia kala itu sedikit terkekang (jika benar ini terjadi). Bayangkan saja, mau cabai untuk menggulai harus minta izin dahulu, mau kelapa mesti minta izin dahulu, mau makan enak juga harus minta izin kepada si hewan yang akan disembelih. Entah karena itu, kebijakan Allah Yang Maha Bijaksana mengambil “ilmu ucap” pada hewan dan tumbuh-tumbuhan sehingga manusia kemudian dengan leluasa dapat menggunakan kedua jenis makhluk hidup tersebut untuk kehidupan manusia.

Kendati sudah demikian adanya, manusia masa silam boleh dikatakan lebih beradab dan tahu “hukum” alam. Mereka mengerti jika menebang pohon akan mendatangkan bencana, jika memburu hewan buas akan mendapat petaka. Namun, sekarang hal itu terkesan mulai diabaikan. Penebangan pohon dan pemburuan secara liar semakin meningkat tajam.

Akibatnya, banjir datang, satwa liar mulai masuk pemukiman penduduk dan menghancurkan pemukiman tersebut. Banyak kasus kita temui tentang ini, baik dari cerita orang-orang kampung maupun dari media massa. Terkesan saat ini, manusia mulai menjadi alam.

Berharap pada kebijakan adalah sebuah keniscayaan bagi masyarakat biasa. Namun demikian, semua mesti dimulai dari diri sendiri, dari hati sendiri. Kita berharap manusia-manusia yang gemar menebang hutan dan memburu satwa liar itu masih memiliki sejumput hati nurani untuk berpikir bahwa kita hidup di alam Tuhan, bahwa kita semua adalah ciptaannya, bahwa hukum selalu kausalitas (timbal balik).

Melalui tuhoe edisi kali ini, kami mencoba mengajak Anda melihat sedikit fenomena alam di hutan kita. “Hutan Aceh” sedang menggeliat kepanasan, itu yang barangkali dapat kami utarakan di sini. Ya, hanya sedikit pemikiran, selebihnya boleh didapati di tempat lain, di tivi dan media cetak.

Semoga bencana kali ini dan yang sudah-sudah menjadi pemikiran dan perenungan bagi kita semua untuk terus memahami alam dan segala isinya. Seperti kata tuhoe, kita memang harus mengerti, paham, dan bertindak. Akhirnya, kami mengucapkan selamat puasa, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi hendaknya juga puasa dari kezaliman penebangan hutan, hingga suatu saat kita memang benar-benar berhari raya dari hasil alam yang kita punya, tentunya sesuai hukum dan ridha dari-Nya. Salam!