Tuhoe-06.pdf (176 downloads)

Karena

Karena damai, orang-orang yang dahulu lari ke gunung sudah dapat kembali ke kampung halamannya. Jika dahulu mereka saat hendak bertemu istri sendiri mesti sembunyi-sembunyi, sekarang tidak sukar lagi. Saban malam mereka dapat saling rebahan bersama anak dan istri di ruang tidur atau ruang televisi. Mereka dapat bersama karena cinta.

Karena damai, senjata-senjata yang dahulu menyerikan jantung masyarakat Aceh dipotong. Pihak bertikai dengan suka rela menyerahkan senjatanya untuk dileburkan. Karena damai, Aceh memperoleh kewenangan mengatur pemerintahannya sendiri, bahkan memiliki undang-undang pemerintahan sendiri (UU PA). Aceh pun dapat mengeloloa hasil alamnya dengan kebijakan sendiri.

Karena damai, Aceh kembali menjadi contoh bagi dunia luar, misalkan tentang pemilihan kepala daerah secara langsung, memiliki partai lokal sendiri. Karena damailah Aceh punya gebrakan-gebrakan yang membuat bangsa-bangsa asing semakin takjub. Namun, ureueng Aceh saat ini tidak mesti hanyut dengan semua itu. Karena damai, kita mesti berpikir.

Damai datang ke Aceh karena cinta. Cinta para penguasa, cinta para pemangkul senjata. Karena cinta mereka kepada Aceh dan masyarakatnya, mereka mau menghanguskan senjata. Karena cinta pula rakyat Aceh memilih pimpinan dari mantan kombatan. Nyaris seluruh daerah Aceh dipimpin dari kalangan independen, yang semua mereka sebagian besar adalah kombatan masa konflik. Cintalah yang membuat mereka seperti itu.

Demikian halnya dengan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, mereka dipilih oleh rakyat Aceh karena cinta. Cinta rakyat Acehlah, membuat seorang ‘Raja Nanggroe” kembali hadir di tanah ini. Dilengkapi pakaian adat Aceh, seperti jas hitam dan sarung warna-warni, ditambah rencong terselip di pinggang, ‘Raja Nanggroe’ menggelar perhelatan Aceh serantau dalam agenda Diwana Cakradonya.

Kehadiran raja nanggroe dan ulee balangnya pun memakai kata “karena”, yakni karena cinta. Semua berhal pada kata itu. Damai tiba karena cinta. Cinta ada karena damai yang diinginkan semua. Karena itu, kita mesti menjaganya. Merawat perdamaian adalah kerja berat yang mesti dipikul bersama, baik masyarakat maupun penguasa. Masyarakat biasa mesti sadar dengan segala posisi yang ada, tidak menuntut terlalu banyak, apalagi sampai minta merdeka wilayah. Penguasa juga demikian hendaknya, tidak mengambil kebijakan sesuka saja. Mesti ada sebuah musyawarah untuk mencapai kata mufakat. Dalam kearifan ureueng Aceh sendiri dikatakan bahwa “Paléh ureueng hana mufakat, ‘oh ka meukarat geupeudong dawa. Ladôm hue u cöt ladôm hue u lhôk, nyang bungkôk ureung nyang mat punca.”

Kembali pada kata “karena”. Karena itulah, imum mukim se-Aceh bertatap muka dengan pemimpinnya, si ‘Raja Nanggroe’ dan wakil, demi menjunjung tinggi musyawarah. Karena damailah, mereka—para imum mukim dan raja nanggroe—dapat berkumpul bersama. Karena cinta yang membawa mereka ke sana, ke kedamaian.